Mengenal Sang Pencipta dengan bantuan system

Mengenal Sang Pencipta dengan bantuan system
Bab 34. Rencana Rapum


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Assalamualaikum" sapa pak Rohim pada orang-orang yang berada di depan rumah beliau.


"Waalaikumsalam" jawab beberapa orang dengan pelan.


Robert menatap nyalang pak Rohim, Robert sama sekali tidak menjawab salam yang diucapkan pak Rohim, hanya tatapan nyalanya dan tajam yang dilayangkan Robert untuk pak Rohim.


"Maaf kalau boleh tahu kalian mencari siapa?" tanya pak Rohim dengan senyumnya yang sama sekali tidak luntur walaupun Robert menatap beliau dengan tajam.


"Saya mencari Azam!" ucap Robert.


"Oh mencari Nak Azam, Nak Azam sudah pergi satu hari yang lalu"


"Mari masuk dulu, singgah sebentar ke rumah saya yang sederhana ini" ajak pak Rohim pada mereka semua.


Robert tak menjawab dia malah mengarahkan pistolnya tetap di jantung pak Rohim.


"Bos"


"Bos"


"Bos!"


"Bo-"


Seketika itu juga para anak buah Robert merasa panik begitu juga dengan Rapum, sementara pak Rohim orang yang ditodong langsung oleh Robert dengan pistolnya malah bersikap begitu tenang tak panik sama sekali, senyum miliki pak Rohim benar-benar tidak pudar sama sekali.


"Katakan dimana Azam! Atau peluru dalam pistol ini akan menembus jantung anda!" ancam Robert.


Anehnya tak ada sama sekali getar ketakutan dari pak Rohim ketika ditodong oleh senjata berapi itu.


"Nak bagus, Nak Azam memang sempat tinggal di rumah saya hampir 1 tahun, tapi kemarin dia pamit pergi pada saya, sayangnya Nak Azam tak mengatakan apapun pada saya jika dia mau pergi kemana" jelas pak Rohim dengan begitu tenang.


'Kenapa bapak-bapak ini begitu tenang ketika ditodong senjata' Rapum mengerutkan dahinya heran.


Begitu juga dengan beberapa anak buah Robert mereka bertanya-tanya dalam hati mereka masing-masing kenapa pak Rohim bisa begitu tenang padahal sudah pasti senjata api ada di dekat jantungnya.


"Anda tidak bohong pak?"

__ADS_1


Pak Rohim semakin mengembangkan senyumnya dan sontak hal itu semakin membuat mereka semua yang menyaksikan begitu heran termasuk Robert sebenarnya, hanya salah kala dengan wajah sangar Robert jadi rasa penasaran dimuka orang itu sama sekali tidak terlihat.


"Untuk apa saya berbohong Nak, kemarin malam setelah Nak Azam pamit dengan saya, saya mau mengantarnya ke depan rumah saja tak boleh saya disuruh banyak istirahat oleh Nak Azam"


"Lagi pula jika saya tahu dimana keberadaan Nak Azam sekarang pasti saya akan memberitahu kalian" terang pak Rohim.


Pak Rohim sama sekali tidak menganggap Robert musuh Azam, atau beliau tidak tahu jika sebenarnya Robert itu memusuhi Azam sedari dulu, tapi pak Rohim benar-benar tidak mau tahu tentang hal itu.


"Anda tidak berbohong pak tua?"


"Untuk apa yang berbohong Nak, jika kalian ingin memeriksa rumah saya silahkan untuk mencari keberadaan Nak Azam"


"Tidak perlu" cegah Robert langsung.


"Kita pergi sekarang!" ujar Robert dengan nada dingin setelah tak mendapatkan informasi apa-apa dari pak Rohim.


Tanpa menunggu diperintah oleh Robert dua kali mereka semua mengikuti langkah Robert yang pergi meninggalkan kawasan rumah pak Rohim.


"Pak maafkan teman saya" sesal Rapum dia memang sudah berniat meminta maaf pada pak Rohim.


