
Bismillahirohmanirohim
"Aku harus mencari cara agar segera mengusir mereka, jika dibiarkan saja begini terus hutan di sini akan habis separo" ucap Azam.
Azam tengah berpikir keras untuk menghentikan aksi yang terjadi, dua kelompok itu bukan hanya saling menyerang tapi juga merugikan hutan di sekitarnya.
"Ayo Azam pikirkan caranya!"
Aji dan warga yang lainnya tepat berada di posisi yang sudah ditetapkan untuk menjaga desa sumber jaya..
Diantara mereka ada yang merasa merinding dan takut apalagi setiap kali mendengar bom yang terus dibunyikan ditambah lagi suara pistol yang pelurunya terus ditembakan.
Mungkin suara-suara itu akan berhenti hanya dalam hitungan waktu 20 detik saja, setelah itu mereka kembali mendengar suara bom dan tembakan yang begitu nyaring di telinga mereka masing-masing.
Azam masih sibuk dengan otaknya yang terus mencari cara agar datap mengusir para pengacau itu dari desa sumber jaya, saat Azam tengah berpikir dia juga tetap mendengarkan obrolan para bapak-bapak yang berada sebelahnya.
"Kemarin si Nina main topeng-topengan sama Jio, terus pas pulang si Nina bilang topengnya di rusak sama si Jio"
"Lah kemarin juga si Jio bilang dia emang main topeng-topengan sama Nina, katanya topengnya di rusak sama Nina terus Jio suruh benari"
Obrol bapak Nina dan Jio tapi kedua orang itu tak saling membela anak-anak mekera, hanya obrolan untuk memecah kesunyian.
"Ada-ada anak-anak kita ya, tak mau disalahkan malah mengkambing hitamkan temannya" ujar bapak Jio.
Bapak si Nina tertawa kecil. "Benar pak, tapi ya kadang senang aja gitu kalau mereka cerita sama kita"
"Saya juga pak"
Azam tersenyum mendengar cerita bapak Nina dan Jio, ada rasa iri dihatinya kala mengingat Azam masa kecilnya tak seperti mereka.
Tapi bukan itu sekarang yang Azam pikirkan ada solusi dia dapat setelah mendengar cerita kedua bapak-bapak disebelahnya ini.
'Topeng' batin Azam dalam benaknya, dia seakan mendapatkan apa yang sedari tadi Azam pikirkan.
'Benar juga jika aku memakai topeng In sya Allah tidak akan ada yany tahu jika aku Azam, apalagi Robert saat ini masih mengincarku'
'Jika aku kesana dan memaki topeng pasti tidak akan ada yang mengenaliku, tapi semua badan harus tertutup agar tidak ada yang curiga'
'Alhamdulillah ada solusi' Azam merasa sedikit lega ternyata obrolan bapak-bapak barusan memberikan dirinya solusi yang paling tepat.
"Pak maaf mau tanya Aji berjaga disebelah mana ya?" tanya Azam dengan Ramah.
"Nak Azam sedari tadi disini? Maaf kami kira bukan nak Azam" ucap kedua bapak-bapak itu merasa tidak enak sendiri pada Azam.
"Hehehe, tak apa pak saya juga suka mendengar cerita tentang anak-anak bapak, anak kecil kadang emang nyebeli pak tapi kalau tidak ada mereka pasti sepi rasanya"
__ADS_1
"Kamu benar nak Azam"
"Iya tadi tanya Aji kan?" Azam mengangguk ada disebelah sana bagian tiga" tunjuk bapak Jio disebelah kanannya.
"Baik pak terima kasih, saya tinggal dulu sebentar ya pak"
Kedua Bukabapak-bapak itu mengangguk setuju, setelah mendapat persetujuan Azam langsung menghampiri Aji.
"Aji" panggil Azam saat melihat temannya itu tengah bercanda pada beberapa orang.
Aji langsung saja menghampiri Azam. "Kenapa Zam?"
"Ada topeng nggak?"
"Buat apa topeng? ada-ada aja kamu ini"
"Bukan begitu Aji hanya saja aku harus mengusir mereka agar tak lagi merusakan hutan disini, jika terus dibiarkan khawatir bukan hanya hutan yang terkena dampaknya tapi desa kalian juga" jelas Azam.
