
Bismillahirohmanirohim
Pagi-pagi sekali Azam memutuskan untuk berlari pada sambil melihat aktivitas pagi di desa Kenanga Lombok, tentu saja setelah Azam selesai melaksanakan shalat subuh.
Pagi di desa Kenanga begitu segar udara yang sejuk membuat siapa saja betah berlama-lama ada disitu.
Azam menatap sekeliling kampung tersebut begitu terlihat sepi, karena biasanya semua orang di desa Kenanga akan keluar rumah tepat jam 7:30 barulah terlihat ada aktivitas di desa itu.
Azam tengah duduk santai di sebuah kursi kayu sepertinya memang sengaja disediakan di tempat tersebut.
Azam merogoh hpnya dia tak tahu bagaimana keadaan di kota nya, bagaimana keadaan Abraham group selama Azam tinggalkan selama hampir 1 bulan ini.
Seperti janji Azam mungkin dia akan pulang ke kota sekitar 3 tahun bahkan bisa lebih, Azam sebenarnya merindukan kedua orang tuanya, tapi dia tak ingin pulang untuk saat ini.
Azam setelah mendapatkan handphone milikinya segera menghubungi Kino, orang yang selalu dia percaya, Kino bekerja pada Azam sudah begitu lama hampir 15 tahun Kino bekerja pada Azam.
Ketika sambungan terhubung ucapan pertama yang Azam katakan pada Kino membuat Kino yang di seberang telepon merasa bersyukur.
'Assalamualaikum Kin' sapa Azam begitu ramah dari seberang telpon.
Diseberang sana Kino mengembangkan senyumnya walau dia tahu Azam tak akan melihat senyum itu.
'Waalaikumsalam bos, akhirnya saya bisa mendengar suara bos Azam lagi, bos sudah lama hampir 1 bulan saya tidak mendapatkan kabar dari bos membuat saya bingung'
Kino terus saja nyerocos membuat Azam diseberang telepon merasa kesal dengan Kino yang tak berhenti bicara.
'Bos bagi-'
'Stop Kino aku menghubungimu bukan untuk mendengarkan ocehan tak jelas kamu, tapi ada hal penting yang harus saya bahas' potong Azam sebelum Kino tak berhenti berbicara.
'Baiklah bos, hehehe maaf' di seberang sana Kino menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
'Jadi bagaimana Kino apakah kamu sudah menemukan seorang pengkhianat itu?'
__ADS_1
Kali ini Azam benar-benar serius dia ingin masalahnya satu persatu segera selesai.
'Hehe, maaf bos belum tapi sebentar lagi saya akan menangkap orangnya bos tentang saja serahkan semuanya pada saya bos, pasti beres dengan baik, bos Azam tenang saja tidak usah khawatir'
Azam berdecak kesal di seberang sana mendengar perkataan Kino. 'Sudah sebulan Kino! Kenapa kamu tak kunjung menangkap orangnya! Apa saja kerja kamu selama satu bulan ini hah? Menangkap satu pengkhianatan itu saja kamu membutuhkan waktu satu bulan! bagaimana jika 100 pengkhianat apakah kamu juga membutuhkan waktu 100 bulan pula!'
'Aku menyuruhmu segera pulang agar bisa membantu Erlang di kota, tapi kenapa kamu malah lelah-leha di Sumba, jika sudah bosan bekerja dengan saya silahkan mengundurkan diri!' tegas Azam.
Azam tak habis pikir dengan tingkah anak buahnya ini yang sudah seperti sahabatnya sendiri tapi menangkap satu orang saja tak becus.
'Hehe maafkan saya bos, tapi bukan itu masalahnya ada satu hal yang harus bos tahu, pengkhianatan itu sepertinya bekerja sama bukan hanya dengan Robert saja, tapi juga ada kelompok lain' jelas Kino
Kino hanya ingin memastikan siapa orang yang sebenarnya didukung oleh orang itu Robert atau satu kelompok lainnya. Maka dari itu Kino tak bisa gegabah, salah sedikit saja maka dia akan berurusan dengan dua anggota jahat, sementara dirinya saat ini hanya orang diri.
