
Bismillahirohmanirohim.
tak ada yang tahu jika setiap tempat yang pernah dilewati oleh Azam ataupun yang pernah dia datangi semua akan terekam pada sistem ikon.
Hal itu pun terjadi pada Ketiga orang yang ada di dapur rumah tunanetra, selain Azam yang Mendengar pembicaraan Ketiga orang itu sistem pun merekamnya dengan jelas.
" jadi Apakah ada rencana?" kini 1 orang diantara Ketiga orang itu ikut bersuara.
mereka masih berada di dapur rumah tunanetra padahal peraturan di rumah itu jika jam 09.00 malam tidak boleh ada orang lagi yang keluar dari kamar mereka masing-masing.
"Lebih baik kita pikirkan besok saja besok malam kita kembali berkumpul di sini Tapi ingat jangan sampai ada yang tahu apa yang kita rencanakan paham"
" Benar Harusnya kita mencari cara agar bisa mengusir si azam-azam itu dari sini Aku curiga Sepertinya dia mata-mata yang akan mengungkapkan kejahatan yang telah kita lakukan"
Azam masih setia mendengarkan semua yang mereka katakan itu bukan niat menguping tapi karena ini adalah salah satu hal yang harus segera diselesaikan di rumah tunanetra jika tidak maka mereka akan selalu kekurangan dana.
sebenarnya bisa saja Azam menyuruh Erlang untuk menyalurkan dana ke rumah tunanetra tapi bukan itu yang jadi masalahnya saat ini jika orang-orang itu tidak segera diselesaikan maka permasalahannya juga tidak akan selesai mereka harus segera dibereskan terlebih dahulu masalah menyalurkan dana itu hal yang mudah bagi Azam.
"Sudah sekarang lebih baik kita istirahat dulu, Ingat jangan sampai Ibu Minah mengetahui apa yang kita lakukan aku tidak mau membuat Ibu Mina kecewa"
"Aku juga pun begitu sama tidak ingin membuat Ibu Minah kecewa"
" sudah sudah tahu saya membahas masalah itu sekarang Mari kita istirahat sebelum ada yang melihat pertemuan kita bertiga saat ini" ajak Elin pada kedua temannya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari sebenarnya mereka sudah menyakiti hati ibu Minah walaupun ibu Minah tahu atau tidak pasti ibu Minah dan suaminya akan begitu kecewa pada Elin dan ketiga temannya karena sudah melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan.
mereka seharusnya memberi contoh yang baik pada orang-orang yang ada di rumah tunanetra karena mereka bertiga hampir yang paling senior merupakan karyawan di situ selain Ruli.
ada 20 karyawan diantaranya mereka adalah yang perempuannya ada Elin, Tika, Mia, Oliv, , Santi, Lia, Lila, Kelly, Joy, Via, Lina.
sementara karyawan laki-lakinya ada 9 orang diantaranya Ada Ruli, Bagas, Rudi, Danu, Galuh, Rizki, Aryo, Beni, Nanang dan Mail.
dan ketiga orang itu merupakan Elin Tika dan Danu, merekalah yang membuat perkumpulan rahasia itu antara mereka bertiga sebenarnya Danu, Elin dan Tika sama dengan Rully ke-4 orang itu adalah yang pertama masuk menjadi karyawan tunanetra.
Rudi sebenarnya tahu apa yang dilakukan ketika temannya itu, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena mereka mengancam jika Ruli memberitahu apa yang mereka lakukan pada ibu Minah dan suaminya Pak Harjo maka bukan hanya Ruri yang terkena imbasnya tapi juga semua orang-orang yang ada di rumah tunanetra akan merasakan akibatnya.
Hal inilah yang membuat Rudi berdiam diri dan tidak berani mengungkapkan kebenaran kepada Ibu Minah Jujur saja Rully saat ini hidup dalam ketakutan yang luar biasa penyesalan yang dialami karena tidak bisa mengungkapkan Apa yang sebenarnya sudah terjadi di rumah tunanetra.
mereka akan pura-pura mendengarkan apa yang dikatakan Elin adalah salah satu karyawan perempuan yang selalu berpuasa di antara mereka semua mereka bukan tidak berani melawan dengan Elin tapi jika mereka berani melawan Elin mengancam akan menyakiti para orang-orang yang mereka jaga orang-orang tunanetra yang tidak tahu apa-apa itu.
" Sudah ayo kita pergi" ajak Elin sekali lagi dan mereka benar-benar pergi ke kamar mereka masing-masing Elin dan Tika memang satu kamar.
setelah kepergian Ketiga orang itu Azam keluar dari persembunyiannya dia mengurus dadanya dan terus berucap Istighfar dalam hatinya, Azam tak menyangka akan menemukan hal yang memang dia cari secepat ini.
"Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim"
Azzam terus istighfar sambil mengelus dadanya Dia segera menuju dapur untuk mengambil minum isi dari tadi ausnya memang belum hilang menunggu mereka pergi tapi tak kunjung pergi akhirnya azan segera mengambil air dan meminumnya.
__ADS_1
Azam melakukan itu semua dengan hati-hati karena dia takut ketika orang itu belum benar-benar pergi dari dapur.
" Hal ini tidak boleh dibiarkan begitu lama harus segera diselesaikan jika tidak kemungkinan rumah tunanetra ini akan ditutup begitu saja karena kekurangan dana"
"Aku menjadi penasaran sebenarnya Kenapa mereka dengan Teganya melakukan hal itu padahal bukan kan rumah tunanetra ini sudah menjadi seperti rumah mereka sendiri suka dan duka mereka berada di sini"
Azzam Tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh ketiga orang itu Entahlah adzan belum mengenal siapa mereka dan nama-nama mereka siapa. Azam baru ada setengah hari di rumah tunanetra itu dia hanya mengetahui nama Ruli saja para karyawan yang lainnya Azzam tidak tahu.
Lama tenggelam dengan pikirannya sendiri akhirnya Azam memutuskan untuk kembali ke kamarnya, sampai di dalam kamar Azama melihat Ruli yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Bang Azam dari mana?" kata itulah yang keluar pertama kali dari mulut Ruli saat melihat Azzam baru saja kembali ke kamarnya padahal sudah jam 09.00 lewat.
"Aku habis mengambil minum Ruli aku begitu haus tapi di sini sudah ada tidak ada air minum lagi maka dari itu aku memutuskan untuk mengambil air minum di dapur saja" jelas Azam pada Ruli.
Azam tidak mau ada salah paham di antara mereka berdua apalagi Azam baru hari ini masuk ke rumah tunanetra Masa dia sudah membuat kekacauan saja.
" Maaf Abang Azam tadi airnya aku habiskan karena begitu haus sebelum tidur tadi aku menghabiskannya" sesar Ruli merasa tidak enak pada Azam.
" sudah tidak apa-apa lebih baik kita lanjut tidur saja"
Ruli pun mengangguk setuju dia kembali memposisikan tubuhnya agar segera kembali tertidur.
" Apakah Ruli mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah tunanetra?" pikir Azam.
__ADS_1
Azam tak tahu kenapa dia bisa berpikir seperti itu tapi tiba-tiba dia teringat dengan handphonenya setelah mendapatkan handphonenya Azam segera membuka aplikasi bola sayap yang memang sudah ada di dalam handphone itu.