Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 44. Niat Terselubung.


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya, Abra dan Soni segera merencanakan untuk membangun sebuah bisnis. Mereka sedang mengamati pergerakan minat masyarakat, untuk menentukan jenis usaha apa yang akan mereka buat.


"bagaimana kalau fashion saja, Kak?" saran Abra, terlihat Soni sedang fokus meneliti perkembangan dunia fashion yang ada di indonesia.


"Bisa aja sih, apalagi perkembangan fashion itu sangat cepat!"


Abra menganggukkan kepalanya. "Tapi sebelum itu, kita harus menggaet para investor dulu. Aku sudah membuat janji dengan beberapa investor yang kita kenal, semoga mereka berniat untuk menjalin kerja sama dengan kita!"


Ya, Soni setuju dengan apa yang Abra katakan. Setelah itu mereka segera pergi untuk melihat kawasan yang akan digunakan untuk pembangunan perusahaan, mereka harus mencari tempat yang pas supaya usaha mereka berjalan lancar.


Pada saat yang sama, Bella dan Mama Sintya terlihat sedang memasak menu makanan untuk malam nanti.


"Menurutmu, apa Rita dan Soni itu cocok, Bel?"


Bella tersenyum saat mendengar pertanyaan mertuanya itu. "Em ... menurutku sih cocok-cocok saja, Ma! Tapi kayaknya Kak Soni enggak suka sama Rita!"


Mama Sintya menghela napas berat. "Soni itu memang paling susah ditebak maunya apa, beda sekali dengan Abra!" Keluhnya kemudian.


"Mama tenang saja, nanti aku akan mencoba untuk mendekatkan mereka!"


Mama Sintya langsung melihat ke arah menantunya itu. "Benar, kau harus mendekatkan mereka. Kasihanilah kakak iparmu yang tidak laku itu!"


"Pftt, hahaha!"


Sontak kedua wanita beda generasi itu tertawa terbahak-bahak dengan apa yang sedang mereka bicarakan, memang kalau wanita sudah berkumpul pasti akan selalu menggosipi orang lain.


Tepat pukul 6 sore, Abra dan Soni sudah kembali ke apartemen. Saat ini Bella dan Abra masih tinggal di apartemen Soni, karna wanita itu masih harus merawat Mama Sintya.


"Bagaimana, Nak? Apa semuanya lancar?"


Abra dan Soni saling pandang untuk beberapa saat. "Semuanya lancar, Ma! Besok kami akan bertemu dengan para investor untuk menyodorkan proposal! Semoga mereka mau menjalin kerja sama dengan kita."


Semua orang langsung mengaminkan ucapan Abra, mereka berharap semuanya akan berjalan dengan lancar.


"Oh ya, bagaimana dengan keadaan Bobi? Apa Dokter sudah memberitahu jadwal operasinya?"


Bella menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Abra. "Rudi bilang mereka masih menunggu keadaan Bobi benar-benar stabil, setelah itu baru melakukan operasi!"

__ADS_1


Abra menganggukkan kepalanya, dia sudah menyiapkan perawatan yang terbaik untuk Bobi agar adik iparnya itu bisa segera sembuh.


Kemudian mereka semua menikmati makan malam sambil tetap mengobrol ria, sampai tiba-tiba terdengar ketukan dipintu apartemen itu.


"Biar aku saja!"


Abra yang sudah akan bangun kembali duduk saat mendengar suara istrinya, sementara Bella sudah beranjak pergi untuk membukakan pintu.


"Hay, Rit! Ayo masuk!" Bella membuka pintu lebar-lebar untuk mempersilahkan Rita masuk.


"Enggak usah deh Bel, aku lagi capek banget sekarang! Oh ya, ini titipanmu!" Rita memberikan barang pesanan Bella yang ada ditangannya.


"Maaf ya Rit, aku jadi merepotkanmu!"


Rita menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, kan sekalian lewat!"


"Loh, Rita? Kok enggak masuk dulu?"


Tiba-tiba Mama Sintya datang dan mengagetkan mereka berdua, sontak Rita langsung tersenyum kikuk ke arah wanita paruh baya itu.


"Begitu ... yaudah gak papa, tapi kamu udah makan apa belum?"


Rita tersenyum saat mendapat perhatian dari Mama Sintya. "Belum Tan, mungkin setelah ini!"


"Udah, lebih baik makan di sini aja. Tadi tante dan Bella masak banyak!" Mama Sintya langsung menarik tangan Rita untuk mengikutinya.


"Hah, ta-tapi-" Rita tidak dapat melanjutkan apa yang ingin dia katakan karna tangannya sudah ditarik paksa oleh wanita paruh baya itu.


Bella yang melihat apa yang dilakukan Mama mertuanya hanya tertawa saja, dia tau niat terselubung wanita paruh baya itu saat ini.


"Nah, duduk sini!" Mama Sintya langsung mendudukkan tubuh Rita tepat di samping Soni yang menatap mereka dengan heran.


"Ta-Tante, aku tidak la-"


"Ambilkan piring untuk Rita dong, Soni!"


Soni yang masih sibuk makan langsung mengambilkan piring untuk wanita itu, dia meletakkannya tepat di hadapan Rita.

__ADS_1


"nah, silahkan dimakan, Rit!"


"I-iya, Tante!" Dengan ragu-ragu Rita mulai menyendokkan lauk pauk ke atas piringnya, entah kenapa dia merasa benar-benar malu saat ini.


Mama Sintya tersenyum lebar saat melihat semua itu, dia lalu melirik ke arah Abra untuk mengajak anaknya itu pergi dari sana.


"Abra, kepala Mama sedikit pusing. Ayo kita ke kamar!"


Abra mengalihkan pandangannya ke arah sang Mama saat mendengarnya, sementara Kakaknya sudah lebih dulu memegangi tubuh Mama Sintya.


"Biar Mama sama Abra aja, Soni! Kau temani Rita makan!" Mama Sintya mencubit lengan Abra seolah-olah sedang memberi kode.


"Be-benar, Kak! Aku bisa sendiri kok!"


Soni yang merasa kebingungan hanya diam saja saat melihat Abra membawa Mamanya, dia bertanya-tanya kenapa harus Abra dan tidak dia saja yang mengantar Mamanya itu ke kamar.


Tidak mau ambil pusing, Soni kembali duduk di samping Rita untuk melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


Rita yang berada di samping Soni merasa akward sekali saat ini, suasana terasa sangat hening dan canggung membuat makanan yang sudah berada dimulutnya susah untuk ditelan.


"Mamaku menyukaimu!"


Deg. Tangan yang hendak menyuapkan makanan ke mulut langsung terhenti saat mendengar ucapan Soni, dia lalu memalingkan wajahnya ke arah laki-laki itu. "A-apa maksud Tuan?"


Soni tersenyum tipis, dia lalu mendorong tangan Rita yang menggantung ke arah mulut wanita itu dan memasukkan makanan yang ada di sana membuat mata Rita membulat sempurna.


"Mamaku menyukaimu, dan dia ingin menjadikanmu menantu!"


"uhuk uhuk uhuk!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2