Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 23. Terbakar Kenikmatan.


__ADS_3

Abra yang berpikir bahwa semua yang dia lakukan hanya di dalam mimpi, mendadak membuka kedua matanya saat merasakan gigitan yang sangat nyata.


Matanya membulat sempurna saat bertemu dengan mata Bella, di mana saat ini wanita itu tepat berada di atasnya.


Bella lalu melepaskan pagutan bibirnya saat tidak mendapat balasan dari Abra, untuk beberapa saat mereka saling pandang dengan debaran jantung seirama.


"a-apa yang kita lakukan?" tanya Abra dengan suara parau, dia mencoba untuk mendudukkan tubuhnya.


Bella hanya diam mendengar pertanyaan laki-laki itu, dia sedang berpikir bahwa tadi Abra pasti tidak sadar saat menciumnya.


"Bella? Apa, apa sudah terjadi sesuatu di antara kita?"


Bella menghembuskan napas kasar. "Tidak terjadi apapun, Tuan!" Dia beranjak turun dari ranjang dan berniat untuk keluar dari kamar itu.


Refleks Abra langsung menahan tangan Bella membuat wanita itu tidak jadi melangkah keluar. "Apa aku membuat kesalahan?"


Bella menggelengkan kepala, tetapi Abra sepertinya melihat kekecewaan dimata wanita itu saat ini.


"Tunggu, jangan-jangan yang aku rasakan tadi bukan mimpi?"


Ya, Abra bermimpi sedang melummat bibir seorang wanita. Tidak itu saja, dia bahkan bermain dengan dada wanita itu, mungkin saja semua itu nyata dan bukan mimpi.


"Maaf!"


Bella langsung menatap tajam ke arah Abra, entah apa yang sedang dia rasakan saat ini, yang pasti dadanya terasa sesak karna lelaki itu minta maaf untuk ciuman mereka.


"lupakan saja, Tuan! Anggap saja kita tidak melakukan-"


"Bukan itu, Bella!"

__ADS_1


Abra menarik tangan Bella sampai terjatuh di atas pangkuannya. "Aku minta maaf bukan karna sudah menciummu, tapi karna aku mengira itu hanya mimpi!"


Bella tercengang, tiba-tiba wajahnya merona karna rasa malu yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya.


"ka-kalau gitu aku juga minta maaf!" ucapnya dengan lirih, dia merasa bersalah karna dia dululah yang menggoda laki-laki itu.


Abra tersenyum tipis, dia mengusap bibir Bella dengan jempolnya membuat desiran aneh dalam dada mereka.


"Tuan, apa-"


"Sstt, biarkan seperti ini 5 menit saja!"


Abra memeluk tubuh Bella dengan erat, dia memejamkan matanya untuk menghilangkan desiran aneh yang menjalar diseluruh tubuh. Dia tau apa yang saat ini sedang dia rasakan, yaitu sebuah perasaan yang sama sekali tidak boleh ada dihatinya.


Bella sendiri ikut larut dalam pelukan itu, seumur hidupnya baru kali ini hatinya terasa hangat akan pelukan seorang lelaki.


Dia yang biasanya hanya melayani dan menjadi pemuas napsu lelaki, kini mulai merasa berdebar, seakan-akan ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan dalam perutnya.


Tidak tau siapa yang memulai lebih dulu, tapi yang pasti bibir mereka sudah saling berciuman. Kali ini mereka berdua dalam keadaan sama-sama sadar, dan tentu saja ciuman itu semakin lama semakin menuntut.


Tidak mau menunggu lebih lama lagi, Abra mulai membuka semua pakaiannya dan memposisikan asetnya di lembah Bella yang sudah banjir.


Jleb. "Aah, eemmh!"


Lama mereka bermain dengan berbagai gaya, Abra yang baru pertama kali melakukannya dalam keadaan sadar benar-benar dibakar gairah. Begitu juga dengan Bella, dia yang sudah lumayan lama tidak bercinta merasa hasratnya menggila.


"Tuan!


"panggil namaku!"

__ADS_1


"aku, aku mau keluar Abra!


"Bersama, Sayang!"


Napas keduanya saling memburu, dada mereka kembang kempis karna menghirup oksigen untuk organ pernapasan mereka.


Cup, Abra mengecup kening Bella dan menarik selimut untuk mereka. Kedua mata mereka lalu terpejam walaupun jam sudah menunjukkan pukul 5.30 pagi.


Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang wanita sedang berada dalam pelukan seorang lelaki. Mereka juga baru selesai melakukan kegiatan panas selama semalaman.


"Ooh, kau sungguh sangat memuaskan, Sayang!"


Stefy tersenyum bangga, tentu saja dia bisa memuaskan lelaki itu karna dia memang sangat hebat di atas ranjang.


"lalu, kenapa kau menyuruhku untuk kembali pada Abra, Romi? Apa kau tidak benar-benar mencintaiku?"


Romi tersenyum, dia lalu mengecup bibir Stefy yang sedang cemberut. "Kau harus tetap bersamanya agar kita bisa menguasai harta mereka, Stefy!"


Stefy mendessah kesal, sebenarnya dia sudah malas sekali melihat sikap Abra padanya. "Tapi dia terus menolakku, Sayang! Aku sudah tidak tahan lagi!"


"Sabarlah, yang penting kau bisa menikah dengannya. Lalu kita bisa mulai menguasai harta mereka, dimulai dari kekuasaanmu dalam rumahnya!"


Ternyata inilah rencana licik mereka yang ingin menguasai harta keluarga Abra, karna mereka tau semua harta itu nantinya akan jatuh ke tangan laki-laki itu.




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2