Mengenal Sang Pencipta dengan bantuan system

Mengenal Sang Pencipta dengan bantuan system
Bab 22. pulang sholat subuh


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Tiada usaha yang menghianati hasil, kata inilah yang pantas Azam dapatkan saat ini, laki-laki itu tak pernah menyerah keinginannya begitu besar untuk mendapatkan suatu kebahagiaan yang sesungguhnya.


Satu minggu tinggal bersama pak Rohim, Azam banyak belajar berbagai hal, termasuk bersyukur, ya bersyukur adalah salah satu kunci untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.


Kali ini Azam baru saja menyelesaikan shalat subuh di masjid bersama pak Rohim dan jamaah yang lainnya.


Walaupun belum terlalu hafal gerakan shalat Azam tetap melaksanakan shalat jamaah, Azam juga masih dalam tahap mempelajari tata cara shalat yang benar, dari bacaannya gerakannya Azam mempelajarinya secara perlahan.


Tidak ada sesuatu yang insten di dunia ini, semua hal harus butuh proses, seperti halnya seorang bayi, apakah dia saat lahir langsung bisa berbicara dan berlari kesana kemari.


Jawabnya tentu tidak, jangankan disaat bayi itu sudah lahir, sewaktu di dalam perut sang ibu dia juga tak langsung membentuk sebuah bayi, tapi ada berbagai proses yang harus dilewati terlebih dahulu.


Begitu juga dengan Azam, tak mungkin dia akan meraih sebuah kebahagiaan dengan insten pasti butuh proses, semua Azam lakukan dengan sungguh-sungguh.


Sebenarnya kebahagain yang sesungguhnya itu sangat sesederhana, bagaimana kita bisa meraksan nikmat ibadah kita pada sang pencipta.


Setelah mendengarkan tausiah sebentar di masjid yang diisi oleh pak Rohim, kini Azam pulang dari masjid bersama pak Rohim.


"Pak Rohim boleh saya bertanya sesuatu?"


Azam berjalan tepat di samping pak Rohim, namun lebih mundur sedikit, pak Rohim tersenyum pada Azam, pak Rohim senang jika Azam tak jadi pendiam sepeti pertama kali mereka bertemu.


"Silakan Nak Azam, Nak Azam mau bertanya apa saja jika saya bisa menjawab Insya Allah akan saya jawab"


Keduanya terus melajukan langkah mereka tanpa berhenti namun obrolan terus terbuka diantara keduanya. "Tadi saat acara tausiah pak Rohim sempat menyinggung tentang sabahat"

__ADS_1


"Iya benar ada yang mengganjal di hati Nak Azam?" pak Rohim tahu apa yang dipikirkan Azam.


"Apakah seorang sahabat itu selalu baik pak Rohim? Lalu bagaimana dengan sahabat yang mengkhianati sahabatnya sendiri? Sehingga mereka akhirnya bukan menjadi sahabat melainkan musuh"


Tatapan Azam kini sudah lurus ke depan seakan menerawang kejadian yang pernah menimpanya di masa lalu.


Pak Rohim menghela nafas sejenak sebelum beliau menjawab pertanyaan dari Azam. "Sejatinya seorang sahabat itu adalah orang yang selalu mengingatkan kita di jalan kebenaran, ketika kita berbuat salah maupun khilaf"


"Rasulallah saja memiliki sahabat tak salah jika kita sebagai umat beliau memiliki sabahat pula, itu artinya kita mengikuti jejak beliau"


"Namun jika sahabat sudah berkhianat pada sahabat sendiri, sebenarnya bukan orang itu saja yang salah, mungkin di dalam diri kita ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tak kita sadari sehingga kita mendapatkan sahabat yang ternyata seorang pengkhianat"


"Coba tanyakan pada diri kita sendiri kenapa kita bisa mendapatkan hal semacam itu, mungkin kita telah melalaikan Allah yang bisa mengatur manusia dengan keinginan Allah sendiri, kitalah yang memiliki sebuah kekurangan sebenarnya"


"Tapi karena kita tak menyadari hal ini, kita menyalahkan orang lain, karena fakta yang kita lihat pada diri orang itu nyata adanya" jelas pak Rohim pada Azam.


