
Bismillahirohmanirohim.
"Kamu sudah bangun rupanya" ucap seorang wanita paruh baya yang sedang membuat obat herbal pengihlang nyeri.
Azam menatap perempuan paruh baya itu sebentar dia tak langsung menjawab ucapan perempuan yang sudah menolongnya itu setelah itu dia menatap sekeliling tempat yang begitu berbeda dari sebelumnya.
Bukan Azam tidak sopan hanya saja Azam belum paham apa yang sudah terjadi pada dirinya.
"Saya dimana?"
Azam sediri tidak tahu kenapa satu kata itu yang keluar dari mulutnya yang pasti Azam hanya ingin tahu saat ini dia berada dimana.
"Dan ibu siapa?" sambung Azam lagi.
Wanita paruh baya itu mendekati Azam sambil membawa obat herbal yang sudah dia racik lebih dulu untuk mengobati luka Azam.
"Saya menemukan kamu di perbatasan hutan desa ini, saya menemukan kamu sudah dalam keadaan tak sadarkan diri"
"Biar saya obati dulu" ucap ibu Imas.
Saat ibu Imas akan mengobati luka Azam, Azam segera menghindar. "Tak apa saya hanya mau mengobati luka kamu, saya orang baik-baik kamu tenang saja"
Setelah itu Azam hanya menurut saja, toh dia juga masih meraksan badannya yang begitu nyeri.
"Maaf ibu kalau bolah tahu nama ibu siapa?"
"Terima kasih sudah mau menolong saya" ucap Azam setelah ibu Imas selesai mengobati luka Azam.
"Orang sini biasanya memanggil saya ibu Imas"
"Kamu orang mana nak? kenapa bisa sampai di desa kami, sepertinya kamu baru pertama kali ke desa ini"
Pertanyaan bertubi-tubi kali ini dilontarkan ibu Imas pada Azam, lagi-lagi Azam terdiam sejenak karena menahan rasa sakit.
"Saya juga tidak tahu kenapa bisa sampai disini bu, saya sendiri tidak tahu ini daerah apa" jelas Azam.
"Ya sudah kamu tinggal dulu di rumah ibu sampai sembuh, kalau keluar masih keadaan seperti ini bahaya nanti"
"Nanti anak ibu pulang biar kamu ada temannya, ibu tinggal dulu istirahat lah dulu" suruh ibu Imas.
__ADS_1
"Bu" cegah Azam sebelum ibu Imas pergi.
"Maaf kalau boleh tahu tadi ibu bilang bahaya, bahaya kenapa ya bu?" tanya Azam memastikan.
Azam merasa ada yang aneh di desa ini, tak ada satupun penduduknya yang keluar rumah, Azam bisa melihat semua itu lewat jendela yang ada di kamar Azam tempati saat ini.
Banyak rumah tapi yang terlihat hanya keheningan saja tempat yang begitu sunyi, tak ada satu pun penduknya yang keluar dari rumah mereka masing-masing.
Muka ibu Imas berubah seperti orang yang ingin marah, terlihat wanita paruh baya itu sedang menahan amarahnya saat mendengar pertanyaan yang Azam lontarkan.
"Kamu tidak perlu tahu! Ini buka urasan orang luar ini urusan desa kami!" ucap ibu Imas dingin.
Ibu Imas berlalu pergi begitu saja dari kamar yang Azam tempati dengan perasaan dongkol dan marahnya.
Azam yakin jika saat ini ibu Imas sedang meredakan kemarahan yang disebabkan oleh Azam. "Sepertinya aku sudah salah bertanya" ucap Azam pelan.
'Setelah semua luka-luka ini sembuh aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi di desa ini' Azam sudah bertekad untuk hal itu.
Ibu Imas buka hanya mengobati luka Azam tapi dia juga memberikan Azam makan, walaupun masih dengan muka marahnya.
"Terima kasih bu sudah baik pada saya" ucap Azam tulus.