"Tak apa Nak, lagi pula temanmu tidak menyakiti saya" balas pak Rohim.


"Terima kasih pak, sekali lagi saya minta maaf, saya permisi pak"


"Assalamualaikum"


"Ada-ada anak muda jaman sekarang yang dibawa benda berbahaya" ucap pak Rohim sambil berlalu masuk ke dalam rumahnya tak lupa beliau juga mengucapkan salam terlebih dahulu saat masuk ke dalam rumah beliau sendiri.


Sepulang dari menemui pak Rohim muka RobertĀ terlihat begitu marah, matanya sudah menyalam merah menyalang seakan menggambarkan jika mangsanya yang semala ini dia sudah jaga sampai besar dia siap diterkam kapan saja lepas dengan cuma-cuma.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Robert setelah bertemu dengan pak Rohim, aura kemarahannya begitu terasa, anak buah Robert yang berada disebelah laki-laki itu merasakan takut.


Robert kapan saja bisa marah jika suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Tak ada satupun dari orang yang ikut bersama Robert hari ini untuk memulai pembicaraan termasuk Rapum.


Mereka semua terdia seribu bahasa. Hanya berani saling menyenggol satu sama lain tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Robert jika mara sama sekali tidak bisa diganggu.


Setelah sampai di markas mereka Robert kembali tak mengucapkan sepatah katapun dia langsung masuk ke dalam tempat istirahatnya. Di kamarnya Robert melupakan semua isi hatinya.


"Argh....! Kurang aja kamu Azam mau bermian-main dengan Robert!"

__ADS_1


"Lihat saja Azam dimanapun kamu bersembunyi aku pasti akan menemukanmu! jangan harap kamu bisa sembunyi unthk waktu yang lama dari seorang Robert!"


"Aku Robert bisa melakukan segala hal yang aku mau tidak ada yang bisa mengehalangiku! Apa yang aku mau harus aku dapat termasuk dirimu Azam, hidup atau mati kamu harus ada ditanganku"


"Hahahhah"


Robert tidak tahu padahal sejatinya Azam sama sekali tidak menghindar darinya, karena sebenarnya Azam lebih sengsara saat ini.


Tidak mudah untuk menjadi orang yang sabar, semakin sabar seorang maka ujian dan cobaan yang dia rasakan akan semakin berat begitu juga saat ini yang sedang Azam lalui.


Tak ada yang tahu jika sistem ikon sebenarnya terus memantau Robert dan seluruh anak buahnya.


(Kenapa pak Rohim bisa begitu tenang ketika di todong senjata oleh Robert, apakah beliau tidak takut mati) bukan hanya Rapum dan yang lainnya merasa heran ketika pak Rohim ditodong senjata oleh Robert tapi juga sebuah sistem merasa bingung.


Rapum yang mengingat sesuatu setelah pulang dari rumah pak Rohim dan belum dia sampaikan pada Robert akhirnya memutuskan untuk menemui bos nya itu.


Klontang!


Tang!


Tang!


Rapum tahu apa yang terjadi di dalam sana dia sangat yakin jika Robert sedang melupakan kemarahannya saat ini.


Dengan segala keberanian yang Rapum miliki dia segera mengetuk pintu tempat Robert beristirahat.


Tok....!


Tok...!


Ketukan sekali dan dua kali tak ada jawaban, tapi saat Rapum akan kembali mengetuk pintu di depannya ini suara seorang dari dalam membuat Rapum mengurungkan niatnya untuk kembali mengetuk pintu di hadapannya ini.


"Masuk!" suruh suara orang begitu dingin dari dalam.


Setelah diperbolehkan masuk Rapum berjalan dengan hati-hati karena banyak serpihan gelas yang sudah terpecah belah.


"Ada apa?" tanya Robert tanpa basa basi.


"Saya ada ide bos untuk memancing Azam keluar dari tampat persembunyiannya"

__ADS_1


"Katakan!"


"Bagaimana jika kita mengacau di Abraham group bos, saya yakin pasti Azam akan segeran keluar dari persembunyiannya".


__ADS_2