Mengenal Sang Pencipta dengan bantuan system

Mengenal Sang Pencipta dengan bantuan system
Bab 21. Tata cara berwudhu


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Azam sudah mulai tekun belajar dalam pengucapan kalimat syahadat Azam sudah lancar kini dia akan belajar sesuci cara berwudhu setelah itu barulah Azam akan belajar tata cara shalat.


Azam dan pak Rohim saat ini sedang berada di bawah pancuran tempat pak Rohim bisa mengambil air wudhu, pak Rohim sendiri yang mengajak Azam ke tempat itu karena memang disitulah tempat biasa pak Rohim berwudhu.


Udara yang begitu segar di Lombok membuat Azam begitu betah tinggal di tempat itu, apalagi di rumah pak Rohim suasana nyaman selalu Azam rasakan, ditambah lagi para warganya yang begitu ramah pada orang lain membuat Azam benar-benar merasa betah di desa Lombok tersebut.


Yang lebih membuat Azam senang mereka tidak membedakan yang mana miskin dan kaya bagi mereka semua sama.


Biasanya orang yang kaya akan selalu berbagi pada orang kurang mampu, setiap kali melihat hal itu Azam merasa dirinya begitu sombong banyak harta tapi tidak pernah dia sedekahkan pada yang lebih membutuhkan ada biasanya dia malah menabung uangnya untuk di investasikan.


Azam begitu menyesal melakukan semua ini, mungkin jika sistem itu tidak menyeretnya sampai ke Lombok dia tidak akan tahu banyak hal tentang agamanya. 


Masih di tempat yang sama kali ini pak Rohim benar-benar mengajari Azam cara berwudhu dengan baik. "pertama jika berwudhu itu maka kita diwajibkan niat"


"Kamu hafal niatnya wudhu Nak Azam"


"Maaf pak saya belum hafal" sesal Azam.


"Tak apa selagi kamu mau belajar Insya Allah lama kelamaan akan hafal dengan sendirinya jika terus dibaca"


"Aamiim" sahut Azam, karena ucapan pak Rohim mengandung doa untuk dirinya.


"Boleh ikuti yang saya ucapkan" ujar pak Rohim.


"Iya pak" 

__ADS_1


" Bismillahirohmanirohim Nawaitul wudhu a liraf'il hadatsil asghori fardu lillahi ta'ala" 


"Ayo nak Azam coba diikuti" suruh pak Rohim lagi yang mendapat anggukan dari Azam.


Bismillahirohmanirohim Nawaitul wudhu a liraf'il hadatsil asghori fardu lillahi ta'ala" Azam menggulai apa yang dilafalkan pak Rohim tapi masih terbata-bata.


"Tak apa nak Azam ayo ulangi sekali lagi" suruh pak Rohim lagi, selama belajar Azam tak pernah mengeluh sedikitpun, karena dia sadar diri semua ulah dirinya sendiri yang membuat dirinya susah belajar, coba saja kalau dia dulu menyeimbagkan dunia dan akhirtanya pastik tidak anak seperti sekarang ini.


Lagian tidak ada kata telat belajar, mau umur kita seberapapun kau kita masih mau belajar agama dengan baik tak ada kata telat belajar.  


"Bismillahirohmanirohim Nawaitul wudhu a liraf'il hadatsil asghori fardu lillahi ta'ala" Azam mengulangi sampai tiga kali tapi masih belum terlalu lancar.


"Tidak apa-apa kalau sering dipakai Insya Allah nanti lama-lama hafal sendiri" ucap pak Rohim lagi.


"Nak sekarang saya mau ngasih tahu Nak Azam lebih dulu sebelum kita melakukan kegiatan selanjutnya"


Azam menyimak dengan saksama apa yang disampaikan oleh pak Rohim. "Nah yang kedua itu membasuh muka, ingat ya membasuh muka bukan mengusapnya" pak Rohim menjelaskan sambil langsung mempraktekkan pada Azam.


