Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 34. Pilihan Yang Sangat Sulit.


__ADS_3

Sontak Abra dan Bella langsung melihat ke arah pintu saat mendengar suara seseorang, dan betapa kagetnya mereka saat melihat Stefy dan keluarga Abra sedang berdiri di ambang pintu.


"Kalian?"


Melihat keberadaan semua orang, Abra langsung menarik tangan Bella dan menyuruhnya berdiri di belakang tubuhnya, seakan-akan sedang melindungi wanita itu dari mara bahaya.


"Dasar perempuan gak tau diri! Berani sekali kau merebut calon suamiku!"


Bella terdiam mendengar teriakan Stefy, sementara Abra tetap menggenggam tangannya dengan erat.


"Abra! Jadi ini wanita yang kau bilang sedang mengandung anakmu?"


Abra menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan sang Papa, terlihat jelas kemarahan diwajah laki-laki paruh baya itu saat ini.


"Dialah Bella, wanita yang aku cintai!"


Bella langsung melihat ke arah Abra saat mendengar ucapan laki-laki itu, sementara Stefy dan yang lainnya semakin murka melihat mereka berdua.


"Jangan gila kau, Abra! Aku adalah calon istrimu, seharusnya akulah yang kau cintai!"


Stefy benar-benar merasa tidak terima, semua rencananya dan Romi akan hancur kalau sampai Abra tidak jadi menikah dengannya.


"tidak, aku sudah tidak mencintaimu! Aku hanya-"


"Diam!"


Seketika suasana menjadi hening saat suara Papa Adnan menggema di tempat itu, tidak berselang lama datanglah Soni dan Rafi yang ternyata juga ada di sana.


"Papa, tolong tenangkan diri-"


Plak!


Soni yang mencoba untuk menenangkan Papanya langsung terkena 5 jahanam, pipinya terasa kaku saat tangan sang Papa mendarat tepat di sana.


"Dasar kalian anak-anak tidak tau diuntung! Kalian benar-benar merusak nama baikku, kalian sangat memalukan!"


Mama Sintya berusaha untuk menenangkan suaminya, tetapi usahanya itu tidak berhasil dan malah membuat laki-laki paruh baya itu bertambah murka.


"Kau, Abra! Hentikan semua kegilaanmu ini, sebelum kesabaranku habis!"


Papa Adnan menunjuk tepat ke arah Abra yang juga sedang melihatnya, matanya juga menyorot tajam ke arah wanita yang saat ini berada di belakang tubuh Abra.


"Maaf, Pa! Aku tidak bisa, aku tidak bisa lagi menuruti kemauan Papa!"

__ADS_1


Papa Adnan mengepalkan kedua tangannya dan langsung berjalan ke arah Abra, dan seketika ...


Plak!


Plak!


Dua tamparan mendarat diwajah Abra membuat Bella terlonjak kaget, air mata mengalir diwajahnya dengan menatap sendu lelaki itu.


"Anak tidak tau diri, sudah susah payah ku besarkan, tapi inilah balasanmu? Hah!"


Papa Adnan mencengkram kerah kemeja Abra membuat semua orang menjadi panik, terutama Bella yang semakin terisak di samping Abra.


"Bajing*an, brengs*ek!"


Dia lalu menghempaskan tubuh Abra dengan kasar walau tidak berpengaruh apapun pada putranya, dia lalu beralih ke arah Bella yang sedang memegangi lengan Abra.


"Dan kau perempuan j*a*l*ang, beraninya kau menggoda anakku dan mengaku hamil keturunanku!"


Abra semakin menarik tubuh Bella sebelum Papanya melakukan sesuatu, sementara Mama Sintya berusaha untuk kembali menenangkan lelaki paruh baya itu.


"sudahlah Pa, sudah! Tidak baik kita-"


"Diam kau! Kau benar-benar tidak bisa mengurus putramu dengan baik, kalian semua benar-benar brengs*ek!"


"Jangan harap kalian bisa menginjakkan kaki ke rumahku lagi, dan kau!"


Papa Adnan menunjuk ke arah Abra dengan nyalang, emosinya benar-benar berada ditingkat dewa saat ini.


"kau bukan lagi anakku, dan jangan harap kau mendapat sepeserpun hartaku! Hiduplah dijalanan, dan jangan sampai aku melihatmu lagi!"


"Tunggu, Pa!"


Mama Sintya mengejar kepergian suaminya yang sudah keluar dari ruangan itu, sementara yang lain hanya bisa diam melihat kepergian mereka.


"Dasar brengs*ek! Kalian lihat saja, aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup bahagia! Terutama kau, perebut! Aku akan membuat hidupmu menderita, kau ingat itu!"


Stefy terpaksa pergi dari tempat itu karna ada banyak orang di sana, jika tidak dia pasti sudah menghabisi Bella sejak tadi.


"Hah!"


Tubuh Bella seketika lemas dan hampir saja terjatuh jika tidak langsung ditangkap oleh Abra, laki-laki itu lalu membawanya ke atas kursi.


"Bella, kau baik-baik saja?"

__ADS_1


Rita dan Yola kini sudah ada di hadapan Bella, sontak dia langsung memeluk kedua temannya itu dengan tangisan yang meluap-luap.


"Tidak apa-apa, menangislah! Ada kami di sini!"


Rita dan Yola membiarkan Bella seperti itu, mereka tau bagaimana perasaan wanita itu saat ini. Bahkan mereka sendiri juga pasti akan merasa hancur jika berada diposisi sepertinya.


Abra yang juga masih berada di sana memilih untuk mendekati Soni dan Rafi, kedua lelaki itu kemudian menepuk bahunya seakan-akan memberikan semangat.


"Sudahlah, semuanya pasti baik-baik saja! Nanti biar aku yang bicara pada Papa, dan kau fokus saja pada wanita itu!"


Soni menepuk-nepuk bahu Abra, dia harus menguatkan adiknya itu untuk segala pilihan yang sudah Abra ambil. Apapun cobaan yang menghantam, mereka harus bisa menghadapinya.


"Terima kasih karna sudah mendukungku, Kak! Aku tidak tau akan jadi seperti apa, kalau saja tidak ada kakak!"


Soni menghela napas berat, sebenarnya semua ini juga sangat menyulitkan untuknya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi jika memang Abra sudah memilih wanita lain. Apalagi wanita itu sedang hamil, jelas saja Abra harus menikahinya.


"Untuk apa kau mengatakan itu? Aku kan kakakmu, sudah pasti aku akan mendukungmu!"


Abra menganggukkan kepalanya, dia lalu memeluk Soni untuk meluapkan rasa syukur karna mempunyai kakak sepertinya.


"Lebih baik sekarang kau bawa dia ke apartemenmu, dan setelah ini kita akan mengurus pernikahan kalian!"


Abra menganggukkan kepalanya, dia lalu berbalik dan kembali mendekati Bella dan yang lainnya.


"Bella!"


Bella yang sudah sedikit tenang mendongakkan kepalanya, matanya kembali berkaca-kaca saat melihat Abra.


"Ayo, kita pulang!"


Bella menganggukkan kepalanya dengan ragu, dia lalu berdiri dan segera berpamitan pada kedua temannya.


"Kalau ada apa-apa, kau harus segera menguhubungi kami!"


Bella menganggukkan kepalanya, setelah itu tangannya kembali digenggam oleh Abra dan mereka segera beranjak pergi dari tempat itu.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2