
Bismillahirohmanirohim.
Azam dan Aji menatap serius video yang sedang mereka tonton di hp milik Azam, Azam mengeraskan rahangnya saat menonton video tersebut.
"Ternyata kamu dalangnya Rapum!" kesal Azam tapi dia tidak sampai marah.
Tadi pagi-pagi sekali saat mata hari sudah menampakkan sedikit wujudnya Azam memutuskan untuk membuka ponselnya yang sudah lama sekali tidak dia sentuh.
Pertama kali membuka ponselnya Azam langsung mendapatkan sebuah notifikasi dari salah satu aplikasi yang belum pernah Azam lihat sama sekali.
Azam penasaran dengan aplikasi tersebut saat Azam mengklik dan membuka aplikasi aneh itu Azam dibuat tercengang karena tulisan yang tertera saat masuk aplikasinya.
'Selamat datang di aplikasi bola sayap! Anda dapat mengakses informasi apappun diaplikasi ini asalkan masih sesuai dengan prosedur yang diterapkan oleh aplikasi bola sayap'
Setelah selesai membaca tulisan itu Azam terdima sejenak sampai mulutnya mengeluarkan kata yang entah dia sendiri sadar atau tidak.
"Jadi selama ini bola sayap bersarang di ponsel ini, pantas saja setiap keluar bola sayap selalu dari tubuhku"
Lama Azam kembali terdiam lalu sembuah notifikasi yang masuk dari aplikasi bola sayap membuat Azam penasaran dan segera membuka notifikasi apa yang sudah diberikan oleh bola sayap di dalam ponselnya.
"Astagfirullah, inalilahiwainalilahirojiu'n" ucap Azam sedikit keras kala melihat video beberapa orang ingin mengacau di perusahaan miliknya.
Orang-orang yang berada di dalam video itu tentu saja merupakan orang suruhan Rapum, mereka disuruh menggelapkan dana yang ada di Abraham group sejemulah 5 triliun rupiah.
Alhamdulillah belum sempat mereka menjalankan misi tersebut Erlang sudah mengetahui niat busuk mereka.
Menonton video tersebut Azam menjadi begitu bangga pada sang adik, Azam memang sudah mantap menitipkan perusahannya pada Erlang, Azam tahu jika sebenarnya Erlang lebih pintar dari pada dirinya.
Sebulan terakhir sebelum Azam pergi untuk ke seumba dia yang sebelumnya tidak pernah memperhatikan Erlang sama sekali, sampai disaat kedekatan mereka itu Azam diam-diam mulai memperhatikan Erlang adiknya.
__ADS_1
Yang Azam lihat dari Erlang bukan hanya pintar namun juga anak bungus dari pak Heru dan ibu Maya itu memiliki kepekaan diatas rata-rata, jangan lupakan tanggung jawabnya yang selalu konsisten menyelesaikan masalah dengan perlahan tapi pasti itulah Erlang.
Azam yang tengah fokus menonton video dari handponenya tak menyadari kehadiran Aji karena penasaran apa yang ditonton oleh Azam, tanpa basa-basi Aji mengambil tempat duduk tepat disebelah Azam, lalu dia ikut menonto tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Azam yang masih fokus benar-benar tidak menyadari kehadiran Aji yang sudah duduk santai disebelahnya. Azam kembali mengeraskan rahangnya saat video itu menunjukkan wajah Rapum, tak berseling lama dari itu Azam baru menyadari kehadiran Aji karena ucapan yang keluar dari mulut laki-laki di sebelahnya itu.
"Perusahaan Abraham group" ucap Aji sambil terlihat berfikir.
Sementara Azam menatapnya dengan tanda tanya sekaan tatapan itu mengatakan. 'Sejak kapan kamu disini?' tak lupa tatapan itu juga sekaan menuntut jawaban dan penjelasan dari Aji.
"Jadi kamu Azam Abraham pemilik perusahaan terbesar di kota ini?"
"What! Kota ini jadi maksudnya desa ini masih berada di kota Surabaya?"