"Membasuh seluruh wajah itu harus kena semua han begini caranya" pak Rohim mengambil air di kedua tanganya sebagai wadah lalu setelah itu pak Rohim membasuh  seluruh area wajahnya sampai merata dengan air tadi bahkan sampai ke bawah dagu beliau.


"Sekarang kita lanjut ke yang ketiga membasuh kedua tangan ingat ya harus tertib dari tangan kanan dulu baru ketagan kiri membasuhnya juga harus sampai mengenai siku-siku agar lebih menjaga-jaga takut tidak terkena siku maka tak apa membasuhnya sampai ke atas siku-siku"


"Sekarang Nak Azam coba praktekan yang tiga tadi dulu baru setelah itu kita lanjut ke yang berikutnya"


Azam mengambil wudhu dengan cara yang dipraktekan pak Rohim, awalnya memang sedikit sulit, tapi karena Azam memang bersungguh-sungguh untuk belajar dalam tiga kali cobaan Azam sudah bisa melakukannya dengan baik.


"Alhamdulillah" ucap pak Rohim merasa bahagia sekali karena Azam berhasil melakukanya dengan baik.

__ADS_1


"Sekarang yang keempat mengusap ya bukan membasuh ingat-ingat mengusap, mengusap kepala kita, seperti ini"


Lagi-lagi  pak Rohim mempraktikan pada Azam, pak Rohim mengambil air di kedua tanganya lalu air itu beliau tumpahkan bekasnya baru pak Rohim usapkan di kepalanya.


"Nah jadi air tadi tidak ditaruh di kepala hanya sisanya saja itu namanya mengsuap bukan membasuh, tapi ingat harus kepala yang kena, bukan hanya rambut saja"


"Allah itu maha adil coba lihat ketika berwudhu kita disuruh mengusap kepala bukan rambut, coba kalau rambut terus yang botak tidak punya rambut bagaimana wudhunya, jadi kalau kita disuruh mengusap kepala semaunya dapat melakukan bahkan orang botak sekalipun bisa melakukannya"


"Benar apa yang pak Rohim katakan" sahut Azam sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal


Pak Rohim tersenyum. "Baik kita lanjut yang kelima, yang kelima membasuh kedua kaki sama seperti tangan tadi harus diawali dari yang kanan dulu baru yang kiri, membasuh kaki harus sampai mengenai mata kaki dengan sempurna"


Seperti tadi pak Rohim tak lupa kembali memperaktilan pada Azam seperti yang sudah-sudah.


"Dan yang terakhir atau yang keenam semaunya harus dilakukan dengan tertib sesuai yang sudah dijelaskan, tidak boleh misalnya membasuh tangan dulu baru wajah itu tidak sah, karena harusnya membasuh wajah dulu baru tangan"


"Terus tidak boleh juga misalnya sudah membasuh kaki tapi kembali membasuh muka, harus ingat tertib itu adalah fardhu dalam wudhu jadi harus benar-benar berturut sesuai yang sudah dijelaskan, sampai sini paham?" pak Rohim sudah menjelaskan panjang lebar pada Azam. 


"Insya Allah paham pak" jawab Azam dengan sangat  yakin.


"Kalau begitu ayo kita praktik lagi dari awal" Azam mengangguk setuju.


"Untuk niat kamu membacanya saat akan membasuh muka ya Nak Azam" peringat pak Rohim pada Azam.


"Baik pak"


Kemudian Azam mulai melakukan apa yang dipraktekan tadi oleh pak Rohim pada dirinya. Memang benar ternyata belajar di usia tua itu lebih sulit daripada kita belajar di usia muda.

__ADS_1


Melihat Azam saja yang belajar cara berwudhu yang benar masih begitu sulit, berulang kali pak Rohim menyuruh Azam mengulangi cara dia mengambil wudhu karena selalu saja Azam ada yang lupa, bahkan tak jarang dia mendahulukan tanganya lebih dulu dari pada mukannya.


__ADS_2