Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 35. Uangkapan Cinta Yang Sangat Manis.


__ADS_3

Abra mengajak Bella untuk ke apartemennya yang setahun lalu dia beli, sebenarnya sudah lama dia ingin tinggal di tempat itu tetapi Papa nya tidak mengizinkan.


"Ayo, kita turun!"


Bella menganggukkan kepalanya dan segera keluar dari mobil, dia terus mengikuti langkah Abra untuk masuk ke dalam apartemen yang cukup mewah menurutnya.


"Bagaimana? Apa kau menyukainya?"


Bella memperhatikan ke seluruh isi apartemen, senyumnya mengembang karna apartemen itu benar-benar terlihat sangat cantik.


"ini benar-benar cantik!"


"Aku senang kalau kau menyukainya!"


Abra yang sudah berbalik dan hendak pergi ke dapur, terpaksa mengurungkan niatnya saat Bella menggenggam tangannya.


"Ada yang ingin aku bicarakan!"


Abra melihat ke arah Bella yang menatapnya dengan sendu. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?"


Bella menganggukkan kepalanya, tentu saja semua ini sangat mengganggu pikirannya, hingga sejak tadi tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata.


Abra lalu mengajak Bella untuk duduk diruang keluarga, dia lalu pergi sebentar ke dapur untuk mengambil minuman untuk mereka.


"Minum dulu!"


Bella mengambil minuman yang Abra berikan dan meminum air itu sampai kandas, membuat Abra tersenyum saat melihatnya.


"apa, apa kau yakin dengan semua yang sedang kau lakukan ini?" tanya Bella setelah meletakkan gelas bekas minumnya ke atas meja.


Abra menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan Bella. "Awalnya aku tidak yakin, Bel! Tapi saat melihatmu, keyakinanku berubah menjadi 100%!"


"Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau melawan keluargamu sendiri?"

__ADS_1


Bella kembali menangis, sungguh dia tidak ingin semua ini terjadi pada Abra. Dia bahkan rela menjauh dari laki-laki itu, asalkan Abra bisa kembali pada keluarganya.


"Aku tidak melawan mereka, Bella! Aku hanya tidak setuju dengan apa yang mereka inginkan, dan aku hanya ingin mendapatkan hakku sebagai manusia!"


Abra mendessah frustasi, dia hanya ingin hidup tenang bersama dengan anak dan juga istri yang dia cintai. Tidak ada lagi aturan yang terus mengekangnya, dia ingin sedikit saja merasakan udara bebas.


"Apa, apa maksudmu?"


Bella tidak mengerti dengan hak apa yang Abra maksud, karna selama ini lelaki itu hidup bahagia dengan harta yang berlimpah.


"Aku hanya ingin hidup tenang bersama wanita yang aku cintai. Aku ingin membesarkan anak-anakku dengan penuh kebahagiaan, dan kebahagiaan itu ada bersamamu, Bella!"


Bella terdiam, sumpah demi apapun dia sangat senang mendengarnya. Bahkan saat ini dia sangat ingin sekali memeluk laki-laki yang sudah sangat mencintainya itu, tapi ...


"Tolong pikirkan sekali lagi, Abra! Aku tidak mau kau berpisah dengan keluargamu, aku juga tidak mau melihatmu seperti ini!"


Abra langsung beranjak dari duduknya dan duduk tepat di samping Bella, dia memegang kedua bahu wanita itu sambil menatapnya tajam.


"Sekarang katakan padaku! Apa kau juga mencintaiku?"


"Aku, aku tidak mencintaimu, Abra!"


Deg, dada Abra terasa sesak saat mendengar jawaban dari Bella. Akan tetapi, kedua mata wanita itu seakan-akan berlawanan dari apa yang mulutnya ucapkan.


"Katakan sekali lagi, katakan kalau kau tidak mencintaiku!"


Sekuat tenaga Bella menahan air mata yang sudah menggenang dipelupuk mata, dia harus membuat laki-laki itu percaya kalau dia tidak mencintainya.


"Aku, aku, aku tidak ...."


Entah kenapa lidahnya terasa sangat susah untuk digerakkan, padahal hanya tinggal mengatakan tidak maka semua masalah pasti bisa diselesaikan.


"Aku, aku-"

__ADS_1


Abra langsung menarik Bella ke dalam pelukannya, dan memeluk tubuh wanita itu dengan erat.


Air mata yang sejak tadi ditahan langsung tumpah saat tubuh mereka saling merapat, kata-kata tidak yang sejak tadi ingin Bella ucapkan seakan langsung lenyap dan berganti dengan cinta.


"Jangan memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan hatimu, Bel! Karna akhirnya kau sendiri yang akan terluka sangat dalam!"


Bella menganggukakkan kepalanya dengan membalas pelukan Abra. "Lebih baik aku yang merasakan sakit itu, daripada harus melihatmu seperti ini!'


Abra langsung melerai pelukannya dan menatap wajah sendu Bella. "Itu tidak benar, Bella! Tidak benar bagi dua orang yang saling mencintai, tapi terluka karna berusaha untuk membuat yang lainnya bahagia! Itu semua tidak ada artinya, karna apa yang kau lakukan justru akan semakin membuatku terluka!"


Bella menganggukkan kepalanya, untuk pertama kalinya dia menggenggam kedua tangan Abra dan mengecup tangan itu dengan bibirnya yang basah.


"aku mengerti, aku mengerti dengan apa yang kau katakan! Hanya saja dunia ini sangat kejam, Abra! Aku tidak mau kau terluka karna kekejaman dunia ini, cukup aku yang jatuh ke dalam lubang hitam yang sangat kotor dan hina!"


"Ssstt, aku tidak ingin kau mengingat kembali apa yang terjadi di masa lalu!"


Abra kembali memeluk tubuh Bella dan menyandarkan kepala wanita itu didadanya yang bidang, agar Bella dapat merasakan debaran jantungnya yang berpacu cepat saat bersama seperti ini.


"Apapun yang terjadi di masa lalu, itu adalah duniamu, dan aku tidak peduli. Aku hanya ingin terus bersamamu, mulai saat ini dan seterusnya. Terlepas dari apa yang sudah terjadi, aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun!"


Wanita mana yang tidak bahagia mendengar ungkapan cinta yang begitu manis dan dalam, bahkan rasa bahagia itu terasa menusuk disetiap tulang-tulang dan mengalir dalam darah.


"Mari menua bersamaku dan anak-anak kita, Bella! Kita hadapi semua ini bersama-sama. Aku yakin suatu saat nanti, kita akan meraih kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata!"


Bella langsung menganggukkan kepalanya beberapa kali untuk mengiyakan ajakan Abra. "Aku, aku menerimanya! Aku akan selalu bersamamu dan berada di sisimu untuk selamanya!"


Cup, cup, cup. Abra langsung mengecup seluruh wajah Bella saat wanita itu bersedia untuk bersamanya, dia merasa sangat-sangat bahagia saat ini.


"Tuhan, aku mohon kabulkan semua harapan dan keinginan kami. Berikanlah kebahagiaan untuk keluarga kecilku, dan lindungilah kami dari segala mara bahaya!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2