Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 47. Jadwal Operasi.


__ADS_3

Abra dan Soni sangat terkejut dengan apa yang laki-laki paruh baya itu lakukan. "Pantas saja semuanya jadi seperti ini, rupanya-" Soni tidak dapat melanjutkan ucapannya saat tangannya di cengrkram oleh Abra.


"Baiklah. Kalau gitu terima kasih atas waktu Anda, Tuan." Abra beranjak bangun membuat Soni dan laki-laki itu juga ikut berdiri. "Anda tenang saja, kami tidak akan mengatakan pada siapa pun tentang apa yang Anda katakan ini. Kalau gitu kami permisi."


"Ba-baik, Tuan. Sekali lagi maafkan saya."


Abra mengangguk, dia lalu mengajak Soni untuk pergi dari tempat itu walaupun sang kakak masih ingin bertanya pada laki-laki paruh baya itu.


"Kenapa kita pergi gitu aja, Abra? Seharusnya kita bertanya lebih jauh padanya," ucap Soni saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Itu tidak perlu, Kak. Aku tidak ingin dia tau kalau saat ini hubungan kita dengan papa sangat buruk, walaupun dia sudah tau dengan apa yang terjadi saat ini,"


"Hah." Soni menghela napas kasar sambil menyandarkan tubuhnya. "Lagi pula apa sih, mau papa? Kenapa dia melakukan semua ini? Apa dia belum puas, dengan mengusir kita?" Dia benar-benar merasa sangat geram sekali.


"Entahlah, Kak. Aku juga tidak paham. Lebih baik kita diam dulu, aku akan menyuruh Rafi untuk menyelidikinya."


Soni mengangguk. "Baiklah, untuk sekarang kita biarkan saja apa yang mau papa lakukan. Lebih baik kita fokus pada toko kue mama, aku yakin toko itu pasti akan sukses besar."


"Kau benar, Kak. Kita harus fokus pada usaha yang udah ada, mana tau rezeki kita ada di usaha kue itu."


Soni kembali mengangguk. Benar apa yang dikatakan sang adik kalau rezeki itu bisa berasal dari mana saja. Tidak tergantung dari besar atau kecilnya usaha, tapi dari kegigihan dan kerja keras yang dilakukan.


Mulai saat itu, mereka semua fokus pada usaha kue yang sedang dijalankan. Mama Sintya dan Bella fokus pada pembuatan, sementara Soni dan juga Abra mengatasi penjualan dan pesanan dari pelanggan.


"Sejak Soni dan Abra ikut menjual, penjualan kita naik drastis," ucap mama Sintya sambil menguleni adonan yang ada di hadapannya.


"Tentu saja, Ma. Orang-orang sangat tertarik dengan wajah mereka, Mama tau sendiri kalau anak-anak Mama itu sangat tampan."

__ADS_1


Mama Sintya mengangguk. "Benar, mereka mirip dengan-" mama Sintya tidak dapat melanjutkan ucapan saat sadar kalau akan menyebut nama sang suami.


"Tidak apa-apa, Ma. Kalau Mama merasa rindu atau apapun itu, Mama berhak menyebut namanya. Biar bagaimana pun Mama sudah menikah puluhan tahun dengan Papa, semua ini pasti sangat berat untuk Mama." Bella menggenggam kedua tangan sang mertua membuat wanita paruh baya itu tersenyum.


"Kau benar-benar wanita yang baik, Bella. Abra sangat beruntung bisa menikah dengan wanita sepertimu,"


"Tidak, Ma. Akulah yang beruntung bisa menikah dan menjadi bagian dari keluarga Mama, aku tidak menyangka kalau wanita sepertiku ini bisa diterima dengan sangat baik."


Mama Sintya paham betul ke mana arah pembicaraan Bella. "Semua itu sudah menjadi masa lalu, Nak. Masa lalu itu tidak bisa menentukan baik dan buruknya seseorang, yah walaupun orang pasti akan menilai dari penampilan luarnya.


Bella mengangguk. "Aku paham, Ma. Dan aku akan selalu mengingat ucapan Mama."


"Baguslah, Sayang. Oh ya, besok Bobi akan di operasi kan?"


Bella kembali mengangguk. "Iya, Ma. Operasinya akan dilakukan jam 2 siang, tapi dari pagi aku harus sudah tiba di sana."


Bella tersentuh dengan apa yang Mama Sintya katakan. Dia benar-benar beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga mereka.


*


*


*


Keesokan harinya, mereka semua langsung berangkat ke rumah sakit untuk menemani dan memberi semangat pada Bobi.


"Kak, aku takut." Bobi menggenggam tangan Bella membuat wanita itu tersenyum.

__ADS_1


"Jangan takut, Sayang. Selama ini kau sudah berjuang untuk sembuh, dan saat inilah penentuannya. Kau harus semangat, karena kakak akan selalu berada di sini untuk menunggumu,"


"Yang kakakmu katakan itu benar, Nak. Tetaplah semangat, karena bukan hanya kakakmu saja yang akan menunggu. Tapi kami juga, kami ingin melihatmu sembuh dan bisa berkumpul bersama kami."


Bobi menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Baiklah, Ma. Aku pasti akan sembuh." Ya, dia memanggil mama Sintya dengan sebutan mama sesuai dengan keinginan wanita paruh baya itu.


Setelahnya Bobi dibawa masuk ke ruang operasi membuat semua orang menjadi tegang, dan operasi akan berlangsung sekitat 3 jam.


Mereka semua menunggu di depan ruang operasi dengan cemas, semoga Bobi baik-baik saja dan operasinya berjalan dengan sukses.


3 jam telah berlalu. Kini lampu yang ada di pintu ruang operasi telah mati, pertanda kalau operasi sudah selesai dilaksanakan.


"Ba-bagaimana, Dokter? Apa adik saya baik-baik saja?" tanya Bella dengan khawatir, semua orang yang ada di tempat itu juga terlihat cemas.


"Operasinya berjalan dengan lancar, Nona. Dan saat ini pasien masih belum sadarkan diri, kami akan memindahkannya ke ruang perawatan,"


"Hah." Bella merasa sangat bahagia sekali. Beban berat yang ada dibahunya terasa diangkat saat mendengar kondisi sang Adik.


Abra langsung memeluk tubuh Bella dengan erat, dia tau kalau saat ini istrinya itu pasti sangat terharu sekali.


"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2