
Aarav melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Ia menuruni tangga dan menuju ke arah meja makan. Disana Aksara dan Yuniar tengah duduk sambil menikmati sarapannya.
"Pa.. ma.. Aarav langsung berangkat kerja ya. Nanti sarapan di luar saja" pamit Aarav
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya nak", ucap Aksara
"Tapi ada yang mau mama bicarakan sama kamu dulu", sambung Yuniar
"Aarav pergi dulu pa.. ma..", Ucap Aarav tanpa menghiraukan ucapan mamanya itu
Aarav melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat itu
"Aarav!! Mama belum selesai bicara!", Teriak Yuniar
"Sudahlah ma.. biarkan saja", Ujar suaminya
"Papa ini ya, selalu saja belain Aarav. Mama kan mau ngomongin masalah pertunangan Aarav dan Nabila pa..", Ucap Yuniar
"Ma.. biarkan Aarav yang menentukan pilihannya. Mama jangan memaksakan Aarav terus. Papa lihat Aarav sama sekali tidak mencintai Nabila. Semua karena keinginan mama saja kan?", Ucap Aksara
"Nabila itu anak sahabat mama. dia cantik, baik dan berpendidikan Pa.. dia sangat cocok untuk bersanding dengan Aarav. Lagi pula mereka juga sudah kenal lama. Jadi gampang akrab, itu lebih mudah untuk mereka menjalin hubungan", Ujar Yuniar
"Terserah mama saja. Tapi kalau Aarav tidak mau mama jangan memaksakan" Ucap Aksara sambil beranjak pergi meninggalkan istrinya itu di meja makan sendirian
Sementara itu Aarav yang terus melamun di dalam mobilnya mengingat kejadian semalam tentang suara pria di telfon.
Ia masih bertanya-tanya siapakah pria itu, apakah Angel memang sudah melupakannya begitu saja
Lampu merah menyala dan supirnya pun menghentikan mobilnya. Tampak di luar sebuah motor berhenti disamping mobil Aarav. Aarav menoleh ke arah samping dan melihat gadis pujaannya itu sedang berboncengan dengan seorang pria.
Ia pun tertegun tak percaya jika memang benar gadis itu sudah berpindah ke lain hati dan melupakannya begitu saja.
Saat lampu hijau menyala, Motor itu pun melaju dan diikuti mobil Aarav di belakangnya.
Sesampainya didepan kantor Aarav turun dari mobilnya. Ia melihat sekeliling dan tak melihat gadis itu disana. Ia pun melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung itu. Seperti biasa, semua orang yang melihatnya langsung menyapanya. Didalam ia pun kembali melihat sekeliling tapi tak juga melihat gadis itu. Ia penasaran dengan siapa gadis itu datang.
Aarav melangkahkan kakinya menuju arah lift dan menaiki lift itu. Setelah pintu lift tertutup, Angel dan Dito masuk ke dalam gedung itu. Mereka pun berjalan ke ruang kerja mereka.
Pintu lift terbuka dan Aarav berjalan ke arah meja Devi, sekertaris nya. Devi yang juga baru sampai pun menyapa Aarav
"Selamat pagi pak..", Ucap Devi
"Devi.. apa kamu tau kalau di kantor kita ada yang berpacaran dengan staf yang baru?", Tanya Aarav to the points
Devi yang mendengar ucapan Bos nya itu pun melongo tak percaya dengan pertanyaan bos nya. Ia merasa heran dengan tingkah laku bos nya sejak kemarin
"Maaf pak.. tapi saya tidak tau.." Jawab Devi
Aarav yang mendengar jawaban Devi pun langsung pergi menuju ruangannya. Devi hanya memandangi kepergian bos nya itu dengan tatapan bingung
"Pak Aarav kenapa sih? Dari kemarin aneh.. gak biasanya. Ini malah pakai nanyain staf yang pacaran. Ya mana aku tau..", gumam Devi
Selama di ruangannya Aarav benar-benar tidak berkonsentrasi dalam bekerja. Rasa penasaran terus melanda dalam hati dan pikirannya. Rasanya ia ingin menemui gadis itu sekarang dan menanyakannya langsung.
