Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 49. Kehampaan yang di Rasakan.


__ADS_3

Abra dan Soni merasa sangat senang karena sudah berhasil mendapatkan investor yang sangat tidak di sangka-sangka. Mereka bahkan masih tidak mengerti kenapa Kiano langsung mempercayai mereka, padahal sebelumnya mereka tidak pernah saling berhubungan sama sekali.


Setelah pertemuan itu, Abra dan Soni memutuskan untuk segera pulang. Mereka sudah tidak sabar untuk membagikan kabar bahagia itu pada mama Sintya dan juga Bella, mereka yakin kalau kedua wanita itu akan sangat senang mendengarnya.


Sementara itu, di tempat lain terlihat papa Adnan sedang termenung di ruang kerjanya. Hari ini dia tidak datang ke perusahaan dan memutuskan untuk istirahat selama beberapa hari.


Tok, tok, tok.


"Apa saya boleh masuk, Tuan?" tanya seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala pelayan di rumah itu.


Papa Adnan hanya diam dan enggan untuk bicara. Akhir-akhir ini hidupnya terasa sangat hampa dan tidak bersemangat, ada sesuatu di sudut hatinya yang terasa kosong.


"Tuan?" Wanita paruh baya itu tetap berusaha untuk membujuk tuannya, karena sejak pagi papa Adnan sama sekali tidak menyentuh makanan yang dia sajikan.


"Tu-" Wanita paruh baya itu tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan menampakkan sosok papa Adnan yang menatapnya dengan tajam.


"Maaf sudah mengganggu Anda, Tuan. Tapi dari pagi Anda belum-"


"Aku tidak ingin makan, dan aku juga tidak ingin diganggu. Apa kau mengerti?" ucap papa Adnan dengan tajam dan penuh penekanan.


"Maaf, Tuan. Jika Anda tidak mau makan, maka saya akan tetap mengganggu Anda."


Rahang papa Adnan langsung mengeras saat mendengar ucapan pelayan itu. "Diam. Beraninya kau mengatakan itu padaku." Dia melihat pelayan itu dengan tatapan tajam. "Apa kau mau ku pecat?"


Kepala pelayan itu menundukkan kepalanya. "Maaf, Tuan. Saya sudah berjanji pada tuan Soni dan tuan Abra untuk selalu memperhatikan Anda,"


"Apa? Beraninya kau menyebut nama mereka di hadapanku, Hah?" teriak papa Adnan, dia bertambah emosi saat wanita itu menyebut nama kedua putraya.

__ADS_1


Kepala pelayan itu terdiam dan tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi dia tidak akan menyerah untuk menjaga kesehatan sang tuan.


"Sekarang pergi dari hadapanku!" perintah papa Adnan kemudian. Dia lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam ruangan itu.


Bukannya pergi, wanita paruh baya itu malah ikut masuk ke dalam ruangan papa Adnan membuat laki-laki itu benar-benar jengah.


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa melanggar janji saya sendiri," ucap wanita paruh baya itu, tetapi jika tidak disuruh pun. Dia akan tetap melakukan yang terbaik untuk sang tuan.


"Hah." Papa Adnan langsung berjalan ke arah sofa dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa tersebuat. Dia lelah jika harus terus berdebat dan membiarkan apa yang wanita itu ingin lakukan.


Kepala pelayan langsung meletakkan berbagai macam hidangan di atas meja, tepat di hadapan sang tuan. "Saya mohon makanlah sedikit saja, Tuan." Kepala pelayan itu beranjak bangun dan berdiri dengan kepala tertunduk.


Papa Adnan berdecak kesal melihat semua ini, tetapi tangannya mengambil makanan yang tersedia di hadapannya. "Baiklah, aku akan makan sesendok saja."


Kepala pelayan yang melihat papa Adnan makan tersenyum puas. Setidaknya laki-laki paruh baya itu mau makan, dan kondisi kesehatanya pasti akan baik-baik saja.


"Kau bilang, kalau Abra dan Soni yang menyuruhmu untuk memperhatikanku?" tanya papa Adnan dengan tajam, tidak lupa dengan sorot mata yang bisa saja membelah tubuh wanita itu.


Kepala pelayan itu menganggukkan kepalanya. "Benar, Tuan. Bahkan setiap hari mereka menanyakan bagaimana keadaan Anda."


Deg.


Dada papa Adnan berdegup kencang saat mendengarnya. "Untuk apa lagi mereka peduli padaku, bukannya mereka sendiri yang selalu membantah apa yang aku ucapkan?" Dia merasa sedih sekaligus heran.


"Mereka berdua benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Anda, apalagi saat ini Nyonya juga sedang bersama dengan-"


Papa Adnan mengangkat tangannya membuat ucapan kepala pelayan itu terhenti. "Aku sudah selesai makan, dan kau bisa pergi sekarang." Dia tidak mau lagi mendengar apa yang wanita itu katakan.

__ADS_1


Kepala pelayan itu menganggukkan kepalanya dan segera membawa makanan dan minuman yang ada di atas meja keluar. Sebelum menutup pintu ruangan itu, untuk sekali lagi dia melihat ke arah sang Tuan. "Semoga hati Anda melunak, Tuan. Kasihan tuan Soni dan tuan Abra." Dia segera berlalu dari tempat itu.


Ucapan wanita tadi berhasil mengusik ketenangan hati papa Adnan. Saat ini dia menjadi gelisah, dan juga penasaran bagaimana kabar istri dan juga anak-anaknya.


Tanpa menunggu apapun lagi, dia segera menyambar kunci mobilnya dan beranjak pergi dari tempat itu.


Pada saat yang sama, Abra dan Soni sudah sampai di toko. Mereka segera menceritakan semua yang terjadi pada mama Sintya dan juga Bella, tentu saja kedua wanita itu mengucapkan selamat dan merasa benar-benar bahagia.


"Mama benar-benar bangga pada kalian. Anak-anak mama benar-benar hebat," ucap mama Sintya dengan haru membuat kedua putranya menggenggam tangan dan juga lengannya.


"Mama benar. Suami dan kakak iparku sangatlah hebat, dan aku selalu berdo'a agar semua usaha kalian berjalan dengan lancar dan sukses,"


Semua orang langsung mengaminkan apa yang Bella katakan, semoga ucapakan mereka dikabulkan oleh Tuhan.


Dari kejauhan, papa Adnan terus memperhatikan istri dan juga anak-anaknya. Dadanya terasa berdenyut sakit saat melihat kebahagiaan di wajah mereka semua.


"Kenapa kalian tertawa bahagia seperti itu, bukankan aku sudah mengahancurkan hidup kalian?"





Tbc.


__ADS_1


__ADS_2