Mengenal Sang Pencipta dengan bantuan system

Mengenal Sang Pencipta dengan bantuan system
Bab 29. Kino dan Erlang


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Ma, pa kenapa abang Azam tak pernah mengirimku kabar? Sombong sekali dia itu pada adiknya sendiri"


Maya tersenyum melihat Erlang yang terus mengomel sendiri dari tadi. "Ini bukan salah abangmu Azam, tapi salah mama yang tidak memberitahumu jika 1 bulan sekali abangmu akan memberi kabar"


"Benarkah?"


"Iya, hanya saja papa dan mama tidak memberitahumu"


"Wyh?"


"Ya mama dan papa kira bangmu sudah memberitahumu juga" sahut Heru yang baru saja bergabung di ruang makan.


Erlang mendengus kesal dengan apa yang keluar dari mulut papa nya. "Bang Azam hanya mengirimku pesan sekali, itu saja karena dia butuh"


"Jika tidak butuh mungkin bang Azam tidak akan mengirim pesan apa-apa padaku"


Heru dan Maya menatap Erlang dengan bahagia tak pernah keduanya bayangkan jika keluarga mereka bisa seperti keluarga pada umumnya.


Sebenarnya bukan Azam yang menghubungi kedua orang tuanya melainkan sistem ikon, sejak terakhir menghubungi Erlang waktu itu Azam menyadari jika ada yang sedang mengincar lokasinya, maka dari itu dia tak pernah lagi membuka hp nya.


"Sudah tidak usah cemberut begitu, kamu tenang saja abangmu itu bisa menjaga diri diluar sana" hibur Heru.


"Papa! Bukan itu masalahnya, aku tidak peduli dia baik-baik saja atau tidak diluar sana, karena aku tahu jawabnya pasti dia akan baik-baik saja"


"Lalu?" kompak Heru dan Maya.


Erlang tak langsung menjawab dia menatap kedua orang tuanya lebih dulu secara bergantian, Erlang sengaja menatap orang tuanya dengan insten dan tak lupa mukanya yang dia pasang semelas mungkin.


"Aku merasa sudah tidak dianggap adik lagi oleh bang Azam" jawabnya dengan lirih.


Heru dan Maya kini sama-sama menyerit heran dengan perkataan Erlang, apalagi dia berkata dengan muka yang amat serius.


"Bukan begitu Erlang sebenarnya bangmu itu selalu menitipkan salam untuk dirimu hanya saja mama dan papa lupa memberitahu padamu, iya kan pa?" ujar Maya meminta persetujuan dari suaminya itu.


"Benar apa yang dikatakan oleh mamamu Erlang, jadi jangan bersedih lagi oke"


"Aku juga memang tidak bersedih, siapa yang bersedih memangnya?" bingung Erlang.

__ADS_1


Erlang merasa tidak tahu apa-apa sedangkan kedua orang tuanya sudah menatap dirinya dengan begitu tajam.


'Anak ini!' kesal Maya.


"Erlang!"


"Kenapa pa, ma apakah ada yang salah?" Maya dan Heru semakin dibuat kesal oleh Erlang.


"Tidak ada teruskan makan kalian" suruh Heru akhirnya.


Sejak pertama kali keluarga Abraham itu sarapan bersama, saat masih ada Azam, kini mereka selalu sarapan bersama sesibuk apapun Heru, Erlang dan Maya mereka selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersama.


Para pekerja di rumah keluarga Abraham itu tak pernah lagi merasakan hawa mencengkam di rumah tersebut yang ada hanya kehangatan yang mereka rasakan, tak jarang mereka juga melihat keluarga itu bercanda bersama.


Walaupun tuan muda pertama mereka tidak ada, tapi tak perang orang di rumah Abraham itu melupakan Azam.


Seperti tadi pasti walaupun hanya sebuah candaan mereka akan membahas tentang Azam, bukan hanya Erlang yang merindukan Azam tapi juga kedua orang tuanya.


Ketika mereka tengah sarapan bersama seorang datang bertamu ke rumah mereka. "Assalamualaikum om, tante, Lang" sapa orang itu.


"Wa'alaikumsalam" jawab mereka yang berada di meja makan.