Ia pun beranjak bangun dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangannya.
Sementara itu di lantai bawah Nabila masuk kedalam kantor Aarav. Ia melihat Angel yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
__ADS_1
"Itu kan gadis yang waktu itu", gumam Nabila
Nabila pun berjalan ke arah gadis itu
"Hei...", Sapa Nabila membuat gadis yang disapanya itu berhenti dan melihat ke arah nya.
"Kamu yang waktu itu nolongin aku kan?", Tanya Nabila memastikan
"Iya.. kita ketemu lagi" Jawab Angel
"Kamu kerja di sini sekarang??", Tanya Nabila
"Iya, aku baru beberapa hari masuk. Kamu sendiri? Pasti mau menemui pacar kamu ya?", Tanya Angel
Nabila mengangguk
"Iya.. aku mau ngajak dia buat milih cincin tunangan buat kami", Ucap Nabila
"Wah.. selamat ya.. O,ya.. cowok kamu kerja di bagian apa?", Tanya Angel
"Dia..."
Belum sempat Nabila menjawabnya, ia melihat Aarav yang sudah berjalan ke arah mereka. Pria itu berjalan dari arah belakang Angel
"Oh.. itu dia...", Ucap Nabila
Aarav pun berhenti di belakang Angel
"Sayang.. kenalin ini gadis yang waktu itu nolongin aku..", Ucap Nabila
Aarav pun tak kalah kagetnya melihat Angel yang kini berdiri dihadapannya.
Nabila berjalan ke arah Aarav dan berdiri disamping pria itu. Ia menggandeng lengan pria itu
"Kenalin, ini calon tunangan aku. Dia Direktur di perusahaan ini", Ucap Nabila
Angel pun dibuat kaget dengan Ucapan Nabila. Ia melihat ke arah Aarav yang juga terus memandanginya. Matanya mulai berkaca-kaca tapi ia menahan agar air matanya tak terjatuh.
Angel mengulurkan tangannya
"Angel...", Ucapnya
Aarav terus menatap lekat wajah gadis itu dan menyambut uluran tangan gadis itu
"Aarav...", Sautnya
Angel melepaskan tangannya dari jabatan tangan Aarav. Seketika hatinya terasa hancur melihat sosok yang selalu ia rindukan kini telah bersama wanita lain.
"Sepertinya aku harus kembali bekerja. Aku permisi dulu", Ucap Angel
Angel pun berjalan cepat dan meninggalkan Aarav dan Nabila. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi menahan air matanya yang Sudah membendung dimatanya.
"Hei tunggu..."
Nabila coba memanggilnya tapi Angel tak menghiraukannya. Air matanya pun menetes membasahi pipinya. Hatinya terasa sakit dan dadanya begitu sesak. Ia memang selalu berharap bisa melihat pria itu lagi tapi ia tak menyangka bisa melihatnya lagi disaat pria itu sudah bersama wanita lain.
__ADS_1
Angel memencet tombol lift dan tak menunggu lama lift langsung terbuka dan ia pun masuk kedalamnya.
Aarav menyadari bahwa gadis itu pasti sedang menangis. Ia melepaskan tangan Nabila dari lengannya
"Aku masih banyak kerjaan. Kamu pulang saja dulu, nanti aku akan menemuimu", Ucap Aarav
"Tapi kita harus memilih cincin untuk pertunangan kita sekarang", jelas Nabila
Aarav tak menghiraukan penjelasan dari Nabila, ia pun langsung pergi berlari menuju arah lift tanpa menghiraukan teriakan dari Nabila. Tapi pintu lift itu sudah keburu tertutup. Ia pun berlari menaiki tangga demi mengejar gadis yang sangat ia cintai itu.
Sementara didalam lift, Angel terus meneteskan air matanya. Ia sudah berkali-kali menyeka air matanya tapi air matanya kembali menetes membasahi pipinya itu. Tak lama pintu lift pun terbuka, ia pun kembali menyeka air matanya karena ia tak ingin ada yang melihatnya sedang menangis. Ia pun berjalan keluar dari dalam lift.
