
Hari berganti hari, Sejak hari Angel memutuskan Aarav, ia tak pernah melihat pemuda itu lagi di kampus. Angel pikir Aarav mungkin kecewa padanya. Ia sering melihat Yoga dan Karin, tapi ia selalu menghindar dari mereka. Ia sudah tidak ingin berurusan dengan Aarav dan teman-temannya lagi.
Angel sedang duduk diatas ranjangnya sambil menyilangkan kakinya ketika Arini tiba-tiba masuk kedalam kamarnya yang kebetulan pintunya memang sedikit terbuka.
Arini menghampiri putrinya dan duduk ditepi ranjang menghadap ke arah putrinya itu.
"Angel.. mama mau bicara sama kamu..", Ucap Arini
"Bicara apa ma??", Tanya Angel
"Mama sudah putuskan kalau kita akan pindah dari sini", Ucap Arini
Angel nampak terkejut mendengar ucapan mamanya
"Pindah?? Pindah kemana ma??", Tanya Angel
"Ke rumah Nenek kamu. Nenek kamu kan tinggal sendirian disana, sekalian kita nemenin nenek disana. Kita pindah ke sana ya??", Pinta Arini
"Tapi ma!, Kuliah Angel gimana?? Angel udah semester 5, masa Angel gak terusin. Nanti Angel akan cari kerja lagi buat biaya kuliah Angel", Tolak Angel
"Maafin mama nak.. Mama cuma gak mau kamu terkena masalah lagi disini. Tolong kamu ngerti ya nak.. mama cuma khawatir sama kamu. Mama sayang sama kamu. Mama gak mau kamu kenapa-kenapa..", Ucap Arini sedih
Angel hanya Terdiam menatap mamanya. Ia tau akan kekhawatiran mamanya itu. Lagipula dia sudah kehilangan sahabatnya Vania, dan juga orang yang ia cintai yaitu Aarav. Apa ia harus mengorbankan kuliahnya juga.
Mungkin mamanya benar. Selain mamanya, ia tak punya siapa-siapa lagi
Angel menggenggam tangan mamanya dan menatap mamanya
"Iya ma.. Angel akan ikut mama", Ucap Angel
"Makasih sayang.." Isak Arini
Angel berusaha tersenyum, Arini memeluk putrinya itu.
***
Aksara Sudah pulang dari rumah sakit sejak dua hari yang lalu. Tapi ia masih harus banyak istirahat di rumah.
Aarav mengetok pintu kamar papanya. Aksara mempersilahkannya masuk. Aarav membuka pintunya dan melihat papanya yang duduk selonjoran diatas ranjangnya.
"Papa manggil Aarav??", Tanya Aarav
"Iya.. kemari nak..", jawab Aksara
Aarav berjalan ke arah papanya dan duduk di tepi ranjang sambil menghadap papanya
"Ada apa pa??", Tanya Aarav
"Aarav sebelumnya papa mau minta maaf. Tapi papa mau minta tolong sama kamu. Tolong kamu tetap disini ya nak. Masalah perpindahan kuliah kamu nanti biar papa yang urus. Papa ingin kamu mulai bantu papa buat ngurus perusahaan papa. Kamu lihat sendiri kan, papa kalau terlalu capek langsung ngedrop begini. Kamu sudah dewasa, papa harap kamu bisa mengerti", jelas Aksara
Aarav hanya terdiam, ia tau cepat atau lambat papanya pasti akan meminta hal ini padanya. Tapi ia masih punya urusan yang belum ia selesaikan, ia harus menemui Angel. Karin sudah menceritakan semuanya di telefon. Harusnya ia pergi menemui gadis itu dan memperbaiki hubungan mereka sekarang.
__ADS_1
"Masalah barang-barang kamu nanti biar Bi Iin dan mba Yuyun yang bawa kemari dengan diantar supir. Sekalian mereka pindah kerja disini lagi. Rumah di Bandung biar dikosongkan lagi saja. Ada yang jaga ini disana, nanti seminggu sekali akan ada yang datang buat bersihin rumah itu. Takutnya kalau sewaktu-waktu kita kesana jadi rumah selalu bersih", Ucap Aksara
"Iya pa.. Aarav mengerti..", Ucap Aarav
"Terima kasih ya nak..", Ucap Aksara senang
"Kalau begitu Aarav balik ke kamar dulu pa..", pamit Aarav
"Iya.. iya..", jawab Aksara
Aarav pun beranjak bangun dan pergi meninggalkan kamar papanya. Ia menutup pintu kamar itu.
Yuniar melihat putranya keluar dari kamarnya, ia pun berjalan mendekati putranya itu
"Kamu sudah bicara dengan papa sayang??", Tanya Yuniar penasaran
Aarav mengangguk
"Iya ma sudah.. ", jawab Aarav
"Jadi gimana?? Kamu mau tinggal disini kan??", Tanya Yuniar
"Iya ma..", ucap Aarav
Yuniar pun tanpak bahagia sekali mendengar persetujuan putranya itu
"Makasih ya sayang.."
***
Angel sedang mengemasi barang-barangnya dikamarnya. Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas besarnya.
