
Papa Adnan menatap Soni dengan tajam membuat Soni langsung pergi dari tempat itu, terserahlah mau bagaimana mereka. Dia tidak mau ambil pusing lagi.
"tolong beri waktu pada kami untuk memperbaiki semuanya, Tuan!" pinta Papa Adnan, dia memohon pada kedua orangtua Stefy agar mau memberi mereka kesempatan.
"Memperbaiki kau bilang? Tidak, aku tidak akan memberikan putriku lagi pada anakmu yang brengsek itu! Dan aku juga tidak akan membiarkan kalian, aku akan menghancurkan kalian semua!"
Papa Renal lalu berbalik dan pergi dari tempat itu dengan diikuti oleh sang istri, walaupun kedua orangtua Abra sudah memohon. Mereka tetap tidak mau lagi berhubungan dengan keluarga itu.
"Aaarghh, dasar bajing*an!"
Papa Adnan menggila, dia mulai memecahkan semua barang-barang yang ada di tempat itu sampai hancur berantakan.
Prang
Pyar
"Suamiku, tolong hentikan! Mungkin semua ini sudah menjadi takdir untuk Abra!"
Plak!
Papa Adnan langsung melayangkan tamparan ke pipi Mama Sintya, dia yang sudah sangat emosi tidak bisa lagi menahan diri.
"Ini semua karnamu! Kau tidak bisa mendidik dan mengajari anakmu dengan baik, dia jadi melawan dan menghancurkanku! Aargh!"
Mama Sintya terdiam dengan rasa panas yang mulai menjalar dipipi, untuk petama kalinya Papa Adnan melakukan kekerasan padanya.
Tidak mau lagi menjadi sasaran kemarahan, Mama Sintya memilih untuk diam dan masuk ke dalam kamarnya. Dia menangis dengan tersedu-sedu melihat keluarganya hancur berantakan, dan dia sendiri tidak tau harus berbuat apa.
"Abra, apa kau baik-baik saja, Nak?"
Mama Sintya sebenarnya tidak masalah jika anaknya menikah dengan siapapun, tapi selama ini dia harus tunduk dengan ucapan suaminya. Jika dia tidak tunduk, laki-laki itu mengancam akan menceraikannya.
Brak!
Tubuh Mama Sintya terlonjak kaget saat tiba-tiba suaminya masuk ke dalam kamar, penampilan laki-laki itu sangat berantakan dan tercium bau alkohol yang menusuk indra penciumannya.
"Brengs*ek, semunya brengs*ek!"
Papa Adnan terus meracau sambil melemparkan sepatunya dengan asal, dan ternyata mengenai kepala sang istri.
Bruk. "Sshh!"
__ADS_1
Mama Sintya menahan nyeri yang ada di kepalanya, dia lalu beranjak melihat Papa Adnan yang sudah diam di atas ranjang.
Istri mana yang tidak sedih melihat keadaan suaminya seperti saat ini, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karna semua yang terjadi disebabkan oleh suaminya sendiri.
"Andai kau tidak terobsesi dengan kesempurnaan dan kesuksesanmu itu, pasti keluarga kita tidak akan hancur seperti ini"
Mama Sintya menatap sendu, bahkan air mata mengalir dari sudut matanya saat ini. Namun, ternyata Papa Adnan mendengar semua ucapan istrinya. Dia segera bangun membuat Mama Sintya langsung mengambil jarak darinya.
"Beraninya kau menyalahkanku!"
Suara Papa Adnan menggema di dalam kamar itu, dia benar-benar emosi dan sudah tidak bisa lagi mengendalikan diri.
"A-aku, aku-"
Untuk pertama kalinya Mama Sintya ketakutan melihat suaminya, karna memang laki-laki itu tampak sangat menyeramkan dimatanya.
"Ke sini kau!"
Mama Sintya yang melihat Papa Adnan ingin menarik tubuhnya segera menghindar dan keluar dari sana, tetapi langkahnya terlambat karna tangnnya berhasil ditangkap oleh suaminya.
"Lepaskan aku!"
Bruk!
"Diam! Kalian brengs*ek, aku akan membunuh kalian semua!"
Plak
Plak
Buak
Papa Adnan menghajar istrinya dengan membabi-buta membuat Mama Sintya berteriak, tetapi dia seolah tuli dan terus melampiaskan semuanya.
Soni yang saat itu baru selesai mandi sangat terkejut saat kamarnya diketuk-ketuk oleh seseorang, juga diikuti suara panggilan yang sangat tergesa-gesa.
Klek. "Apa yang kalian lakukan?"
"Tuan, tolong Nyonya!"
Mendengar Ibunya disebut, sontak Soni langsung berlari ke kamar sang Mama. Dia mencoba untuk memanggil Mamanya, tetapi yang terdengar malah suara tangisan dan jeritan.
__ADS_1
"Cepat, bantu aku mendobrak pintu ini!"
Soni dan beberapa pembantu langsung mendobrak pintu kamar orangtuanya, perasaan khawatir terus menyelimuti hati Soni saat mendengar suara kesakitan sang Mama.
Brak!
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka bisa membuka pintu itu. Betapa terkejutanya mereka melihat apa yang sedang terjadi, terutama Soni yang langsung berlari ke arah Mamanya.
"Ya Tuhan, Ma!"
Soni memegangi tubuh sang Mama yang sudah dipenuhi dengan luka dan lebam, bahkan ada beberapa luka yang mengeluarkan darah segar.
"So-Soni-"
"Bertahanlah, Ma!"
Soni langsung mengangkat tubuh Mama Sintya dan membawanya keluar dari rumah terkutuk itu, sementara yang lainnya juga mengangkat tubuh Papa Adnan yang tergeletak dengan luka di kepalanya.
Soni segera membawa Mamanya ke rumah sakit terdekat, begitu juga dengan para pembantu yang membawa Papa Adnan dengan mobil yang berbeda.
Tidak berselang lama, Mobil mereka sudah sama-sama sampai di rumah sakit. Mereka segera membawa Papa Adnan dan Mama Sintya ke ruang UGD dan langsung ditangani oleh Dokter.
Abra dan Bella yang saat itu sedang asik bersenda gurau di atas ranjang terkejut saat mendengar dering ponsel, dengan cepat Abra mengambil dan mengangkat panggilan masuk dari sang Kakak.
"halo, Kak?"
"Cepat datang ke rumah sakit Mulia sekarang juga!"
Abra sangat terkejut saat mendengar ucapan Soni. "A-ada apa Kak?"
"tidak usah banyak bertanya, Abra! Cepat ke sini, Mama sedang krisis!"
"Apa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1