Kedua orang itu malah saling meleparkan pertanyaan. "Dan kamu ada Azam Abraham yang terkenal begitu dingin itu" ucap Aji lagi belum menjawab pertanyaan Azam sama halnya dengan Azam, Aji juga belum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Azam.
"Kamu bagaimana sih Ceo dari Abraham group tidak tahu jika desa ini tempat di dekat perusahaan anda pak Ceo, dihutan yang terdapat jauh dibelakang perusahaan Abraham group tersebut" terang Aji.
"Coba lihat!" ucap Aji sedikit keras hampir membuat Azam terlonjak kaget.
Azam membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna saat melihat Rapum menyusun rencana dengan baik untuk menghancurkan Abraham group.
Perusahaan yang selama ini Azam bangun sendiri dari 0 bahkan tanpa campur tangan kedua orang tuanya Azam benar-benar membanggun Abraham group seorang diri.
Kedua orang itu kembali fokus menonton apa saja yang Rapum lakukan, sampai orang itu keluar dari ruangnya akan menuju Abraham group.
"Pak Azam cepat lakukan sesuatu untuk menyelamatkan perusahaan anda! Cepat pak Azam! Sebelum perusahaan itu jatuh ketangan orang lain" Aji sudah heboh sendiri saat melihat Rapum sudah hampir menuju mobilnya.
Tapi Azam tetap bersikap biasa saja, Azam begitu yakin jika Rapum tidak akan bisa menghancurkan Abraham group.
__ADS_1
Sekarang yang Azam pikirkan bukan lagi tentang keuntungan yang begitu besar akan dia dapat nantinya dari perusahaan Abraham group, tapi Azam lebih memikirkan bagaimana nanti nasib para karyawan jika Abraham group tutup.
"Diamlah Aji lihat Rapum tidak jadi ke Abraham group ada yang menelponnya"
Mendengar perkataan Aji akhirnya dia sadar denga tingkahnya barusan. "Maaf" cicit Aji.
"Panggail aku seperti biasanya Azam pahamkan kamu Ji?"
"Iya, iya tadi itu kaget saja kok" kilah Aji.
Mereka berdua kembali fokus menonton dan Azam maupun Aji dapat dengan jelas mendengar percakapan Robert dan Rapum yang mereka lihat dari video diaplikasi bola sayap.
"Ternyata kamu dalangnya Rapum!" kesal Azam tapi dia tidak sampai marah. Setelah dia selesai menonton video dari aplikasi bola sayap.
'Mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati lagi apalagi ini menyangkut kepentingan orang banyak' bati Azam.
Sebenarnya Azam selama menonton video itu terus beristighfar dalam hatinya agar tidak terhasut oleh godaan setan.
Maka dari itu selama menonton video tersbut Azam tak begitu emosi, dia bahkan sangat tenang ketika melihat Rapum akan mendatangi perusahaannya berbeda dengan Aji yang sudah begitu emosi.
"Zam ini aplikasi apa?" tanya Aji dia menyadari apliaksi aneh itu tempatnya dan Azam menonton barusan.
"Ini aplikasi rahasia, sudah tak usah membahas ini lagi, sekarang ayo kita susun rencana agar desa ini bebas dari kelompok mafia Black bar"
"Tidak tahu kenapa aku juga punya firasat jika mafia black bar memang sengaja memporovokasi kelompok Robert agar mereka bisa mengambil alih desa ini"
"Sepertinya peperangan yang akan terjadi ini memang sudah direncanakan oleh mafia black bar"
"Hal pertama yang akan kita lakukan harus memastikan lebih dulu jika warga disini aman saat peperangan itu akan terjadi, firasatku mengatakan jika perang anatara dua kelompok besar itu akan terjadi di desa Sumber Jaya ini"
__ADS_1
Acam mengoceh panjang lebar sementara Aji hanya setia mendengarkan apa yang di katakan oleh Azam, dia tak menanggapi apa-apa.
Aji sekarang semakin yakin jika Azam bisa membantu desa mereka apalagi setelah mengetahui siapa Azam sebenarnya