
"Lo kenapa Bro?..." tanya L mengagetkan Dio yang berdiri di dekat tangga. Hampir saja dia terjatuh dari tangga karena kaget.
"Lo bisa gak sih...kalau muncul gak pake ngagetin…" Dio marah-marah tidak jelas.
Sampai dia tidak sadar kalau L tidak bisa dilihat orang lain. Mahasiswa lain yang melewati tempat Dio berdiri menganggap Dio sedang berbicara sendiri. Sebenarnya saat ini dia sedang berbicara dengan L.
"Lo pasang Headset lo dulu…" perintah L pada Dio.
"Buat apa?..." tanya Dio tidak mengerti.
"Itu agar orang gak berpikir lo sudah gila karena ngomong sendiri…" L menjelaskan pada L.
Dio melihat di sekitarnya mahasiswa melihatnya dengan aneh. Dia langsung mengikuti perintah dari L. Dia lalu mengambil handphone dan memasang headset lalu berpura-pura menelpon seseorang.
"Lo ngapain nelpon gue tadi?..." tanya Dio seolah L menelponnya.
"Lo ngapain deketin Nita?..." tanya L pada Dio.
"Gue mana tau dia yang sedang bermain gitar, tapi kok kelihatannya dia bukan Nita yang gue kenal?..." tanya Dio pada L.
"Ya...iyalah...dia Nita yang hidup di universe ini...bukan dari universe lo…" jawab L sambil memakan apel.
"Terus ngapain lo kirim gue ke universe yang berbeda dari universe gue?..." tanya Dio dengan kesal.
"Karena diri lo di universe ini sedang berada di universe tempat diri lo yang sebenarnya berada…" ungkap L pada Dio.
"Kok bisa?..." tanya Dio terlihat bingung.
"Ya...bisalah...lo sendiri bisa ke universe ini…" jawab L sambil berjalan menaiki tangga. "Lo ikut bareng gue…" ajak L lalu ke lantai atas yang adalah atap kampus.
Mereka berjalan menuju atap kampus yang jarang didatangi mahasiswa lain. L kemudian bersandar di sebuah dinding yang di sampingnya terlihat pemandangan dari atas. Dio juga ikut melihat pemandangan itu dari atap kampus.
"Terus kalau gue bertemu dengan diri gue dari masa lalu bagaimana?..." tanya Dio pada L.
"Diantara lo dan diri lo akan menghilang atau lo berdua akan menghilang…" jawab L kemudian.
"Emangnya seburuk itu ya?..." tanya Dio seolah tidak mempercayai ucapan L.
"Kalau lo bertemu dengan diri lo di masa lalu...maka diri lo di masa depan bisa jadi tidak ada...karena diri lo di masa lalu merubah jalur untuk menuju diri lo yang sekarang," ucap L menjelaskan. "Sebenarnya perjalan waktu seperti lo sangat dilarang...sebab lo akan mengacaukan waktu...tapi itu akan diizinkan kalau salah satu dari diri lo berpindah ke masa lalu atau masa depan…" ungkap L dengan serius.
__ADS_1
"Kalau misalkan gue mempermainkan perjalanan waktu sesuka gue bagaimana?..." tanya Dio sambil menyalakan rokok.
"Maka hukumannya keberadaan lo di setiap universe akan dimusnahkan…" jawab L terkesan itu adalah hal yang terburuk yang tidak ingin dia lihat.
"Jadi alasan gue ada disini selain untuk menyelamatkan Nita, juga untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan di masa ini?..." tanya Dio berusaha mengambil kesimpulan.
"Sekarang lo baru saja membuat jalur yang gue sendiri gak bisa memprediksi akan seperti apa…" ungkap L dengan lesu.
"Target gue masih sama yaitu mengubah takdir gue dan Nita...dengan cara apapun itu, gue gak perduli…" ucap Dio dengan serius.
"Tapi lo ingat...setiap ada yang lo rubah...maka akan ada yang menjadi korban…" ucap L sambil memandang Dio seolah memperingati.
"Siapa yang akan menjadi korban?..." tanya Dio tidak mengerti maksud L.
"Lo akan tau jawabannya nanti…" jawab L kemudian menghilang.
