Mengenal Sang Pencipta dengan bantuan system

Mengenal Sang Pencipta dengan bantuan system
Bab 36. Mafia Black Bar


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Nih makan dulu pasti kamu dari tadi belum makan" Aji menyodorkan satu piring makan pada Azam.


Kini makana yang ada di dalam piring itu sudah berbeda dari sebelumnya. Azam barus saja selesai melakasanakan shalat ashar dan juga tak lupa Azam mengqodo' shalatnya yang tertinggal.


"Ini ma-"


"Makan aja halal kok saya beli dari warung sebelah" Aji cepat memotong perkataan Azam, dia tahu apa yang akan Azam ucapkan.


"Warung?"


Seingat Azam tidak ada warung sama sekali yang dia lihat di desa yang Azam singgahi saat ini, bahkan penduduknya saja tak terlihat satupun.


Aji datang lewat mana saja Azam tidak tahu, tak tahu apa yang sedang dialami desa yang Azam datangi saat ini.


Azam baru mengingat tadi saat mengambil air wudhu Azam melihat Aji melewati sebuah jalan yang terlihat begitu aneh dan berbeda dari jalan lainnya.


Anehnya lagi jalan setapak yang Aji lewati itu hanya dapat dilihat dari posisi tempat Azam beridiri bergeser sedikit saja Azam tak melihat jala itu lagi.


"Maksudnya kamu tadi lewat jalan yang disitu pergi ke warung makan?"


Aji menatap Azam dengan curiga dari mana Azam tahu tentang jalan rahasia itu, bukankah hanya beberapa orang desa yang tahu tentang jalan tersebut.


"Kamu jangan-jangan salah satu komplotan kelompok mafia yang membabi buta di desa kami ya!" tuding Aji pada Azam.


"Heng, kelompok mafia maksudnya?"


Azam dibuat semakin bingung oleh Aji. "Jangan pura-pura lagi pasti kamu mata-mata merekakan!"


Aji sudah siap akan menangkap Azam saat itu juga tapi kebingungan yang terlihat diwajah Azam membuat Aji sedikit percaya diri jika Azam merupakan kelompok mata-mata mafia yang dia maksud, padahal tadi saat Azam menyebutkan jalan setapak Aji sudah begitu yakin jika Azam adalah salah satu anggota mafia yang menyamar.

__ADS_1


"Maaf bisa jelaskan kenapa bisa ada mafia yang masuk ke desa kalian ini? Dan dari kelompok mana mafia itu?"


"Aku saja baru tahu jika di negara ini ada desa yang sangat tersembunyi di desa kalian" kali ini Aji sedikit percaya pada Azam, waluapun belum sepenuhnya dia percaya pada Azam.


Wajar saja Aji tak langsung mempercayai Azam, karena laki-laki itu termasuk orang baru di desa mereka, untuk jaga-jaga tentunya Aji tak akan langsung percaya dengan orang yang baru dia kenali, walaupun sebelumnya ibu dari Aji sudah menolong Azam, karena hal itu bukan mereka percaya begitu saja pada Azam.


"Yakin kamu bulan dari kelompok mafia itu?" tanya Aji memastikan sebelum dia menceritakan semuanya pada Azam apa yangs sedang terjadi di desa mereka.


"Ya menurut kamu, saya aja nggak tahu kenapa saya bisa sampai di desa ini, dalam keadaan luka pula"


"Aku akan cerita tapi sebelum itu boleh tahu siapa nama kamu dan apa tujuanmu ke desa kami? Lalu apa kamu tahu tentang para mafia"


Azam mendengus kelas. "Ternyata kamu banyak tanya juga ya!"


"Ets, ets, ets, bukannya impas kalau kita saling bertanya satu sama lain☺"


Aji mengembangkan senyumnya yang membuat Azam tak habis pikir dengan tingkat pria seumuran dirinya ini.


"Siap, beres itu mah bisa diatur"


Azam menatap Aji lekat sebelum dia bercerita, tak tahu kenapa di dalam hati Azam timbul sedikit kecurigaan pada Aji, Azam menjadi takut dirinya yang ditipu oleh Aji, tapi secepat mungkin Azam menepis pikiran buruknya itu tentang Aji.


