Mengenal Sang Pencipta dengan bantuan system

Mengenal Sang Pencipta dengan bantuan system
Bab 41. Sudah dimulai


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Dor…!


Dor!


Dor!


Suara tembakan terdengar dimana mana, suara tembakan itu seakan tidak ada hentinya sama sekali, para penduduk desa Sumber Jaya saling melindungi satu sama lain kala mendengar suara tembakan.


Bom…!


Bom!


Bom!


Bukan suara tembakan saja yang terdengar dimana mana sampai ke telinga setiap orang yang mendengarnya mereka akan merasa ngeri jika baru pertama mendengar suara tembakan itu.


Suara ledakan bahkan terdengar dimana-mana, ledek bom itu juga merupakan setengah hutan.


Azam dan para penduduk desa sumber jaya, segera mencari cara untuk terus menjaga desa tersebut agar tidak terkena dampak negatif dari bom yang sedari tadi terus saja terdengar ledakannya tanpa henti sejak tadi.   


Rapum tanpa pikir panjang dia langsung menghadapi Deon yang merupakan orang kepercayaan mafia black bar.


"Aku tunggu janjimu Rapum!" ucap Robert sebelum dia meleset pergi untuk menghadapi ketua black bar.


"Beres bos, aku juga sudah tak sabar untuk menembak kepalanya" sahut Rapum dengan santai.


Sesudah terlibat obrolan kecil itu Rapum maupun Robert sama-sama meleset ke arah lawan mereka masing-masing.    


Rapum dan Deon saling menatap tajam satu sama lain. "Aku pastikan hari ini kelompok kalian akan musnah Rapum!" ucap Deon.


"Affa iyah? Sebesar apa kamu yakin Deon? Hahaha" tawa Rapum benar-benar pecah.


Deon tak terima seakan Rapum benar-benar mengejek dirinya, tanpa Deon sadari Rapum sudah siap memainkan pistolnya yang dia sembunyikan di balik bajunya, Deon yang sudah kesal pada Rapum langsung menarik pistolnya.


Dor!


Suara tembakan yang begitu keras saat Deon menembak Rapum namun belum Deon memahami apa yang terjadi, satu tembakan dari Rapum mengarah tepat di kaki kanan Deon.


Dor!


Tang…tang…tang! Deon tidak tahu jika baju yang Rapum kenakan anti peluru. Deon yang merasa kakinya tertembak merasakan sakit dan begitu perih sangat dalam.


"Kurang ajar kamu Rapum aku akan membalasmu!"


Dor!


Dor!


Dor!

__ADS_1


Deon menembak Rapum berkali-kali tapi semuanya gagal, tak ada satupun tembakan yang diberikan oleh Deon pada Rapum yang mengenai tubuh pria itu, Rapum masih terlihat baik-baik saja.


Rapum tertawa mengejek. "Hanya ini kemampuan mafia black bar? Selain bodoh ternyata kalian juga ceroboh!" ejek Rapum.


Dor!


Satu tembakan lagi mendarat di kaki Deon, Deon benar-benar sudah muak dengan Rapum, Deon juga mengembalikan apa yang sudah Rapum lukai pada dirinya.


Dor!


Doen sudah tahu celah mana yang  harus dia lakukan untuk membalas Rapum, Deon juga menembak tepat di sebelah kaki Rapum.


Done baru menyadari jika Rapum mengenakan baju anti peluru. "Kamu kira setelah mengenakan baju anti peluru itu bias melawanku jangan harap Rapum mimpi saja sana!" ejek Deon.


Saat ini Deon tengah bertahan melawan rasa sakit yang sudah menjalar di kedua kakinya.


Dor!


Dor!


Dor!


Suara tembakan dimana-mana juga terdengar di kuping Rapum maupun Deon, suara tembakan terus saja terdengar saling menyusul satu sama lain.


Disaat Deon sedikit legah Rapum segera memanfaatkan momen tersebut.


Dor!


Dor!


Deon mengerjapkan kedua bola matanya sebelum kesadarannya hilang secara keseluruhan.


"Kam-" ucap Deon belum selesai tapi dia sudah pingsan lebih dulu, Deon sudah benar-benar tidak sadarkan diri.


