
Setelah segala persiapan dilakukan, akhirnya Soni dan keluarganya datang ke rumah kedua orang tua Rita untuk melamar wanita itu.
Semua keluarga Rita menyambut kedatangan mereka dengan ramah dan saling bertukar kabar. Setelah itu mereka semua masuk ke dalam rumah dan duduk di atas karpet yang sudah di sediakan.
Acara berjalan khidmat dan hanya dihadiri oleh pihak keluarga saja. Soni dan Rita memang hanya ingin acara lamaran dihadiri oleh keluarga dan teman dekat, karena minggun depannya mereka akan melangsungkan pernikahan.
Papa Adnan langsung saja mengatakan maksud dan tujuan mereka datang ke rumah Raymond, dan tentu saja semua orang juga sudah mengetahuinya.
Kemudian papa Adnan menguruh Soni untuk mengatakan keinginannya secara langsung di hadapan seluruh keluarga besar Rita, beserta wanita itu sendiri.
"Saya, Soni Arsenio berniat untuk melamar Nona Rita Sellanova dan menjadikannya sebagai pendamping hidup saya. Apakah Nona Rita bersedia menerima lamaran saya, sekaligus menjadi pendamping hidup saya dalam suka dan duka?"
Soni menatap Rita dengan wajah berbinar-binar, sementara Rita sendiri menunduk dengan malu.
"Bagaimana, Nak? Apa kau bersedia menerima lamaran Soni?" tanya Raymond sambil menepuk punggung tangan sang putri.
Rita menganggukkan kepalanya dengan wajah bersemu merah. "Saya bersedia menerima lamaran dari Tuan Soni, dan bersedia untuk menjadi pendamping hidupnya dalam suka maupun duka."
Semua orang langsung senang saat mendengar ucapan Rita, terutama Soni yang ingin sekali memeluk tubuh wanita itu dengan erat.
Setelah lamaran di terima, Soni langsung menyematkan cincin ke jari manis Rita. Begitu juga dengan Rita yang memasukkan cincin ke jari manis Soni. Lalu acara itu dilanjutkan foto bersama sebagai kenang-kenangan.
Kemudian mereka semua mulai membahas tentang pernikahan. Mulai dari tempat acara, pakaian, tamu undangan dan segala perlengkapan yang harus di siapkan.
Sampai tidak terasa jika jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Soni dan semua keluarganya beranjak pamit dari rumah itu. Hari sudah semakin larut, dan besok harinya mereka harus sudah menyiapkan segala perlengkapan pernikahan.
***
Setelah seminggu berkutat dengan kesibukan yang sangat padat, akhirnya semua persiapan pesta sudah diselesaikan dan hari ini adalah hari bersejarah untuk Soni dan juga Rita.
__ADS_1
SAH
Satu kata sebagai saksi bahwa bersatunya dua insan di bawah tali pernikahan menggema di aula pesta. Semua orang tampak bahagia bahwa acara akad berjalan dengan baik, terutama Soni dan Rita yang saat ini sudah sah menjadi suami dan istri.
Tepuk tangan yang meriah juga mengema di ruang aula yang terlihat cantik dan juga menawan. Warna gold dari tirai-tirai yang ada di setiap sudut ruangan menambah kesan elegan, hingga membuat siapa saja kagum saat melihat pesta pernikahan ini.
Para keluarga mengucapkan selamat dan berdo'a agar rumah tangga Soni dan juga Rita diberikan keberkahan, kebahagiaan serta ketenangan sampai maut memisahkan.
Para tamu undangan juga turut mengucapkan selamat dan melambungkan do'a-do'a mereka, tentu saja mereka juga ikut bahagia dengan bersatunya dua insan yang bahagia.
Soni dan Rita terus tersenyum lebar sepanjang acara, kebahagiaan terlihat jelas dari panjaran wajah mereka berdua hingga senyum itu tak pernah surut.
Para tamu undangan silih berganti dan mengucapkan selamat secara langsung pada kedua mempelai membuat kaki Rita serasa ingin patah, tetapi sekuat tenaga dia menahannya demi acara yang sangat bersejarah saat ini.