Terlihat Azam mengaruk kepalanya bingung dengan penjelasan pak Rohim, tapi pak Rohim hanya tersenyum. "Kamu belum paham Nak Azam?"


"Nak Azam yang namanya sahabat pasti baik, itulah yang sering kita lihat dari orang-orang yang bersahabat, tapi jika sahabat ternyata musuh berarti ada yang salah dengan diri kita atau dari sahabat itu sendiri" jawab pak Rohim tersenyum.


"Kamu tau arti dari sebuah musuh Nak Azam?" kini giliran pak Rohim yang bertanya pada Azam.


"Jelas tahu lah pak Rohim, semua orang juga kalau ditanya musuh itu apa pasti akan menjawab musuh adalah orang yang paling kita benci"


"Kasarnya melihat mukanya saja rasanya ingin menabok" jawab Azam dengan begitu bersemangat.


"Kamu benar Nak Azam musuh adalah orang yang paling kita benci, tapi tak akan ada musuh jika kita bisa mengontrol hati, jiwa dan pikiran ini, pikiran kita sendiri"

__ADS_1


"Awal mulua ada musuh itu terjadi karena kita tak bisa mengontrol diri, sebenarnya yang membuat kita bermusuhan adalah diri kita sendiri, contoh sederhananya begini"


"Saya punya anak dan anak saya dibunuh oleh orang lain tepat dihadapan saya, saya mau menolong anal saya tapi tak berdaya, pada akhirnya saya membenci orang tadi yang sudah membunuh anak saya dan saya dendam padanya"


"Akhirnya saya memiliki musuh yang ingin saya lenyapkan, ini terjadi ketika saya tidak bisa mengontrol hati dan pikiran saya sendiri"


"Tapi jika saya ingat hukum Allah lebih adil dari pada saya membalaskan dendam pada orang itu pasti semua ini tak akan terjadi, walaupun sebenarnya menyakitkan jika melihat orang yang kita sayangi mati di hadapan kita sendiri sedangkan kita tak bisa berbuat apa-apa"


"Lebih parahnya lagi jika saya membalaskan dendam saya bukan hanya orang yang membunuh anak saya tadi akan mendapat balas yang setimpal diakhirat tapi saja juga karena rasa dendam tadi"


"Bagaimana sampai sini ada gambaran Nak Azam?" Azam mengangguk.


"Sama artinya musuh yang nyata itu adalah diri kita sendiri bukan begitu pak Rohim?"


"Ya, lebih tepatnya hawa nafsu yang ada dalam diri kita sendiri"


"Untuk masalah musuh atau semacamnya, bukankah kita sering mendengar air tuba tak perlu dibalas dengan air tuba pula, kita bisa membalasnya dengan air susu, cara lembut lambat laut akan mengalahkan cara kasar"


Saking asyiknya mengobrol Azam dan pak Rohim tak sadar jika mereka sudah sampai di depan rumah pak Rohim.


Pak Rohim sudah masuk lebih dulu, tapi saat Azam akan masuk ke dalam rumah sebuah cayah terang menerjang kedua bola mata Azam.


[Ting....ting...ting....! Level kebahagain mencapai 15% ting....! 16% ting....! 17% ting 18% ting 23% ting 25%. Ting...ting...ting...]


[Selamat level kebahagiaan anda sudah mencapai 25% ini artinya anda tinggal membutuhkan 75% lagi level kebahagiaan anda akan sempurna, sungguh pencapaian yang luar biasa]


[Misi kedua anda sedikit lagi akan selesai teruslah berjuang! Misi ketiga sudah menanti anda]

__ADS_1


"Alhamdulillah" ucap Azam setelah mendapat informasi dari sistem.


Setelahnya Azam berlalu masuk ke dalam rumah pak Rohim, Azam merasakan jika dirinya merasa lebih baik dan tenteram dari pada beberapa bulan lalu saat keluarganya juga belum bersatu seperti sekarang ini.


__ADS_2