Rapum tersenyum puas karena telah berhasil mengalahkan Deon, sebelum kembali menggunakan pistolnya untuk menembak orang lagi Rapum menipu pistol itu lebih dulu.


"Aku sudah menepati janjiku pada bos Robert" sebelum meleset pergi Rapum menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengurus Deon lebih dulu dibawa ke tempat yang aman, agar tak diselamatkan oleh kelompok mafia black bar.


Barulah Rapum meleset pergi dan mulai membantai kelompok mafia black bar yang lainnya.


Dor!


Dor!


Suara tembakan tak ada hentinya sampai-sampai membuat penduduk desa sumber jaya yang sedang mengungsi ketakutan, untunglah mereka bisa saling menguatkan satu sama lain.


"Untung kita sudah pindah dari desa ya bu, kalau tidak bagaimana nasib kita di sana nanti" ucao salah satu ibu-ibu yang sedang memaksa bersama untuk makanan mereka.


"Nggih bu Alhamdulillah enek wong sing baik kayak Nak Azam" sahut ibu-ibu yang satunya.


"Aku penasaran loh bu Nak Azam iku seko  endi kok iso neng deso kito, apo koncone Aji, po pie" 

__ADS_1


"Aku nemuke Azam neng perbatasan hutan bagian timur bu, iku geh wes aku luka-luka dee" ibu Aji yang sedari tadi bengong kini ikut bicara juga.


"Alhamdulillah, aku bersyukur bu ada Azam di desa kita"


"Iya bu"


Orang-orang di desa Sumber Jaya memang memiliki suku-suku dan agama yang berbeda tapi mereka tetap hidup rukun dan damai, bisa saling memahami satu sama lain, saling toleransi baik dengan agama masing-masing.


Mereka tak pernah sekalipun mencampur bauri agama mereka, jika yang non islam sedang ibadah orang islam tak akan mengangguk mereka akan membiarkan saja dan mereka tidak akan ikut-ikutan apa yang dikerjakan oleh orang non islam.


Begitu pula sebaliknya jika orang islam yang sedang beribadah mereka tak akan pula merecok, toleransi paling indah tak mencampur baurkan agama satu dengan agama yang lain. 


Mereka yang berbeda suku pun saling menghargai satu sama lain, ini salah satu kunci kemakmuran yang terjadi di desa sumber jaya adanya saling menghargai.


Kembali ditempat kejadian keributan dan kekacauan yang terjadi oleh kelompok mafia black bar dan Robert.


Robert dan ketua mafia black bar yang bernama Han sedang menembakkan peluru mereka satu sama lain.


Dor!


Dor!


Dor!


"Ingat Han kamu yang memulai semua kericuhan yang terjadi, maka aku akan mengakhirinya!" tegas Robert.


Sedari tadi dua orang itu saling tembak menembak namun tetap saja tembakan dari keduanya tidak ada yang tepat akan sasaran, kedua orang itu sama-sama kuat.


Antara Robert dan Han memang tidak bisa diragukan lagi kemampuan dua ketua kelompok besar yang berpengaruh di berbagai negara.


"Karena aku yang memulai maka aku juga yang akan mengakhiri semuanya Robert! Dengan kekalahan yang akan menghampirimu! Hahahhaha!" 


"Cih, jangan sombong kamu Han apakah selama ini kamu mampu mengalahkanku!"


"Bukankah setiap kita bertemu kekuatanmu masih sama saja seperti dulu tidak ada perubahan sedikitpun pada dirimu"


"Sombong kamu Robert!"


Dor!


Dor!


Han terus menembak Robert tiada henti, Robert memang sengaja memancing emosi Han, tapi tak dia sangka jika Han sudan marah besar akan bahaya untuk dirinya.


Dor!


Dor!


Tak ada pilihan lagi bagi Robert selain menyerang balik Han, tapi bedanya jika Han menembak Robert dengan membabi buta, Robert justur menembak dengan tenang dari celah-celah yang dia dapat.


Tapi hasilnya sama saja kedua orang itu sama sekali tak membuat satu sama lain terluka.

__ADS_1


"Aku terlalu meremehkan Han, ternyata kekuatannya sudah mengikat pesat, aku sendiri menasihati Rapum, tapi aku tak menasehati diri sendiri, aku harus bisa lebih hati-hati lagi menghadapi Han, tak boleh gegabah" batin Robert.


__ADS_2