Azam ingat pesab pak Rohim pada dirinya, kalau itu beliau berpesan pada Azam. 'Nak Azam nanti kalau sudah kembali ke dunia luar (Dunia luar maksudnya tidak bersama pak Rohim lagi, walaupun sudah masih di desa Kenanga, intinya saat tidak berada di rumah pak Rohim) jangan suka bersoudzon pada orang lain, teruslah berfikir hal yang baik-baik'


'Karena sejatinya suka bersoudzon terhadap orang lain itu merupakan penyakit hati, nah kalau sudah kena penyakit hati susah obatnya' begitulah pesan pak Rohim pada Azam.


Azam tentu saja dia Insya Allah akan selalu mengingat nasihat baik yang diberikan pak Rohim pada dirinya.


"Woi malah bengong ayo cerita" Aji membuyarkan semua lamuan Azam.


"Heheh, boleh nggak sebelum cerita makan dulu, udah laper soalnya" ucap Azam kikuk.

__ADS_1


Ini untuk pertama kalinya seorang CEO Abraham group yang merupakan pemilik perusahaan tersebar nomor 5 di negaranya mengeluh lapar pada orang lain.


Azam benar-benar merasakan bagaimana hidup menjadi orang sesederhana, aneh buka orang seperti pak Rohim yang hidup hanya serba cukup tak cupuk tapi merasakan hidup bahagia.


Sementara Azam dirinya sendiri memiliki segalanya tapi kebahagain sama sekali tidak dia rasakan, padahal mungkin saja banyak orang yang mendamba-dambakan ingin hidup mewah seperti Azam.


Hidup bergelimang harta apa saja yang dia mau Azam mampun membelinya, sebenarnya sejatinya kebahagain yang sesungguhnya itu hanya ketika kita mengingat Sang Pencipta.


Kita selalu melibatkan Sang Pencipta seluruh alam semesta ini dalam setiap hal yang kita lakukan, jika ingin berbuat dosa kalau ingat Allah, Insya Allah dia tak akan jadi berbuat doa.


Setelah di perbolehkan Aji makan terlebih dahulu, Azam segera menyantap makannya yang Aji belikan tadi, tak lupa Aji juga membelikan sebotol air mineral.


"Sekarang aku akan cerita semuanya" ucap Azam setelah dia selesai makan, Aji hanya mengangguk untuk merespon karena dia sudah tak sabar mendengar cerita siapa Azam.


"Aku Azam, tujuan aku ke desa ini tidak ada, aku jujur pada kamu aku hanya tersesat disini, lalu tentang mafia aku tahu beberapa mafia yang sangat kejam di negara kita" jelas Azam.


Tak mungkin juga dia menceritakan pada Aji, jika dirinya terserat di desa Aji gara-gara sebuah sistem, Azam akan menceritakan yang masuk dalam otak saja, masalah sistem Azam juga masih berpikir dua kali tentang itu.


Awalnya saja dia juga tidak percaya dengan sistem ikon, namun bukti yang Azam lihat fakat yang dia dapat membuat Azam percaya pada sebuah sistem.


"Lalu Mafia kelompok mana yang mengacau di desa kalian ini?" kini giliran Azam yang bertanya pada Aji.


Azam begitu penasaran tentang keadaan yang menimpa desa Aji saat ini, ada firasat dalam diri Azam jika misi ketiganya harus menuntaskan kekacauan yang terjadi di desa tempatnya saat ini.


"Kamu tidak bohong kan?"


"Terserah kamu saja mau percaya atau tidak Aji!"


"Santai-santai aku sekarang percaya"


"Jadi mereka kelompok mafia Black Bar yang berjumlah 10000 orang ini mengambil alih desa kami, tapi dengan kekuatan seadaanya kami mati-matian melawan mereka"

__ADS_1


"Black Bar" Azam seperti mengingat tentang mafia yang satu ini.


__ADS_2