
Sinar mentari pagi mulai menerobosmasuk melalui jendela kamar, terlihat Abra mulai merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal.
Kedua matanya mulai terbuka mencoba untuk menyesuaikan dengan sinar matahari, dia lalu melirik ke kanan dan tampaklah Bella masih terlelap sambil memeluk tubuhnya.
Senyum tipis terbit dibibir Abra saat ini, entah kenapa hatinya terasa tenang dan nyaman saat berada dalam dekapan wanita itu. Masih teringat jelas pertempuran mereka beberapa waktu lalu, dan itu sukses membuat wajahnya memerah.
Abra mencoba untuk menarik tangannya yang berada di bawah kepala Bella, terdengar gumaman dari wanita itu tetapi matanya masih terpejam.
Dia segera turun dari ranjang dengan menyambar celananya, secepat mungkin Abra keluar dari kamar itu dan berjalan menuju kamar mandi di dapur.
Setelah segar, Abra mencari ponselnya yang entah berada di mana. Dia ingin menghubungi Rafi untuk membawakan pakaian untuknya.
Mata Abra melihat ponselnya terjatuh di atas karpet, dia segera mengambilnya dan menghidupkan benda pipih itu.
"Astaga!"
Betapa terkejutnya dia saat melihat ada 26 panggilan tidak terjawab dari Rafi, juga ada beberapa panggilan dari Kakak, Ibu dan juga Stefy.
Deg, Stefy? Ya benar, dia lupa tentang keberadaan wanita itu. Abra mengusap wajahnya dengan kasar lalu duduk di atas kursi, sungguh perasaannya sedang terombang-ambing saat ini.
Dia yakin kalau sebenarnya sudah jatuh cinta dengan Bella, wanita yang diam-diam berhasil meluluhkan hatinya. Namun, bagaimana dengan Stefy? Sudah pasti orangtuanya akan kembali marah padanya jika dia memutuskan hubungan dengan wanita itu.
"Tuan!"
Abra terlonjak kaget saat mendengar suara Bella, terlihat wanita itu sedang berdiri di depan pintu kamar.
"Ke-kenapa Tuan hanya menggunakan handuk saja?"
Abra baru sadar kalau saat ini dia hanya memakai handuk saja, dengan cepat dia berjalan ke dalam kamar dan mengambil pakaiannya.
Brak! Suara pintu kamar mandi yang tertutup kencang membuat Bella tersenyum tipis, dia yakin kalau Abra saat ini pasti sangat malu.
"padahal aku sudah melihat seluruh tubuhnya!" gumam Bella, dia berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
Belum sempat sampai dapur, dia mendengar dering ponsel yang ada di atas kursi. Bella tau kalau itu ponsel Abra, dan terlihat Rafi sedang menelpon.
"Tuan, Tuan Rafi menelpon!" teriaknya dari luar kamar mandi.
"Angkat saja, dan katakan untuk segera kemari!"
Bella langsung saja mengangkat panggilan dari Rafi. "Halo, Tuan!"
__ADS_1
Rafi yang ada disebrang telpon mengernyitkan keningnya saat mendengar suara seorang wanita. "Stefy?"
"bukan Tuan, saya Bella!" ucap Bella.
"Bella? Di mana Tuan Abra?"
"Tuan Abra sedang mandi, dan beliau pesan untuk segera datang ke sini!"
Tut, panggilan itu terputus begitu saja saat Bella baru selesai menjawab pertanyaan Rafi. Dia lalu kembali meletakkan ponsel itu ke atas kursi.
"Apa katanya?"
Bella terlonjak kaget saat Abra sudah berdiri di belakangnya. "Ti-tidak ada, Tuan! Dia hanya menanyakan keberadaan anda."
Abra lalu menganggukkan kepalanya. "Oh ya, apa kau tidak kerja?"
"Hah?"
Bella langsung melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 8 pagi. "Astaga, aku lupa!" Dia segera berlari ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, dia lupa kalau saat ini sudah bekerja di perusahaan.
Abra yang melihat Bella panik langsung tertawa, betapa lucu dan imutnya wanita itu saat berlari ke dalam kamar mandi.
Dia lalu berjalan ke arah kulkas untuk melihat bahan masakan yang bisa dimasak, pas pula ada 2 butir telur yang bisa menjadi menu sarapan pagi ini.
Tidak berselang lama, Bella keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk saja. Dia sudah tidak sempat lagi memperhatikan apa yang Abra lakukan, dan berjalan terus ke dalam kamar.
Abra menelan salivenya saat melihat tubuh Bella, tetapi dia mencoba untuk menepis pikiran mesumnya itu dan fokus pada masakannya.
"Bella, sarapan dulu!"
Bella yang sedang mengambil tasnya menoleh ke arah Abra. "Maaf Tuan, udah gak sempat! Nanti tolong kunci pintunya ya!"
"Bella, tunggu!"
Wanita itu langsung berlari keluar rumah tanpa menghiraukan panggilan Abra, padahal bisa saja laki-laki itu mengantarnya.
"Dasar!"
Abra kembali duduk dikursi makan sambil melihat omlete yang sudah tersaji di hadapannya.
Tidak berselang lama, Rafi sampai juga di tempat itu. Dia langsung masuk ke dalam karna memang pintunya terbuka.
__ADS_1
"Tuan!"
Abra terlonjak kaget saat mendengar suara Rafi. "Kamu, Rafi! Ngagetin aja!"
Rafi hanya cengengesan saja sambil memberi paper bag pada Abra. "Apa yang Tuan lakukan di sini? Dan kenapa panggilanku tidak dijawab-jawab?" Dia kebingungan saat laki-laki itu tidak menjawab panggilannya.
Abra langsung saja menceritakan semuanya, tentang pertemuannya dengan para karyawan dan berakhir dengan mabuk-mabukan.
"Jadi, tadi malam Tuan menginap di sini?"
Abra menganggukkan kepalanya, dia bahkan bukan hanya sekedar menginap, tetapi bercinta dengan sipemilik rumah.
"Apa Tuan tidak tau, kalau Tuan besar dan Nonya menanyakan keberadaan anda?"
Rafi mendessah frustasi, dia lalu menceritakan kalau tadi malam dia sangat kebingungan saat ditanya di mana keberadaan Abra. Apalagi laki-laki itu tidak pulang, jelas orangtuanya terus bertanya.
"Sudahlah, lupakan semuanya! Biar nanti aku yang urus!"
Rafi memganggukkan kepalanya, dia lalu duduk dan mengambil minum karna haus. "Tapi Tuan, di mana Bella?" Dia melihat ke sana kemari mencari keberadaan wanita itu.
"Dia sudah pergi kerja!"
Ah, benar juga. Dijam segini jelas karyawan sudaj harus bekerja, hanya mereka berdua saja yang masih santai-santai.
"Aku ganti baju dulu!"
Abra beranjak ke kamar sambil membawa paper bag yang Rafi beri, tentu saja berisi pakaian ganti.
Setelah selesai, mereka lalu keluar dari rumah Bella. Tidak lupa untuk mengunci rumah itu dan membawa kuncinya.
"Oh ya, bagaimana hubungan anda dengan Nona Stefy, Tuan? Saya dengar Tuan besar sedang menyiapkan pernikahan kalian!"
Abra mendessah, kepalanya terasa sangat pusing memikirkan semua itu. "Rafi, aku jatuh cinta pada Bella!"
"Apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.