Acara dilanjutkan dengan resepsi sampai malam hari. Para artis yang diundang untuk memeriahkan acara benar-benar membuat semua orang terhibur, hingga tidak terasa waktu sudah larut malam dan satu-persatu tamu mulai meninggalkan tempat acara.
Soni dan Rita juga sudah merasa sangat lelah dan memutuskan untuk segera istirahat, tapi biar bagaimana pun mereka benar-benar merasa sangat bahagia.
"Tubuhku lelah sekali hari ini, Soni. Rasanya aku sudah tidak bisa bergerak lagi."
Soni tersenyum saat mendengar apa yang Rita katakan, dia lalu membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.
Dengan cepat Soni merangkak naik ke atas ranjang dan langsung mengangkat tubuh Rita membuat wanita itu tersentak kaget. Kedua matanya terbuka lebar dan menatap sang suami dengan heran.
"Apa, apa yang kau lakukan, Soni?" tanyanya dengan tergagap, bahkan wajahnya sudah memerah saat ini.
"Aku akan memandikanmu, Sayang. Kau bilang kau lelah sekali bukan?"
Rita langsung menggelengkan kepalanya dan meminta Soni untuk menurunkan tubuhnya. "A-aku bisa sendiri, Soni. Tunggulah di sini." Dia langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi membuat Soni tergelak.
__ADS_1
"Haha, dia menggemaskan sekali."
Soni sudah merasa tidak tahan untuk menerkam sang istri saat ini juga. Apalagi saat melihat raut wajah Rita yang langsung malu saat dia mengatakan akan memandikan wanita itu, membuat jantung berdegup kencang dengan hasrat yang kian membara.
Setelah Rita selesai mandi, Soni juga bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Malam ini adalah malam penting untuk mereka berdua, di mana mereka akan saling menyatu satu sama lain dengan kedua hati yang saling mencintai.
Rita merasa sangat gugup saat ini. Dia bergerak dengan gelisah menunggu Soni dengan jantung berdebar-debar.
Tidak berselang lama, Soni sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk saja membuat wajah Rita kian memerah. Tentu saja Soni sangat suka melihatnya dan langsung duduk di samping sang istri.
"Apa malam ini aku bisa mendapatkan hakku sebagai suamimu, Sayang?"
Helaan napas Soni menyapu bahu Rita yang terbuka karena dia memang sudah memakai alat tempurnya membuat laki-laki itu kian meradang. Dia lalu menganggukkan kepalanya membuat senyum lebar terbit di wajah Soni.
Akhirnya mereka menghabiskan malam dengan kenikmatan yang tiada tara. Rasa cinta dan kasih sayang membuncah keluar dengan sentuhan-sentuhan yang membakar gairah, hingga pengantin baru itu bersatu dalam indahnya surga dunia.
"Aku mencintaimu, Sayang. Tetaplah bersamaku dan menjadi pendampingku untuk selamanya." Soni mengecup seluruh wajah Rita kala penyatuan mereka sedang terjadi.
Rita yang sedang merintih menahan kenikmati yang Soni berikan menganggukkan kepalanya. "Aku juga mencintaimu, Suamiku. Aku akan selalu mendampingimu dan berada di sisimu untuk selamanya."
Akhirnya semua orang mendapat kebahagiaan masing-masing dan berharap agar kebahagiaan itu akan bertahan selamanya.
Kadang kala hidup akan menerima banyak cobaan yang membuat suatu hubungan menjadi retak. Namun, percayalah jika siapa saja yang berasil melewati ujian itu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Maka hubungan yang terjadi akan semakim kokoh, dan tidak akan tumbang walau diterjang badai.
•
•
•
__ADS_1
Tamat.
Terima kasih kepada semua pembaca yang sudah setia mengikuti kisah Bella dan yang lainnya dalam karya ini 🙏 saya tidak bisa sampai sejauh ini tanpa dukungan dari kalian semua 🥰 sekali lagi terima kasih banyak 😘 jangan lupa mampir ke karya aku yang lainnya. Peluk jauh dari aku 🤗