
Mendadak suasana di ruangan itu menjadi hening, baik mama Sintya dan juga anak-anaknya terdiam saat mendengar apa yang papa Adnan katakan. Laki-laki paruh baya itu sendiri juga menundukkan kepalanya. Rasa bersalah hinggap di relung hatinya membuat mata kian basah.
Setelah sekian detik, Abra dan Soni mendekat ke ranjang. Saling pandang untuk beberapa saat lalu kembali melihat ke arah papa Adnan.
"Bagaimana kabar Papa?"
Satu kalimat lolos dari mulut Abra yang membuat hati papa Adnan kian terluka. Ingatan demi ingatan menyakitkan yang dia lakukan berputar-putar dalam kepalanya. Rasa bersalah terus mengalir ke seluruh tubuh, hingga membuat dada kian terasa sesak.
"Kenapa Papa menangis? Apa ada yang sakit?"
Tangan Abra terulur mengusap bahu sang papa, sementara Soni hanya diam di sampingnya. Rasa sakit yang Soni rasakan masih sangat terasa, hingga membuatnya tidak tahu harus mengatakan apa dan bereaksi bagaimana.
"Maaf, maafkan papa. Sungguh papa sudah sangat jahat sekali pada kalian semua."
Tangisan papa Adnan pecah membuat semua orang tersentak kaget. Suasana berubah menjadi pilu, bahkan Bobi yang tidak tahu apa-apa juga tampak sedih ketika semuanya merasa sedih.
"Orang tua seharusnya mendukung dan memberikam yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi aku. Aku malah melakukan kebalikannya. Aku menyiksa bahkan memaksa anak-anakku hingga mereka menderita."
Ya, papa Adnan sudah sadar atas kesalahan yang telah dia lakukan. Orang tua memang berhak untuk menentukam hidup anak-anak mereka, tetapi tidak dengan memaksakan apa yang tidak diinginkan anak-anaknya. Apalagi perihal cinta. Orang tua tidak bisa memaksakan harus pada siapa anak-anak mereka jatuh cinta, karena hati sudah memilih sendiri ke mana tempat akan berlabuh.
"Apa papa menyesalinya?"
Setelah sekian lama diam, akhirnya Soni buka suara. Memang papa Adnan hanya berselisih paham dengan Abra, tetapi Sonilah yang menjadi garda terdepan yang langsung berhadapan dengan papanya. Itu sebabnya hati Soni terasa sangat sakit, karena berulang kali dia bertengkar dengan papanya hanya untuk membela sang adik.
"Tentu. Papa sangat menyesalinya, seumur hidup mungkin papa tidak akan pernah memaaafkan diri papa sendiri."
Sakit memang, tetapi mereka tidak boleh jatuh terlalu lama dalam pusara kebencian dan juga dendam. Apa yang terjadi tidak bisa diubah lagi, tetapi di masa depan semuanya pasti akan menjadi bahan pembelajaran.
Mama Sintya beranjak mendekati kedua putranya. Tangannya menggenggam tangan mereka membuat Abra dan Soni menoleh seketika. Dia tersenyum hangat, seolah sedang mencoba untuk menghangatkan suasana sedih yang tercipta.
__ADS_1
"Semua sudah berlalu, tidak bisakah kita melupakan semuanya?"
Kepala papa Adnan terangkat dan melihat ke arah sang istri. Rasa bersalah yang sangat besar kembali menghantamnya. Setelah semua yang dia lakulan, wanita itu bahkan rela mengurusnya dikala sakit seperti ini. Bukankah dia sangat beruntung memiliki istri yang baik dan shaleh sepertinya?
"Tentu saja, Ma. Kami sudah memaafkan semua kesalahan papa, jadi kini saatnya papa memaafkan diri papa sendiri. Berdamailah dengan semua itu."
Sungguh hati papa Adnan tersentuh saat mendengarnya. Dia merengkuh tubuh kedua putranya dengan terisak pilu.
"Aku sungguh beruntung punya anak-anak seperti kalian. Sungguh, aku sangat tidak pantas menjadi ayah untuk kalian."
