
Bismillahirohmanirohim
[Pemberitahuan sistem! Hari ini sistem mengingatkan jika sekarang hari terakhir bos Azam berada di Lomok, jadi manfaatkan sebagi mungkin untuk berpamitan pada penduduk di desa ini]
[Sistem sudah memberi peringatan jadi jangan anda acuhkan jika tidak bos Azam akan menyesal nantinya]
[Baiklah sekali lagi manfaatkan waktu anda sebaik mungkin!]
Azam hanya bisa temenung sejenak dimana dia akan pergi setelah ini, ada rasa enggan bagi Azam untuk meninggalkan Lombok Azam sendiri tidak tahu kenapa.
"Selalu pergi dan datang semaunya saja" protes Azam saat tak lagi melihat keberadaan sistem ikon.
"Lebih baik aku kembali membantu para bapak-bapak yang sedang gotong royong" putus Azam.
Azam keluar dari kamarnya, tapi dia tak sengaja bertemu dengan pak Rohim. "Pak Rohim boleh bicara sebentar" ucap Azam akhirnya.
Azam sendiri tidak tahu apa yang akan dia bahas dengan pak Rohim, tapi dia tak tahu kenapa memanggil pak Rohim, Azam pikir mungkin ini waktunya membahas kepergian dirinya dari lombok..
"Boleh Nak Azam kita bicara di kursi saja dulu ya" ajak pak Rohim yang disetujui oleh Azam.
"Jadi Nak Azam mau bicara mengenai hal apa?" tanya pak Rohim membuka pembicaraan mereka.
Azam terdiam sejenak dia tidak tahu harus memulai dari mana. Tak lama kemudian Azam menghembuskan nafas kasar, pak Rohim masih menunggu Azam berbicara.
"Jadi begini pak Rohim, maaf sebelumnya kalau saya punya salah pada pak Rohim, entah besok atau malam nanti saya sudah harus meninggalkan Lombok"
"Maaf sekali pak Rohim jika hal ini begitu mendadak, saya meras tidak enak dengan pak Rohim dan saya juga mau mengucapkan terima kasih atas ilmu yang sudah pak Rohim ajarkan pada saya" ucap Azam dengan sungguh-sungguh.
Pak Rohim tersenyum, walaupun sebenarnya ada rasa tidak rela jika Azam pergi, bagaimanapun juga pak Rohim sudah menganggap Azam seperti anaknya sendiri.
Sudah bertahun-tahu tinggal seorang diri, lalu tiba-tiba ada seorang yang menemaninya dalam 1 tahun ini, tentu saja hal paling luar biasa bagi pak Rohim yang dia alami.
__ADS_1
Pak Rohim tidak ingin egois Azam masih mudah, masih banyak hal lain yang harus Azam lakukan diluar sana, bisa jadi nanti Azam menjadi seorang pengemban dakwah Insya Allah.
"Serharusanya saya yang berterima kasih pada Nak Azam, karena lantaran pertolongan dari Nak Azam desa ini sedikit lebih maju dari sebelumnya" pak Rohim mengelus pundak Azam.
Pak Rohim sudah benar-benar menganggap Azam seperti anaknya sendiri. Azam mencium punggung tangan pak Rohim dengan air mata tertahan.
Sangat jelas terlihat jika saat ini kedua bola mata Azam sudah berkaca-kaca. "Boleh saya memeluk pak Rohi-" belum sempat Azam menyelesaikan perkataannya pak Rohim sudah memeluk Azam lebih dulu.
"Jika diluar sana nanti ingat pesan bapak ya Nak Azam jangan pernah tinggalkan shalat dan shalawat"
Bukan hanya Azam tapi pak Rohim juga sedang menahan air matanya yang kapan saja siap tumpah itu.
"Insya Allah pak, Insya Allah Azam akan selalu mengingat pesan-pesan pak Rohim yang pernah disampaikan pada Azam"
"Heheh, jangan lupa untuk main kesini lagi ya Nak Azam" Azam yang masih berada dalam pelukan pak Rohim mengangguk dengan yakin.