Hatinya sangat berat hendak meninggalkan rumah itu. Rumah itu adalah satu-satunya kenangan ia bersama papanya dulu. Karena sejak menikahi mamanya, papanya berusaha keras mencari uang untuk membeli rumah itu, agar mereka bisa misah dan punya rumah sendiri. Akhirnya saat Angel berusia 4 tahun, papanya memboyong ia dan mamanya ke rumah itu. Tapi sekarang ia harus kembali ke rumah neneknya lagi, walaupun jarak dari rumah itu kerumah neneknya hanya sekitar 2 jam.
Mata Angel mulai berkaca-kaca, begitu banyak kenangannya disini. Kenangan lama bersama almarhum papanya dan kenangan baru bersama Aarav walaupun hanya sesaat tapi sangat berkesan baginya.
Angel melihat jas Aarav yang masih tergantung di dinding kamarnya. Ia pun berjalan mengambil jas itu. Ia menangis memeluk jas itu.
"Aku tau kita sudah berakhir.. tapi aku sangat merindukanmu...", Isak Angel
Angel berjalan kembali ke arah ranjangnya dan memasukkan jas itu kedalam tasnya yang berada diatas ranjang.
Arini membuka pintu kamarnya dan menghampirinya. Angel menyeka air matanya
"Kamu sudah siap sayang??", Tanya Arini
"Sudah ma.." jawab Angel
"Mama sudah pesan dua ojek di depan. Kita berangkat ke terminal sekarang ya..", Ucap Arini
Angel mengangguk pelan
__ADS_1
"Mama tunggu di depan ya.."
Arini tersenyum dan mengelus pipi putrinya sebentar, kemudian ia keluar meninggalkan kamar putrinya itu. Angel sekali lagi melihat sekeliling kamarnya itu, kamar yang penuh kenangan untuknya. Tak berselang lama Angel mengikuti mamanya keluar dari rumah itu.
Di depan rumah sudah ada dua tukang ojek yang menunggu mereka.
"Pak tolong antar kami ke terminal ya..", ucap Arini pada dua tukang ojek itu
"Baik Bu...", Jawab salah satu dari mereka
Arini naik ke salah satu motor, sementara Angel yang masih terdiam dan memandangi rumah itu dari depan. Tak lama Angel pun ikut naik ke motor satunya lagi. Mereka pun berangkat menuju terminal bus.
***
Malam itu Aarav berdiri di balkon rumahnya sambil menatap kearah halaman rumah itu dari atas balkon.
Sudah seminggu lebih ia dijakarta, ia merasa sangat merindukan Angel. Ia mencoba beberapa kali menghubungi Angel tapi nomornya tidak pernah aktif. Dan saat ini ia juga belum bisa kembali ke Bandung untuk menemui gadis itu langsung.
Aarav merogoh saku celananya dan mengeluarkan hp nya. Ia coba menghubungi Karin
"Halo Rav.. kemana aja sih.. lama banget gak balik-balik.. gimana om Aksara udah sembuh kan?", Tanya Karin dari sambungan telefon
"Udah mendingan kok.., Oya gimana Angel??", Tanya Aarav
"Gue beberapa kali lihat dia dikampus, cuma dia selalu ngehindar dari gue. Mending lu cepet balik dan lu kasih tau semuanya ke dia kalau waktu itu dia cuma dijebak sama temennya dia tuh si Vania", Ucap Karin
"Mungkin gue gak bakal balik kesana lagi", ucap Aarav
"Kenapa??", Tanya Karin
"Papa mindahin kuliah gue disini dan gue disuruh buat bantuin papa di perusahaan papa.." jawab Aarav
"Terus Angel gimana??" Tanya Karin
"Nanti gue akan usahain kesana buat nemuin dia", jawab Aarav
"Hmm.. ya udah kalau gitu.. tapi kalau bisa jangan lama-lama, kasian Angel", ucap Karin
"Iya gue usahain secepatnya..", Jawab Aarav
"Ya udah gue matiin dulu telefonnya ya, bye..", ucap Karin
Sambungan telefon pun terputus.
Aarav menaruh kembali hp nya disakunya dan ia melihat ke langit, malam itu sangat cerah. Banyak bintang-bintang bertaburan dilangit dan bulan yang nampak bulat sempurna. Mungkin jika saat ini ia sedang bersama Angel pasti sangat romantis.
Sementara itu Angel sudah menaiki dan duduk di bus. Bus itu sudah berjalan sejak 30 menit yang lalu. Mamanya yang duduk disebelahnya pun sudah tertidur pulas. Angel menatap keluar kaca bus. Ia kembali mengingat kenangannya bersama Aarav.
Mungkin Aarav akan mencarinya atau mungkin juga tidak pikirnya. Ia mengingat kalung yang diberikan Aarav, ia memegang kalung itu dan ia membuka liontin nya. Ia melihat foto Aarav disana. Ia mulai meneteskan air matanya.
"Selamat tinggal.. kenangan.. aku akan selalu merindukanmu..", Isak Angel
__ADS_1
Angel kembali menatap keluar kaca