
Rita langsung tersedak oleh makanan yang ada dalam mulutnya saat mendengar ucapan Soni, dengan cepat dia mengambil air yang ada di atas meja dan langsung meminumnya hingga kandas tidak bersisa.
"Maaf, aku pasti membuatmu terkejut!"
Rita langsung melirik Soni dengan tajam. "Bukan cuma terkejut, aku bahkan sampai mau mati karna mulutmu itu!" Ingin sekali dia memukul kepala laki-laki yang ada di sampingnya saat ini juga.
Bella, Abra dan Mama Sintya yang sejak tadi mengintip di balik dinding tampak sedang menutup mulut mereka masing-masing. Ucapan Soni benar-benar sangat lucu dan menggelikan, hingga mereka terpaksa menutup mulut agar tidak tertawa.
"Ya Tuhan, Abra. Ada apa dengan kakakmu itu, kenapa dia jujur sekali?" Mama Sintya sampai mengusap air mata yang berhasil keluar karena ucapan Soni.
Bella dan Abra yang sudah tidak bisa menahan tawa mereka langsung menjauh dari tempat itu. "Hahahaha. Ya ampun, kakak. Hahahah." Tawa Abra lepas begitu saja saat sudah menjauh, begitu juga dengan Bella yang sampai memegangi perut karena terasa sakit.
"Bisa-bisanya kak Soni langsung to the poin gitu aja, ya pastilah Rita kaget." Bella menggeleng-gelengkan kepalanya dengan apa yang Soni lakukan.
Setelah selesai makan, Rita langsung pamit untuk pulang ke apartemennya. Dia merasa sangat canggung sekali karna perbuatan Soni, terutama pada mama Sintya.
"Huh, dasar! Aneh-aneh aja sih ucapannya, kan aku jadi merasa canggung sekali." Rita mengusap wajahnya dengan kasar, dia lalu melihat ke arah ranjang di mana ponselnya sedang bergetar.
"Kenapa dia meneleponku?" Rita mengernyitkan keningnya saat melihat siapa yang menelepon, dia lalu mengangkat panggilan itu setelah beberapa saat.
"Halo, Nona muda!" Terdengar suara seorang lelaki dari sebrang telpon.
"Ada apa?"
"Nona, tolong pulang ke rumah saat ini juga."
Rita tersenyum sinis mendengar ucapan laki-laki itu. "Kalau kau menelpon cuma mau ngomong kayak gitu, lebih baik aku matikan!"
"Tidak Nona, dengarkan saya dulu. Nyonya sedang sakit, beliau selalu menyebut nama Nona."
Rita terdiam, dia mencoba untuk memahami apa yang laki-laki itu katakan. "Maksudmu, Mama sedang sakit?"
"Benar, Nona. Nyonya sangat merindukan Nona,"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pulang."
Panggilan itu langsung terputus saat Rita mengiyakan apa yang laki-laki itu ucapkan, walaupun dia sangat malas sekali jika harus pulang ke rumah orangtuanya.
*
*
*
Keesokan harinya, Abra dan Soni segera berangkat ke sebuah restoran untuk bertemu dengan seseorang. Mereka menunggu di ruang VIP agar pertemuan itu terasa nyaman, dan tidak ada gangguan dari siapapun.
"Selamat datang, Tuan Amri." Abra dan Soni mempersilahkan lelaki paruh baya itu untuk duduk, dia adalah salah satu investor yang ingin di ajak kerja sama oleh mereka.
"Terima kasih atas undangan kalian ini, Tuan Soni dan Tuan Abra. Sudah lama saya tidak melihat Anda berdua."
Soni dan Abra tersenyum untuk menanggapi ucapan laki-laki paruh baya itu. "Benar, Tuan. Kami sedang ada kesibukan lain, itu sebabnya jarang sekali menampakkan diri." Soni terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Ah ya, saya paham. Pasti kesibukan yang Anda maksud adalah bisnis baru ini, kan?"
"Jika Anda berdua yang menawarkan semua ini, saya tidak perlu membacanya lagi, Tuan. Saya pasti akan menjadi investor untuk perusahaan kalian,"
"Ah, Anda terlalu memuji, Tuan. Kami juga harus tau bagaimana pendapat Anda, supaya bisnis ini bisa berhasil!"
Laki-laki paruh baya bernama Amri itu menganggukkan kepalanya, dia kemudian membaca semua berkas yang diberikan oleh Abra dan juga Soni.
Hari ini Abra dan Soni sudah bertemu dengan 5 orang investor, dan kelima orang itu bersedia untuk bekerja sama dalam bisnis yang akan segera mereka bangun.
"Syukurlah jika mereka bersedia untuk berinvestasi, Nak. Semoga usaha kalian lancar dan berhasil,"
"Aamiin." Abra, Soni, dan juga Bella mengaminkan ucapan Mama Sintya.
"Oh ya, tadi siang mama dan Bella buat banyak kue. Lalu Bella menjualnya secara online, dan kalian tau apa yang terjadi?"
__ADS_1
Abra dan Soni melihat Mama Sintya dengan penuh tanda tanya. "Memangnya ada apa, Ma? Apa ada masalah?"
Mama Sintya menggelengkan kepalanya. "Semua kue yang dijual itu, habis terjual."
"Benarkah?" tanya Abra dan Soni secara bersamaan.
"Tentu saja benar, kalau gak percaya tanya aja tuh sama menantu Mama!"
Soni dan Abra langsung melihat ke arah Bella yang sedang menganggukkan kepalanya. "Apa itu benar, Sayang?"
"Iya, semua kue nya habis. Memang enggak terlalu banyak sih, sekitar 35 an gitu,"
"Wah, itu udah luar biasa, Bel. Bagaimana kalau kita buka bisnis kue juga, ya hitung-hitung untuk kesibukanmu dan Ibu." Tiba-tiba Soni punya ide, mereka tidak boleh menyia-nyiakan bakat Mama Sintya yang pandai membuat bermacam-macam kue.
"Mama setuju, mama ingin sekali punya usaha sendiri." Mama Sintya terlihat sangat antusias, dadanya berdebar kencang saat membayangkan punya bisnis sendiri walaupun hanya kecil-kecilan saja.
"Tapi, apa tidak merepotkan Mama? Aku enggak mau kalau Mama sampai kelelahan, kan masih ada kami yang bisa bekerja." Abra terlihat tidak senang. Diusia Mamanya sekarang, seharusnya sudah duduk dengan nyaman dan bukannya sibuk bekerja.
"Kenapa kau khawatir? Mama tidak akan kelelahan, kan ada Bella yang selalu di samping mama!"
Bella mengenggam kedua tangan Abra sambil menganggukkan kepalanya. "Aku pasti akan menjaga Mama, Mama tidak akan banyak bekerja."
"Tapi Sayang, aku tidak tega dengan Mama!"
"Seperti keadaanmu dan Kak Soni, Mama pasti juga merasa tertekan. Biarkan Mama bergaul dengan banyak orang, dan melakukan sesuatu yang dia senangi."
Abra terdiam mendengar ucapan Bella. Selama ini dia tidak berpikir bagaimana perasaan Mamanya, dan mungkin saja apa yang dikatakan istrinya itu adalah benar.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.