Sejenak Dio merenung di atap kampus tempatnya berkuliah. "Jadi semuanya tetap menjadi misteri ya?..." seolah dia bertanya dengan keadaannya.
"Lo disini ternyata?..." tanya seseorang yang sudah dia kenal suaranya yaitu Wisnu.
"Kenapa lo nyamperin gue kesini?..." tanya Dio seolah terganggu dengan kedatangan Wisnu.
"Uang apa ini?..." tanya Dio sangat bingung.
"Ini uang hasil dari upah lo memperbaiki laptop Adel…" jawab Wisnu kemudian.
"Maksud lo gimana sih?...gue gak ngerti…" tanya Dio minta penjelasan dari Wisnu.
"Otak lo kayaknya bermasalah deh…kemaren lo memperbaiki laptop sepupu gue Adel sampai bener...kemudian Adel ngirimin upah perbaikannya ke lo lewat gue, dan ini uang upah perbaikan laptop milik Adel…" Wisnu menjelaskan dengan sabar semuanya.
"Oh...gitu…" ucap Dio pura-pura mengerti lalu menerima uang pemberian Wisnu itu. "Terima kasih ya?..."
"Iya...sama-sama…" jawab Wisnu kemudian.
"Lo mau ngerokok gak?..." tanya Dio sambil menyodorkan sebungkus rokok.
"Tumben lo mau berbagi rokok, biasanya lo pelit kalau soal beginian…" ucap Wisnu sambil mengambil sebatang rokok dari bungkus rokok yang disodorkan ke dia.
"Anggap aja...kemarin gue lagi kacau…" jawab Dio sambil menyimpan kembali rokoknya.
__ADS_1
"Setelah ini lo mau ngapain?..." tanya L kemudian.
"Karena jadwal kuliah gue hari cuman satu mata kuliah, mungkin gue bakalan ke tempat Anton buat latihan untuk tampil ntar malam…" jawab Dio sambil menghisap rokoknya.
"Oh ya...tadi pagi ada suara orang bermain gitar dan nyanyiin lagu Queen, itu lo ya?..." tanya Wisnu pada Dio.
"Iya...soalnya gue ketemu gitar gue yang sudah berdebu…" jawab Dio sambil membuang rokok.
"Itu pertama kalinya gue dengar suara gitar lo sangat bagus dan lagu yang lo nyanyiin tadi pagi sangat merdu…" puji Wisnu pada Dio.
"Udah...biasa aja kali...Nu…" tanggap Dio kemudian.
Kemudian Handphone Dio berbunyi dengan keras. Itu adalah panggilan telepon dari Nita yang meminta nomor teleponnya. Dio sengaja tidak mengangkatnya karena ingin menjauhi Nita.
"Telepon dari siapa bro?..." tanya Wisnu penasaran.
"Nita…tadi dia minta nomor telepon gue…" jawab Dio dengan santai.
"Wih…udah tukeran nomor handphone ya?..." ucap Wisnu menggoda Dio.
"Terpaksa bro…" jawab Dio kemudian memasukkan handphonenya ke kantong celananya.
Kemudian handphone Dio berbunyi lagi, Dio kemudian melihat handphonenya. Disana tertulis Nita sedang menelponnya. Dio kembali berniat tidak mengangkat telepon itu.
"Mending lo angkat dulu bro...kali aja penting…" ucap Wisnu memberikan saran pada Dio.
Walaupun dia tidak berniat mengangkat teleponnya, tapi karena paksaan dari Wisnu akhirnya dia mengangkat telepon Nita. "Ya...ada apa Nit?..." tanya Dio setelah telepon Nita dia angkat.
"Untunglah lo ngangkat telpon gue…" ucap Nita terdengar sangat lega.
"Iya...kenapa emangnya?..." tanya Dio kemudian.
"Lo bisa bantuin gue gak?..." tanya Nita dengan penuh harap.
"Bentar...bantuin apa dulu?..." tanya Dio sebelum menjawab.
"Jadi band gue kekurangan satu anggota buat ngisi vokal dan gitar...lo bisa bantu gak?..." tanya Nita terdengar serius. "Please banget nih Yo...hanya lo yang bisa bantuin gue…" ucapnya lagi memohon.
"Aduh…gimana ya?..." Dio kemudian berpikir panjang.
__ADS_1
Bersambung...