
Bismillahirohmanirohim.
Sayup-sayup kesadaran Azam masih ada sebelum dia benar-benar tidak sadarkan diri Azam perlahan mengerjapkan kedua bola matanya.
"Dimana ini?" tanya Azam lirih entah pada siapa, karena disitu benar-benar tidak ada orang sama sekali.
Bruk!
Suara benturan yang begitu kerasa terdengar setelahnya, kini Azam sudah tidak sadarkan diri lagi, badanya benar-benar berlumuran darah.
Bekas luka lembap terlihat dimana-mana, perlahan sebuah cahaya putih kombinasi biru mendekat pada Azam dan sebuha bola bersayap yang terbang disekitaran Azam.
[Maaf bos Azam tapi lorong waktu miliki sistem ikon tidak bisa dikendalikan dengan mudah]
Bola sayap yang sedari tadi berterbangan di atas Azam, segera menghampiri cahaya putih kombinasi biru itu, perlahan cahaya itu terbang sambil mengelilingi cahaya tersebut.
[Hai! kenapa bola sayap mengelilingi sistem ikon!] cayah tersebut merasa terganggu karena bola bersayap itu terus saja terbang disekitarnya.
[Sudah tahu lorong waktu susah dikendalikan tapi kenapa masih dipakai?]
[Untung saja bos Azam tidak mati! bagaimana kalau hilang nyawanya mana bisa sebuah sistem bertanggung jawab!] bola sayap itu sekaan memarahi sistem ikon yang merupakan bagian dari bola sayap.
[Sekali lagi maaf tapi hanya dengan menggunakan lorong waktu baru bisa memulai misi ketiga bos Azam! Jika tidak maka bos Azam maupun sistem akan sama-sama mengalami kerugian]
[Baiklah terserah sistem saja, lalu bagaimana sekarang dengan bos Azam, sudah terluka parah begini sistem maupun bola sayap bukankah tidak bisa berbuat apa-apa]
[Biarkan saja bos Azam sepertinya ada orang yang akan kesini, sudah dipastikan ada yang akan membantu bos Azam nanti, sekarang kita harus pergi]
Sebenarnya sistem ikon menghilangkan sedikit rasa sakit yang Azam rasakan, hanya itu yang dapat sistem ikon lakukan, tak berapa lama cahaya terang itupun menghilang bersamaan dengan bola sayap yang entah pergi kemana arahnya.
Sementara tubuh Azam masih setia tergeletak di atas dedaunan kering di sebelahnya terdapat batu besar bekas darah, mungkin Azam terbentur dengan batu tersebut.
Sudah hampir menjelang sore tapi tidak ada tanda-tanda orang yang melewati tempat tersebut untuk membantu Azam, bahkan tempat itu seperti tempat yang tidak berpenghuni sama sekali.
__ADS_1
Perlahan Azam membuka kedua bola matanya, penglihatannya begitu kabur hampir semua waran yang Azam lihat begitu remang-remang dan sama sekali tidak jelas.
Saat Azam sudah membuka kedua bola matanya dengan sempurna Azam dibuat terheran-heran karena dia tak tahu saat ini dirinya berada dimana.
Azam berusah bangun dari tempatnya, tapi semua badannya terasa begitu sakit, hingga membuat Azam tak bisa bangkit sama sekali.
"Ada apa denganku sebenarnya, kenapa dari kemarin ini badan terasa begitu sakit" keluh Azam.
"Dan sekarang aku berada dimana?" Azam menatap sekeliling dengan kedua bola mata yang hampir kembali terpejam.
"Sistem ikon bantu aku, sebenarnya aku dinawa kemana sistem! Kenapa sedari tadi aku terus memanggil sistem tidak pernah muncul, apa sistem menjebakku dan mau lari dari tanggung jawab" keluh Azam.
Krek....krek...krek....!
Samar-samar Azam mendengar sebuah ranting kayu yang diinjak. "Tolong apakah asa orang"
"Tolong siapapun anda to-" belum selesia Azam bicar dia kembali tidak sadarkan diri.