"Iya bu, sekali lagi terima kasih"
Tak ada jawaban dari ibu Imas, dia langsung pergi begitu saja dari kamar Azam tanpa membalas perkataan Azam. Ibu Imas juga tidak mengatakan apa-apa.
"Daging apa ini?" bingung Azam.
Azam tidak jadi memakan nasi dan lauk yang disedikan oleh ibu Imas, Azam hanya memakan buah yang ada saja.
Azam mengingat buah apel yang sudah dia cuci lebih dulu sambil menatap keluar jedelan, hari hampir sore dan mendengung mendatangi sore itu.
"Kenaan perginya sistem ikon dan kenapa pula ibu Imas tidak memberitahuku aku ini sebenarnya berada dimana" keluh Azam dia masih menatap keluar jendela.
"Sistem ikon dimana ini!" keluh Azam lagi.
"Apakah kali ini kamu bekerja sama dengan orang-orang di desa ini" Azam hanya bisa terus saja menebak entah apa yang dia pikirkan.
Azam merasa sudah ditipu oleh sebuah sistem. Azam yang tengah melamun mendengar ada orang yang datang di rumah ibu Imas.
__ADS_1
"Mak aku muliah" terdengar suara laki-laki yang baru saja memasuki rumah ibu Imas.
"Pie wes beres urung?" setelah itu Azam mendengar suara ibu Imas.
"Ojo berisik le enek wong sakit neng umah" tegur ibu Imas ada anak laki-lakinya.
Sang anak hanya bisa mengerutkan dahinya. "Lah sopo seng sakit mak?"
"Wong kono parani enek neng kamarmu, lah bapakmu endi?" ibu Imas kembali bertanya sebelum sang anak benar-benar pergi.
"Bapak nyusul mak, isik neng buri karo seng lainne, aku dikongkon disitan karo bapak" jelas sang anak.
"Wo wes kono parani desit wang seng neng kamarmu" anak laki-laki itu mengangguk patuh pada ibu Imas.
Azam yang dapat mendengar jelas obrolan dua orang tadi hanya menggelengkan kepala karena dia sama sekali tidak mengerti apa yang ibu Imas dan anaknya katakan.
Krek! Suara pintu kamar yang Azam tempati dibuka dengan sedikit kasar, karena memang pintu itu susah sekali dibuka pintunya sudah terlalu tua.
Azam hendak shalat tapi dia bingung harus mengambil wudhu dan dimana arah kiblatnya maka dari itu Azam memutuskan untuk menunggu ibu Imas, Azam masih begitu sulit untuk berdiri.
Seorang laki-laki yang umurnya hampir sama dengan Erlang masuk ke dalam kamar itu, laki-laki muda berkulit kuning langsat itu menyungging senyum pada Azam.
"Sampean wong sing ditulung kaleh mamak? Kenal ke aku Aji" ucap laki-laki yang bernama Aji itu.
Sayangnya Azam tidak paham apa yang dikatakan oleh Aji, Azam menggaruk kepalanya yang terasa gatal.
"Saya mau shalat boleh tahu dimana tempat mengambil air wudhu dan dimana arah kiblatnya?" bukannya menjawab ucapan orang tadi Azam malah bertanya.
"Owalah ora iso boso jowo toh" kini Aji yang salah tingkah sendiri.
"Ayo saya antar pasti kamu masih susuah untuk berjalan" tawar Aji akhirnya.
Aji membantu Azam untuk mengambil air wudhu setelah itu Aji menujukan dimana kiblatnya.
Aji menunggu Azam sampai selesai shalat. "Kenapa dia tidak makan?" Aji melihat makana Azam yang tidak tersentuh sama sekali.
"Mak enek-enek waye wong islam kok dikei daging iki" Aji segera menyisakan makan itu dan mengati makanan yang baru tanpa daging.
Aji membeli makan itu di warung sebelah secara diam-diam, melawati jalan yang hanya diketahui oleh berapa orang dii desa itu, hal itu tak luput dari penglihatan Azam.
__ADS_1