"Insya Allah pak jika Allah masih mengizinkan Azam untuk menghirup udara di dunia ini, Insya Allah jika Allah memberikan umur yang cukup"
"Jadi berdoa yang benar seperti apa pak Rohim?"
"Ya kalau mita umur panjang sama Alla, minta juga umurnya biar berkah, jangan cuman umur panjang tapi tidak berkah buat apa?"
"Orang tujuan kita di dunia ini untuk beribadah bukan, ingat Nak Azam Allah itu tidak butuh shalat kita, Allah tidak butuh doa kita, Allah tidak butuh puasa kita, karena Allah Maha segala-galanya"
"Tapi kita yang butuh Allah, kita yang butuh shalat, kita yang butuh puasa dan kita juga yang butuh doa, hidup itu untuk menyembah Allah, jika beribadah pada Allah itu berarti sudah menjalakan perintahnya" nasihat pak Rohim.
Azam dan pak Rohim banyak mengobrol hal bermanfaat setelahnya, dia harus benar-benar memanfaatkan waktu yang hanya tinggal menghitung jam lagi untuk meinggalkan Lombok dengan baik, agar selama keberadaan Azam di Lombok tidak lah sia-sia saja.
Setiap kali mengobrol dengan pak Rohim Azam merasa selalu mendapatkan pelajaran baru, setiap apa yang dikatakan pak Rohim menurut Azam selalu berbobot dan mengandung ilmu yang begitu bermanfaat.
"Pak Rohim, Insya Allah bukan dzulhijah nanti saya akan kembali lagi ke lombok untuk menuntaskan janji saya yang ingin menghajikan beberapa penduduk di desa Kenanga ini"
__ADS_1
"Boleh saya meminta tolong pak Rohim untuk menyiapkan data siapa saja yang akan berangkat haji nanti, tapi saya mohon pak Rohim juga ikut serta dalam haji ini"
"Alhamdulillah, insya Allah Nak Azam jika Allah menghendaki saya akan mengatur semuanya dengan sebaik mungkin"
"Terima kasih atas kebaikan Nak Azam"
"Tidak pak saya yang seharusnya berterima kasih atas satun tahun yang tidak dapat saya ucapakan denban kata-kata banyak sekali pelajaran yang saya dapat selama ada di desa ini, pak Rohim selalu membanut saya dalam banyak hal"
"Sekali lagi terima kasih pak Rohim"
Hampir 2 jam lebih kedua laki-laki berbeda generasi itu menghabiskan waktu mereka untuk mengobrol hal yang bermanfaat sampai pak Rohim ingat jika dia harus membantu para warga yang sedang memasang PLN.
Pemasangan PLN di desa Kenanga itu hampir selesai tinggal sedikit lagi. "Iya Nak Azam tadi sebelum bicara dengan saya, Nak Azam mau kemang?" tanya pak Rohim memastikan.
"Astagfirullah hal-Adzim saya mau bantu bapak-bapak yang sedang gotong royong pak Rohim, maaf saya melupakan tujuan saya pak Rohim"
"Tidak apa Nak Azam, ayo sekarang kita kesana membantu mereka sekalian juga siapa tahu Nak Azam ingin berpamitan dengan yang lain"
"Ayo" ajak pak Rohim Azam pun mengangguk.
Keduanya pegi ke sebelah lapangan yang sangat luas di desa Kenanga itu secara bersama.
Sampai di lapangan yang sangat luas itu sudah ramai bapak-bapak dan para anak muda yang sudah muali mengerjakan tugas mereka masing-masing.
"Assalamualaikum" sapa pak Rohim dan Azam bersama pada seluruh warga yang hadir.
"Wa'alaikumsalam pak Rohim dan Nak Azam" jawab mereka semua serentak
"Maaf terlambat" ucap pak Rohim tidak enak.
"Tak apa pak Rohim"
__ADS_1