Tiba-tiba Aarav muncul dari tangga dan berlari ke arahnya.
Ia pun merasa kaget kenapa pria itu muncul di hadapannya lagi, bukankah seharusnya dia sudah pergi bersama calon tunangannya tadi untuk memilih cincin untuk pertunangan mereka.
Aarav berhenti didepan Angel dengan nafas terengah-engah. Ia tau gadis itu habis menangis. Jika memang gadis itu sudah melupakannya lalu kenapa dia harus pergi dan menangis saat melihatnya bersama Nabila tadi.
Aarav meraih tangan Angel dan kembali menariknya masuk ke dalam lift. Aarav menekan tombol angka dimana ruangannya berada. Gadis itu begitu menurut dan tak memberi penolakan apapun.
Pintu lift terbuka, Aarav yang masih memegangi tangan gadis itu kembali menariknya dan membawanya masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia pun menutup pintu ruangannya dan hendak membawa gadis itu menuju sofa yang berada diruang kerjanya itu. Gadis itu menghentikan langkahnya dan membuat Aarav ikut berhenti dan berbalik menghadapnya. Mata mereka pun kembali bertemu
"Jangan bilang kamu sudah tahu dari awal", Ucap gadis itu pelan
Aarav hanya mengangguk pelan. Gadis itu pun memejamkan matanya dan air mata kembali menetes di pipinya itu.
Aarav melihat kesedihan diwajah gadis itu. Ia pun menarik tangan gadis itu dan membawanya kedalam pelukannya.
Kini gadis itu menangis di dalam pelukannya itu. Ia sangat merindukan gadis itu. Gadis yang selama ini ia cari-cari kini ada didalam pelukannya. Ia tak ingin melepaskan gadis itu lagi. Ia pun tau gadis itu juga sangat merindukannya sama seperti dirinya.
Aarav melepaskan pelukannya dan menatap manik mata gadis itu. Ia menangkup wajah gadis itu dan menyeka air mata gadis itu dengan kedua tangannya.
"Aku mencari-cari kamu. Kenapa kamu pergi dan tak pernah kembali??" Ucap Aarav dengan mata berkaca-kaca
Angel masih terdiam, ia melepaskan kedua tangan pria itu dari wajahnya.
"Dulu aku merasa tidak pantas untuk kamu, dan sekarang pun aku masih tetap tidak pantas bukan?", Ucap Angel
"Kenapa kamu berfikir kalau kamu tidak pantas? Semua yang terjadi dulu adalah Kesalah pahaman. Semua itu hanya rekayasa temanmu", Aarav mencoba meyakinkan Angel
"Aku tau... Tapi apa yang terjadi tadi, bukan rekayasa kan?", Angel kembali meneteskan air matanya saat ia teringat tentang Aarav dan Nabila
Angel berbalik dan hendak meninggalkan Aarav, tapi pria itu malah memeluknya dari belakang.
"Jangan pernah berfikir untuk bisa pergi lagi dariku" tegas Aarav
"Jangan seperti ini.. tolong perlakukan aku layaknya seorang bawahan", Angel menangis terisak
Aarav melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh gadis itu sehingga membuat mata mereka kembali bertemu
"Kita sudah berakhir... Tolong lupakan aku..", Ucap Angel
Perlahan Angel berjalan mundur sambil terus menatap mata pria itu. Ia pun berbalik dan berlari pergi meninggalkan pria itu. Ia membuka pintu ruangan itu dan keluar, ia kembali menutup pintunya dan menyenderkan dirinya di depan pintu sambil menangis tertahan.
Tak lama ia pun menyeka air matanya dan mulai berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Ia tak ingin ada yang melihatnya disana.
Devi yang baru datang pun nampak bingung melihat Angel yang baru saja keluar dari ruangan bos nya. tumben-tumbenan bos nya mengijinkan karyawan masuk selain dirinya.
__ADS_1