Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 52. Ungkapan Cinta yang Terpendam Lama.


__ADS_3

Apa yang kau lakukan? Lepaskan a-" Rita tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat kalau Soni lah yang menarik tubuhnya. "Tu-tuan Soni?" Dia merasa sangat terkejut.


Soni lalu menarik tubuh Rita sampai mereka berada di tempat yang agak sepi, tentu saja Rita merasa kaget dan terheran-heran.


"Tu-Tuan Soni, apa yang Anda-"


"Ke mana saja kau selama ini, hah?" tanya Soni dengan tajam membuat Rita langsung terkesiap.


"Ke-kenapa Anda bertanya?"


"Kenapa kau bilang? Apa kau tidak tau, kalau kami mengkhawatirkanmu, hah? Kau pergi gitu aja bahkan enggak ada kabar sama sekali, kau juga mengundurkan diri dari perusahaan. Siapa coba, yang tidak khawatir jika seperti itu?"


Rita terdiam melihat kemarahan Soni, hatinya sedang bertanya-tanya kenapa laki-laki itu sekarang sangat marah sekali padanya.


"Selama ini kau sama sekali tidak ada kabar. Lalu, apa lagi ini sekarang? Kau menjadi adik dari Tuan Kiano, begitu?" Soni melampiaskan emosinya yang sudah lama terkumpul sejak kepergian Rita, sementara wanita itu masih diam di tempatnya.


"Baiklah, terserah kau mau pergi atau apapun. Aku sudah senang saat melihat kau baik-baik saja." Soni lalu memalingkan wajahnya dan beranjak pergi dari tempat itu.


Namun, langkahnya harus terhenti saat Rita mencekal tangannya membuat dia melihat ke arah wanita itu.


"Kenapa Anda langsung pergi begitu saja setelah meluapkan emosi?"


Soni terdiam mendengar pertanyaan Rita, sementara Rita sendiri berjalan mendekati laki-laki itu sampai tubuhnya hampir menempel dengan tubuh Soni karena sangking dekatnya.


"Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan Anda jika Anda langsung pergi begitu saja, hem?"


Soni menatap wajah Rita yang berada sangat dekat dengan wajahnya sendiri, bahkan hembusan napas wanita itu terasa menyapu wajahnya. "Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku tetap berada di sini?"


Rita tersenyum lebar membuat jantung Soni berdegup kencang. "Tentu saja aku akan menjawab pertanyaan Anda."

__ADS_1


"Benarkah?" Tangan Soni melingkar dipinggang Rita dan menarik tubuh wanita itu sampai menempel di tubuhnya. "Benarkah kau akan menjawabnya?" Dia memeperhatikan garis wajah Rita dan berakhir dibibirnya.


"Ya, aku akan menjawab sesuai dengan apa yang Anda inginkan."


Soni yang sudah lama membendung rasa rindunya benar-benar tidak bisa menahan diri lagi, dia memajukan wajahnya dan langsung mengecup bibir Rita membuat wanita itu tersentak. "Aku merindukanmu, Rita."


Hampir sebulan lamanya mereka berdua tidak bertemu membuat rasa yang sebelumnya terus dibantah kini membara besar. Rita yang awalnya hanya diam kini mulai membalas ciuman laki-laki itu.


Ciuman yang awalnya hanya kecupan saja, kini sudah semakin panas dan menjadi sebuah lummatan dan hisapan. Kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu terus memagut bibir masing-masing dengan penuh gairan, sampai akhirnya Soni melepaskan ciuman itu saat Rita sudah kehabisan napas.


"Hah, hah." Napas mereka tersengal-sengal dengan dada kembang kempis karena menghirup oksigen untuk organ pernapasan mereka.


Rita menundukkan wajahnya yang memerah bak kepitung rebus. Bisa-bisanya dia menerima dan membalas ciuman dari Soni.


Soni sendiri merasa sangat senang dengan apa yang terjadi. "Em ... jadi, apa, apa kau mau langsung pulang?" Entah kenapa dia mendadak jadi gugup saat ini.


Rita menganggukkan kepalanya dan kembali masuk ke dalam lift dengan diikuti oleh Soni. Mereka lalu menuju lantai 1 untuk keluar dari tempat itu.


Rita lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau. Saat ini ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan, jadi mungkin aku tidak bisa kembali ke sana."


"Baiklah, aku mengerti. Hanya saja, mamaku selalu menanyakan tentangmu, dia merasa khawatir dan juga merindukanmu."


Rita tertegun mendengar apa yang Soni ucapkan. "Aku akan ke sana begitu ada waktu."


Soni menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Jadi, apa sekarang kau sudah menjadi kekasihku?"


"Hah?" Rita pura-pura tidak tau dan tidak paham dengan apa yang Soni katakan.


"Tadikan kita sudah berciuman. Jadi, maukah kau menjadi kekasihku?" Soni meralat ucapannya, karena dia harus menembak wanita dulu jika ingin menjadi sepasang kekasih.

__ADS_1


"Aku rasa umur kita sudah tidak cocok untuk menjadi sepasang kekasih, Tuan,"


"Lalu apa? Apa kau mau menikah denganku?"


Rita terkejut saat Soni dengan gampangnya mengajak dia menikah. "Apa Anda sedang bercanda?"


"Tidak. Jika kau tidak mau menjadi kekasihku, maka menikahlah denganku," ucap Soni secara langsung.


"Menikah begitu saja, tanpa ada rasa cinta?"


"Tentu saja tidak, Rita. Kau tau, aku selalu menyangkal sebuah rasa yang muncul dalam hatiku karnamu. Dan aku hanya mengira kalau perasaan itu datang karna kita selalu bersama, tapi ternyata aku salah, Rita. Perasaanku semakin meluap saat kau pergi dari pandanganku, dan aku baru menyadari bahwa ternyata aku sudah benar-benar mencintaimu."


Rita merasa terharu dengan apa yang Soni ucapkan. Matanya tampak berkaca-kaca karena luapan kebahagiaan.


"Bagaimana denganmu, Rita. Apa kau punya perasaan yang sama denganku?" tanya Soni.


Rita terdiam sejenak untuk memikirkan apa yang Soni ucapkan, dia lalu bersiap untuk memberikan jawaban. "Tentu saja tidak, Tuan." Mendadak Soni langsung lemas saat mendengar jawabannya.


"Tentu saja tidak salah lagi, Soni."


Soni menatap Rita dengan tidak percaya. "Apa, apa kau serius?"


Rita menganggukkan kepalanya. "Iya, Soni. Aku juga mencintaimu."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2