Saat ada seorang yang mengahapri dirinya kedua bola mata Azam kembali terpejam. Perlahan orang itu mendekati Azam.
###
"Lapor bos orang yang kita cari sudah tidak berada lagi di desa Kenanga"
Robert yang mendengar informasi dari anak buahnya itu mengeraskan rahangnya. "Argh....! Bagaimana bisa terjadi!" marah Robert sambil membanting gelas yang masih berisi air ditanganya.
"Gagal lagi, gagal lagi kalian semua tidak becus!" Robert selalu saja emosi jika membahas tentang Azam yang lolos dari jebakanya.
Satu hari sebelum kepergian Azam para anak buah Robert memang sudah memasang jebakan untuk Azam, tak disangka mereka kalah cepat dengan Azam, ternyata sebelum jebakan mereka berhasil Azam sudah lebih dulu meninggalkan desa Kenanga tempat pertama bagi Azam mengenal sang Pencipat lebih dalam lagi.
"Bos anda tenang dulu, tapi ada informasi yang di dapat jika Azam pernah tinggal di salah satu rumah penduduk di desa kenanga" jalas anak buah Robert yang tadi menyampaikan informasi pada Robert.
Dia tidak ingin melihat Roebrt marah, jika bos mereka yang begitu kejam itu sudah marah pada satu orang maka sudah dipastikan yang lainnya akan terkena imbas dari kemarahan Robert.
__ADS_1
"Kita berangkat ke rumah itu sekarang!" putus Robert tanpa berpikir kedua kali.
Akhirnya Robert bersama Rapum dan beberapa anak buah Robert yang lainnya pergi menuju rumah pak Rohim, tempat tinggal Azam sebelumnya di desa Kenanga.
Mereka semua membawa alat tersembunyi seperti pistol dan pisau lipat yang diselipkan ke pinggang mereka masing-masing.
"Dimana rumahnya aku ingin segera menangkap si Azam!"
"Sebentar lagi sampai bos, tapi kita harus berlaku sopan di rumah itu" cicit anak buah Robert.
Robert menatap tajam anak buahnya yang berani sekali mengataru dirinya, menurut Robert apa yang dia lakukan terserah pada dirinya saja.
"Maaf bos saya salah, sebentar lagi kita sampai" pasrah anak buah Robert akhrinya.
"Jika aku tak membutuhkamu lagi mungkin saja aku sudah menembakmu disini" ujar Robert dingin.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah pak Rohim yang begitu sesederhana, sebenarnya Azam ingin merenovasi rumah pak Rohim.
Tapi dengan begitu halus pak Rohim menoloknya dengan alasan. 'Rumuh ini masih bisa dipakai Nak Azam, lagi pula jika hujan datang rumah ini tak bocor, bapak sudah nyaman dengan keadaan rumah seperti ini" tolak pak Rohim saat itu dengan cara yang begitu halus.
Azam tak bisa berbuat apa-apa, memenag walaupun rumah pak Rohim itu sangat sesederhana tapi begitu nyaman, semua barangnya tertata dengan rapih.
Orang yang baru pertama kali masuk ke dalam rumah pak Rohim pasti hanya satu kata yang akan dia katakan dalam benaknya 'Nyaman' rumah pak Rohim begitu nyaman.
Robert dan Rapum mengetuk-ngetuk pintu rumah pak Rohim dengan sedikit kencang.
Tok....tok...tok.....tokkkkk!"
Entah sudah berapa kali ketukan tapi tak ada jawaban dari dalam rumah. "Dobrak saja rumah ini" suruh Robert yang sudah sangat kesal.
1
2
__ADS_1
"Assalamualaikum" ucap pak Rohim saat anak buah Azam akan mendobrak pintu rumah pak Rohim dalam hitungan ketiga.
Tapi diurugakan karena mereka mendengar salam dari pak Rohim, semua orang itu menoleh kebelakang dan ternyata pak Rohim tengah tersenyum pada mereka semua.