'Siapa kelompok satu lagi?'
'Kurang jelas bos tapi sepertinya mereka kelompok Mafia buka pembunuh kejam' jelas Kino.
'Setelah urusan mu selesai bantu pulanglah ke kota dan bantu Erlang, aku akan menutup teleponnya, Assalamualaikum'
Tanpa menunggu jawaban dari Kino, Azam mematikan sambungan teleponnya sepihak.
Sedangkan di seberang sana Kino menjawab salam Azam dengan sedikit berkerut kesal. 'Waalaikumsalam' jawab Kino dengan ketus walaupun dia tahu jika sambungan telepon sudah Azam matikan secara sepihak.
Azam terlihat termenung sebentar setelah menghubungi Kino tadi, setiap nasihat yang pak Rohim sampaikan pada dirinya terus teringat pada diri Azam.
Azam akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah pak Rohim dengan hatinya yang masih mengganjal, Azam merasa jika Robert akan melakukan pergerakan pada dirinya dan juga keluarganya.
'Astagfirullah hal-azim' Azam mengusap wajahnya kasar saat memikirkan hal buruk yang dia rasa akan menimpa keluarganya.
"Ya Allah lindungilah kedua orang tuaku dan keluargaku" ucap Azam.
Azam benar-benar melangkah pergi ke rumah pak Rohim, Azam akan merasa tenang jika berbincang pada pak Rohim, bukan hanya pelong sudah bercerita tentang keresahan yang dia rasakan tapi juga Azam akan mendapatkan masukan dari pak Rohim yang membuat Azam paham pastinya.
__ADS_1
"Assalamualaikum Nak Azam" sapa salah seorang bapak-bapak saat berpapasan dengan Azam.
"Waalaikumsalam pak, mau ke sawah ya?" tanya Azam kala melihat bapak-bapak yang menyapanya itu membawa cangkul.
"Iya Nak Azam, Nak Azam sendiri dari mana?"
"Ini pak habis jalan-jalan pagi" bapak yang menyapa Azam tadi mengangguk.
Hampir seluruh warga desa Kenanga mengenali Azam, karena Azam orang pertama yang ikut bersama pak Rohim, bukan hanya itu Azam kini di desa Kenanga berbuah drastis tadinya dia seorang yang begitu dingin kini Azam menjadi seseorang yang ramah pada orang lain.
"Kalau begitu saya duluan Nak Azam, mari Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam pak"
Setelah itu barulah Azam kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah pak Rohim.
Kini aktivitas pagi di desa Kenanga sudah mulai terlihat ada orang-orang yang akan berangkat ke kebun dan sawah ada juga dari mereka yang pergi nelayan.
Para anak sekolah juga sudah siap berangkat menimba Ilmu.
Azam begitu prihatin dengan keadaan sekolah di desa Kenanga, karena hanya ada satu sekolah di desa itu, Sd, Smp, dan Sma menjadi satu.
Desa kenanga merupakan sebuah desa yang begitu besar wajar hanya satu sekolahan untuk tingkat sd,Smp dan Sma sekolah itu sudah penuh diisi oleh para anak-anak desa kenanga itu sendiri.
"Apa aku mendaftar menjadi guru saja ya, hitung-hitung untuk mengisi waktu luang" ucap Azam saat melihat para anak sekolah berlalu lalang.
"Nanti aku tanya pak Rohim apa yang masih kosong posisi guru di sekolah kenanga"
Pak Rohim juga salah satu guru di sekolah kenanga itu, tapi pak Rohim mengisi kelas tak aktif seperti dulu, mungkin sekarang jadwal pak Rohim seminggu dua atau tiga kali saja padahal dulu beliau mengajar setiap hari tanpa henti.
Sampai di rumah pak Rohim Azam segera mengucapkan salam. "Assalamualaikum pak" sapa Azam saat melihat pak Rohim sedang di depan rumah.
"Waalaikumsalam Nak Azam, saya kira kemana"
__ADS_1