"Terima kasih tante" sahut Zevana ikut mengambil duduk disalah satu kursi yang ada di ruang makan.


"Sudah 1 tahun Azam belum juga ada kabar tan kapan dia pulang?" tanya Zevana basa-basi.


"Sepertinya mama dan papa lupa memberitahu Zevana jika bang Azam 3 sampai 4 tahun lagi baru akan pulang" bukan Maya yang menjawab melainkan Erlang.


Deg!


'Tiga sampai empat tahun lagi' batin Zevana dengan ragu.


"Serius Lang?" bukan hanya Erlang yang mengangguk tapi juga kedua orang tuanya.


Erlang dapat melihat raut kecewa dari muka Zevana. "Sudah lebih baik kita memikirkan pekerjaan kita disini, Azam juga pasti masih sibuk jangan bersedih" hibur Maya.


Mereka semua kembali fokus dengan makana mereka tapi tak lama kemudian terlihat Erlang sudah menyelesaikan makannya.


"Erlang sudah beres, Erlang duluan Assalamualaikum" pamit Erlang.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam" sahut ketiga orang itu dengan kompak.


***


Seorang laki-laki dengan pakaian kantornya dengan jas lengkap tengah tersenyum mengerikan di hadapan seseorang. Matanya menyorot tajam seakan mengisyaratkan jika dia begitu membenci yang namanya pengkhaianat.


"Kamu tahu sudah hampir 6 bulan tapi tidak ada satupun orang yang menemukan padahal anda bekerja dengan dua kelompok"


"Tapi tidak ada satupun dari mereka yang peduli dengan anda, sungguh malang nasib anda ini, anda tahu seorang pengkhaianat tak akan pernah bisa menyembunyikan kebusukannya dengan lama"


"Ingat sepandai-pandainya anda menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya dan sekarang anda merasakan atas perbuatan anda sendiri"


"Bagaimana tidak diakui? Hahahha enekkah?"


"Sebenarnya aku ingin membunuhmu, tapi aku takut berdosa, tengan saja setelah semua bukti terkumpul kamu akan segera keluar di tempat ini dan mendekam di penjara bawah tanah milik negera, hahhaha!"


Kino terus saja berbicara dengan nada suara yang amat mengerikan, sementara orang yang Kino ajak bicara merinding ketakutan.


Sudah hampir 6 bulan pengkhaianat itu di dalam genggaman Kino, tapi tak ada satu orang pun yang menyelamatkan dirinya.


"Apakah anda menyesal telah mengkhianati bos Azam dulu? Anda sekarang merasakan balasnya bukan?"


"Ingat jangan pernah berani macam-macam dengan Azam Abraham, kamu tahu kalian itu hanya seekor tikus penganggu bagi bos Azam paham!"


Kino sudah 6 bulan ini kembali ke kotanya dia juga langsung membantu Erlang dalam memimpin perusahaan, karena Kino sudah banyak tahu.


Semenjak ada Kino pekerjaan Erlang juga sedikit mudah tidak seperti dulu, saat baru pertama kali memimpin Abraham group Erlang sudah kehilangan 3 investor terbesar di Abraham group


Tentu saja Erlang segera mengatasi itu semua, walaupun butuh waktu lama Erlang biasa kembali memulihkan perusahaan kakaknya itu.


"Ingat satu hal tidak akan ada yang bisa menemui tempat ini, karena hanya aku dan bos Azam yang mengetahui tempat menyeramkan ini, hahhaha"


"Sudah aku sudah puas bermain dengan anda sampai bertemu lagi besok, dadah semoga harimu di dalam sini menyenangkan hahahah!"


Kino pergi meninggalkan ruangan yang gelap guliat itu tidak ada sedikitpun cahanya yang keluar dari ruang tersebut.


Hanya Azam dan Erlang yang mengetahui tempat itu, bahkan tak ada yang pernah datang ke tempat tersebut kecuali Azam dan Kino.


Setelah menemui orang tadi Kino segera menuju Abraham group untuk bekerja seperti biasanya.

__ADS_1


Jika Kino boleh jujur dia lebih suka bosnya Erlang dari pada Azam, tapi mau bagaimanapun Azam tetaplah bos yang sebenarnya.


__ADS_2