Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 51. Kepulangan Bobi.


__ADS_3

Setelah semua persiapan selesai, Bella dan juga mama Sintya segera berangkat ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, mereka terus bercerita panjang lebar dengan wajah bahagia. Saat ini sepertinya dewi kebahagiaan sedang bersama dengan mereka, karena semua hal baik terus berdatangan.


Tidak berselang lama, sampai lah mereka di rumah sakit tempat Bobi di rawat selama ini. Mereka berdua langsung saja masuk ke dalam tempat itu dan langsung menuju ruangan di mana Bobi berada.


"Kakak!" Bobi langsung berlari menghampiri Bella saat wanita itu baru saja masuk ke dalam ruangan, sontak Bella dan mama Sintya terkekut dengan apa yang dia lakukan.


"Sa-sayang, tolong jangan lari-lari seperti itu. Ingat kesehatanmu," tegur Bella, dia takuat kalau kesehatan Bobi kembali turun.


Bobi menggelengkan kepalanya dengan senyum cerah. "Kata Dokter enggak apa-apa, kok. Asal aku enggak kecapek'an."


Bella langsung melihat ke arah Rudi yang sedang berdiri di samping ranjang. "Apa itu benar, Dokter?"


Rudi tertawa sambil mendekati mereka semua. "Tentu saja. Tapi, jangan terlalu banyak bergerak dulu ya, Boy. Nanti kalau sudah sembuh total, baru boleh ngapain aja. Terserahmu."


Bobi langsung mengangguk paham. Dia yang selama hampir setahun berbaring di ranjang rumah sakit tentu saja sangat senang saat bisa berjalan kembali, rasa sesak dan bosan yang dirasakan kini langsung menguap begitu saja.


"Nah, kau dengarkan, Bobi," seru Bella yang langsung menadapat anggukan dari adiknya itu.


Bobi lalu beralih ke arah mama Sintya yang memandangnya dengan mata berkaca-kaca. "Mama, kenapa mama nangis?"


Mama Sintya langsung memeluk tubuh Bobi dengan erat. "Kau benar-benar anak yang hebat dan kuat, Nak. Tidak ada anak lain yang sekuat dan sehebat dirimu, kau bisa melawan segala rasa sakit yang ada ditubuh kecilmu ini. Mama benar-benar bangga sekali, Nak. Sangat bangga."


Bobi merasa sangat bahagia dengan apa yang mama Sintya katakan. Hatinya terasa hangat karena pelukan wanita paruh baya itu, sungguh dia benar-benar merasa seperti kembali punya orang tua.


Bella yang mendengar semua ucapan mama Sintya ikut terharu, dia juga merasa senang karena mertuanya itu sudah menganggap adiknya sebagai anak sendiri.

__ADS_1


Setelah itu, Bella segera mengurus semua administrasi Bobi sebelum mereka pulang. Dia juga ingin mengucapkan terima kasih pada semua petugas medis yang sudah merawat adiknya dengan baik, terutama Dokter Rudi.


Pada saat yang sama, Soni dan Abra sudah berada di sebuah ruangan privat yang ada di salah satu hotel. Kedua investor mereka sudah bergabung di tempat itu, hanya tinggal Kiano saja yang belum sampai.


"Tuan Kiano bilang, kerja sama ini akan langsung diambil alih oleh adiknya,"


"Wah, benarkah, Tuan?" tanya Soni dengan tidak percaya.


Lelaki itu mengangguk. "Tapi, Tuan Kiano ingin kalau Anda berdua melihat kemampuan adiknya dulu sebelum menjalin kerja sama. Itu sebabnya beliau tidak memberitahukannya pada Anda berdua, supaya Anda sendiri yang menilai dan mengambil keputusan."


Abra dan Soni menganggukkan kepala mereka secara bersamaan. "Tuan Kiano benar-benar sangat hebat dan juga profesional, dia bahkan memikirkan kami terlebih dulu sebelum keputusannya." Abra benar-benar kagum dengan sosok Kiano.


"Itu sudah tidak bisa diragukan lagi, Tuan. Dan katanya adik beliau ini juga sama hebatnya dengan tuan Kiano, walaupun dia perempuan dan sudah lama tidak terjun langsung dalam urusan perusahaan."


Abra dan Soni kembali menganggukkan kepala mereka. Kini mereka sangat penasaran dengan sosok wanita yang merupakan adik dari Kiano.


"Selamat pagi, Nona," ucap mereka semua secara bersamaan sambil menundukkan kepala, kecuali Soni yang sedang menatap wanita itu dengan tidak percaya.


Abra sendiri langsung menundukkan kepalanya sehingga tidak melihat wajah wanita itu, tetapi saat dia mendonggakkan kepalanya. Dia langsung terlonjak kaget saat melihat wajah yang sangat dia kenali.


"Selamat pagi juga, Tuan-tuan semua," balas Rita dengan senyum tipis diwajahnya. Dia berusaha untuk tetap tenang walaupun jantungnya sedang berdegup kencang.


Abra dan Soni mematung di tempat mereka dengan mulut terbuka saat melihat wanita itu, mereka benar-benar tidak percaya kalau wanita yang ada di hadapan mereka saat ini adalah Rita.


"Silahkan duduk, Nona Rita."

__ADS_1


Deg.


"Ri-Rita? Kau, kau adalah Rita?" tanya Soni dengan tidak percaya, bahkan jantungnya sudah akan melompat keluar dari rongga dadanya saat ini juga.


"Ah, lama tidak bertemu, Tuan Abra dan juga Tuan Soni." Rita menganggukkan kepalanya. "Saya senang bisa bertemu dengan Anda berdua lagi."


Abra menganggukkan kepalanya yang sudah bisa mengendalikan diri. "Benar. Lama tidak bertemu Rit- maksud saya Nona Rita. Saya benar-benar terkejut dengan pertemuan kita hari ini."


Rita mengerti dengan keterkejutan Abra, bahkan Soni saja sampai saat ini masih menatapnya dengan tajam.


Tidak mau semakin membuang waktu, akhirnya mereka mulai membahas proyek yang akan mereka jalankan. Semua orang tampak sangat bersemangat, tetapi tidak untuk Soni yang terus menatap Rita dengan tajam. Bahkan.


Setelah 2 jam berlalu, akhir pertemuan itu selesai juga. Di mana perusahaan Abra dan Soni akan segera di bangun agar proyek kerja sama itu dapat segera dilaksanakan.


Akhirnya semua urusan sudah selesai, dan Rita segera pamit untuk pergi dari tempat itu.


Namun, saat dia akan memasuki lift. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menari tubuhnya membuat Rita tersentak kaget.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan a-" Rita tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat kalau Soni lah yang menarik tubuhnya.




__ADS_1


Tbc .



__ADS_2