Akhirnya semua orang ikut menangis. Apalagi saat papa Adnan ingin bersimpuh di kaki mereka. Tentu Abra dan Soni tidak akan membiarkannya, biar bagaimana pun. Papa Adnan tetap lah orang tua mereka, jika membuat kesalahan pun. Sudah seharusanya mereka memaafkannya.
Akhirnya mereka semua larut dalam kesedihan dan juga kebahagiaan yang tercampur jadi satu. Mereka saling memeluk dan meminta maaf untuk apa yang terjadi di masa lalu, dan berusaha untuk memperbaikinya di masa depan.
Bella yang berdiri tidak jauh dari mereka juga terlihat bahagia. Setelah semua yang terjadi, akhirnya mereka bisa kembali bersama dan memaafkan semua kesalahan.
Setelah keadaan kembali tenang, papa Adnan beralih melihat ke arah Bella. Dia meminta wanita itu untuk mendekat, karena bukan hanya keluarganya saja yang sudah dia sakiti melainkan wanita itu juga.
Bella menggelengkan kepalanya untuk membantah apa yang mertuanya itu katakan. "Setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, begitu juga dengan papa. Jadi papa tidak bersalah."
Papa Adnan mengusap perut Bella yang sepertinya sudah akan terjatuh, dan apa yang dia lakukan membuat semua orang tersenyum dengan hangat.
"Kau benar-benar wanita yang baik, Bella. Kami beruntung mendapatkan menantu sepertimu."
Bella menunduk malu. Wajahnya memerah sampai ke kedua telinganya membuat yang lain langsung tergelak. Lalu, tiba-tiba dia merasakan kontraksi diperutnya membuat semua orang terlonjak kaget.
"Ada apa? Apa perutmu sakit?" tanya Abra dengan khawatir, sementara Soni sudah berlalu pergi untuk memanggil Dokter.
"Y-ya. Perutku mengalami kontraksi."
__ADS_1
Mama Sintya mencoba untuk memberikan ketenangan pada Bella, dia tahu jika saat ini kemungkinan besar menantunya itu akan melahirkan.
Tidak berselang lama, Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan itu. Mereka segera memeriksa keadaan Bella yang tergeletak di atas sofa.
"Pasien akan segera melahirkan, dan sekarang sudah bukaan ke-4."
Semua orang terkejut saat mendengar ucapan Dokter, terutama Abra dan Bella sendiri. Para petugas medis lalu segera membawa Bella ke ruang persalinan dan diserahkan kepada Dokter kandungan.
Abra menemani dan berada di sisi Bella untuk menguatkannya, sementara yang lain turut serta menunggu mereka di depan ruangan bersalin.
Setelah pembukaan sempurna, akhirnya Dokter membimbing Bella untuk segera menarik napas panjang lalu menghembuskannya sambil mengejan kuat.
Suara kesakitan dan keringat sudah membanjiri tubuh Bella hingga membuat Abra meneteskan air mata. Sungguh berat perjuangan seorang ibu untuk melahirkan buah hatinya, dan sangat durhakalah bagi siapa saja yang berbuat buruk pada seorang ibu.
Setelah perjuangan panjang, akhinya suara tangisan bayi menggema di ruangan itu. Bahkan sampai ke daerah luar membuat semua orang yang sudah menunggu di depan ruangan, langsung bersorak senang dan mengucap syukur yang teramat dalam.
Abra mengecupi seluruh wajah Bella dengan curahan cinta yang berlimpah. "Terima kasih karna sudah berjuang untuk melahirkan anak kita, istriku. Kau benar-benar seorang ibu yang hebat."
Bella tersenyum hangat sambil membelai wajah Abra dengan lembut. "Terima kasih karena sudah berada di sisiku, suamiku. Aku bisa melewati semuanya karna dukungan darimu. Selamat, kita berdua sudah menjadi orang tua."
Kebahagiaan kini menyelimuti hati semua orang, apalagi saat Dokter memberikan bayi berjenis kelamin wanita itu pada kedua orang tuanya.
"Bayinya sangat lucu dan menggemaskan."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.