Aji paham sekarang. "Jadi kamu mau mengusir mereka sendirian?"
"Iya ada nggak topengnya lagi pula terlalu bahanya jika mengajak para warga lebih baik aku sendiri saja yang pergi"
"Kalau begitu aku ikut!" putus Aji tak ingin dibantah.
"Bentar aku ingat-ingat dulu"
Sambil menunggu Aji mengingat Azam juga berpikir untuk cara lain mendapatkan topeng.
"Mungkin sistem bisa membantu, atau aplikasi bola saya juga bisa, tapi jika membuka handpone disini khawatir mereka dapat melacak lokasiku" keluh Azam.
Azam sedikit meunggu lama Aji berpikir, Aji yang berpikir sedikit lama membuta Azam sedikit kesal, karena jika terus mengulur waktu tak tahu kapan pertahanan yang mereka buat di desa Sumber jaya akan bertahan berapa lama.
"Aji ayo jangan terus bipikir jika tak bertindak sekarang juga khawatir kita akan kecolongan!" peringat Azam.
"Hehe, maaf Zam aku tak menemukan topeng tapi ada kakin yang bisa menutup seluruh tubuh kita seperti ninja dan hanya terlihat mata saja, aku yakin kita tak akan dikenali oleh orang lain"
"Ya sudah ayo kita ambil kain itu sekarang!" ajak Azam.
Keduanya meleset ke rumah Aji setelah berpamitan pada yang lain, sampai disana Aji dan Azam segera berpakaian perisi seperti ninja, tak membuang waktu lama Azam langsung menagak Aji pergi.
"Ayo" ajak Azam, Aji mengangguk setuju.
Mereka segera kegerbang keluar desa sumber jaya disana juga ada penjanga. "Siapa?" tanya penjaga dengan waspada.
"Aji dan Azam pak, kita akan mengehetikan pertarungan yang terjadi" ucap Aji.
__ADS_1
"Baiklah hati-hati kalian berdua, kami semua mendoakan keselamatan untuk kalian berdua"
"Terima kasih banyak pak" ucap Aji dan Azam kompak.
"Hati-hati kalian, bapak ingin kalian pulang dengan selamat"
Aji maupun Azam mengangguk tapi tak lupa Azam menyertakan kata 'In sya Allah'
Keduanya segera meleset ditempat terjadinya kekacauan itu. "Aji hati-hati" peringat Azam. "Dan satu lagi jangan sebuta namaku nanti disana Aji kamu paham kan?"
"Oke Azam akan terus aku ingat!"
"Ayo pergi"
Sampai disana Azam dan Aji bersembunyi terlebih dahulu sebelum bertindak. Aji tak tahu jika Azam sudah menyiapkan senjata, tak lupa Azam membekali Aji satu pistol, Azam yakin Aji bisa menggukan benda bernama pistol tersebut.
"Bersiaplah Aji kita akan segera bertemupur, ingat jangan gegabah, karena salah sedikit saja nyawa kita berdua dalam bahaya"
"Jangan melakukan pergerakan apapun jika belum ada perintah dariku apa kamu paham Aji!"
"Siap paham"
"Oke, bersiaplah" intrusi Azam, Aji mengangguk.
1
2
"Aku tak akan pernah kalah darimu Robert!" teriak Han, tepat saat itu Azam meleperkan 3 bom sekaligus.
Sebuah bom yang sudah dimodifikasi oleh Azam sebelumnya agar tidak mematikan orang, hanya akan menimbulkan luka ringan dan sakit sampai berhari-hari pada yang terkena bom tersebut.
Dor!
Bom!
"Apa yang terjadi?"
"Ada apa ini!"
"Apa yang sudah terjadi!"
Semua orang panik dari kelompok Robert maupun kelompok mafia black bar. "Aku harap kalian segera meninggalkan hutan ini, jika tidak kalian akan merasakan akibatnya dan tidak akan ada satupun dari kalian yang selamat"
Itu suara Azam yang dibuat semenyeramkan mungkin dengan bantuan bola sayap.
__ADS_1