
Sebelumnya:
Sesuai apa yang dilihat Dio tadi saat di perjalanan. Tiba-tiba datanglah beberapa mobil ke rumah Nita. Dio dan yang lain terkejut dengan sesuatu yang mendadak seperti ini.
Dio terlihat sudah bersiap dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Begitu juga dengan Dicky, Wisnu, dan Gio juga sudah bersiap melindungi Nita. Kemudian tiba-tiba pintu rumah Nita dibuka secara paksa oleh beberapa orang berpakaian hitam. Kemudian masuklah seseorang yang berpakaian sangat mewah memasuki rumah itu. Dia tersenyum melihat Dio dan teman-temannya berkumpul menyambutnya.
"Kamu pikir bisa lepas begitu saja dari saya?..." tanya laki-laki yang bisa dipastikan bos mafia yang mengancam Nita.
Oke...mari kita Lanjutkan…
"Apa urusan lo pengen bawa Nita?..." tanya Dio dengan tatapan menantang.
"Oh...ternyata ada yang ingin bermain menjadi seorang jagoan disini…" ucap bos mafia itu mendekat ke Dio. "Saya peringatkan kepadamu nak...kalau kamu ingin bermain menjadi jagoan jangan dengan saya…" ucapnya tersenyum tapi tatapannya seakan mengintimidasi Dio. "Saya bisa...dengan mudah menghabisimu...atau saya bisa menghancurkan kehidupanmu…" dia kemudian menatap Dio sambil mengancam.
"Gue gak akan ikut dengan lo lagi!..." teriak Nita dengan sangat penuh emosi.
"Kamu yakin bisa lepas dari saya?..." tanya bos mafia itu menatap Nita dengan tersenyum merendahkan. "Kamu itu masih punya hutang dengan saya…"
"Gue akan membayarnya ke lo…" ucap Nita lalu dia masuk ke kamarnya.
Dia terlihat mengambilkan sesuatu dari kamarnya. Rasya dan Dea ikut masuk ke kamar Nita. Sementara Wisnu, Gio, dan Anton berdiri menatap laki-laki tua di depannya itu dengan gugup. Sementara L yang dari tadi hanya berdiri sambil tersenyum.
"Ini…" ucap Nita dengan penuh emosi membawa segepok uang yang ada dalam kantong plastik. "Disini ada uang 50 juta rupiah…" ucapnya menambahkan. "Dan gue akan membayar sisanya pada lo…" tambahnya lagi.
Akhirnya Anton mulai berbicara, "Sisanya biar gue yang menambahkan…"
"Gue juga akan menambahkannya…" ucap Dio bersemangat.
"Kalian pikir bisa membayarnya setelah kalian mengumpulkan uangnya?..." tanya laki-laki tua itu.
__ADS_1
"Kalau begitu...lo nunjukin bukti catatan berapa jumlah hutang dari Nita yang ada tanda tangan diatas materai…" ucap L kemudian mulai bersuara.
"Apa maksud kamu?..." tanyanya dengan sangat marah pada L.
"Dimana-mana...kalau namanya hutang...harus ada hitam diatas putih…" ucap L kemudian. "Kalau lo gak punya bukti itu...lo gak bakalan bisa menuntut Nita…" dia kemudian menjelaskan sambil tersenyum.
"Apa pentingnya saya memiliki itu?...saya bisa membawanya sekarang juga dari sini…" laki-laki tua itu mulai terlihat emosi mendengar ucapan dari L.
Dengan santai L kemudian mengeluarkan handphone yang ada di kantong celananya. Kemudian dia mengacungkan kamera handphonenya itu ke bos mafia itu. Lalu dia menyalakan lampu kamera dari handphonenya.
"Silahkan lakukan kejahatan lo...gue akan senang hati merekam apa yang telah lo lakuin hari ini...dan lo juga kan...yang telah menjatuhkan lampu panggung saat Nita berjalan?..." L tersenyum puas melihat reaksi dari laki-laki tua itu.
Dengan tersenyum bos mafia itu berhenti lalu menatap L. Dia kemudian tidak jadi melanjutkan apa yang akan dia lakukan. Dia sadar L bukan orang yang sembarangan. Ketenangan L sangat tidak dia sukai untuk menjadi lawannya.
"Kamu memang anak yang pintar…" pujinya dengan jujur pada L. "Siapa namamu?..." tanyanya kemudian menatap L.
"Saya akan memberikan posisi yang bagus untukmu...kalau kamu menjadi anak buah saya…" ucap bos mafia itu menawarkan tawaran yang bagus.
Tapi sepertinya L tidak tertarik dengan itu. "Oh...sorry...gue sudah punya bos yang jauh lebih besar dari lo…" L jelas menolak tawaran itu.
"Sayang sekali…" ucap laki-laki tua itu kemudian mundur dari Nita. "Saya pastikan...kalian akan menyesal karena berhadapan dengan saya…" ucapnya sambil tersenyum.
Kemudian laki-laki itu keluar dari rumah itu dengan santai. Namun sebelum dia keluar, dia memberi isyarat pada anak buahnya untuk menghabisi mereka. Anak buah dari bos mafia itu langsung mengeluarkan senjata mereka.
Saat mereka akan menembak, tiba-tiba L menghentikan waktu. Semua yang ada di sana langsung terdiam, kecuali Dio dan L. "Kita harus melepas semua peluru yang ada di senjata itu…" ucap L pada Dio.
"Ah…" Dio sempat terkejut karena semua orang terhenti, kecuali dia dan L.
"Buruan…" ucap L lalu melucuti peluru dari beberapa senjata.
__ADS_1
"Oke…" jawab Dio lalu mengikuti apa yang L lakukan.
Setelah semua senjata telah dilucuti pelurunya, kemudian L menjalankan waktunya kembali. Semua anak buah bos mafia itu bersiap akan menembak, tapi mereka tiba-tiba bingung karena senjata mereka seperti tidak mempunyai peluru. Saat itu juga L dan Dio tersenyum melihat tingkah mereka yang kebingungan.
Secepatnya Gio, Anton, dan Wisnu lalu menghajar anak buah bos mafia itu. Dio juga ikut menghajar mereka yang sangat banyak. L dengan sangat mudah merobohkan satu-persatu anak buah dari bos mafia itu.
Dio seperti bisa melihat bagaimana pergerakan musuhnya sebelum memukulnya. Dengan mudah Dio bisa menjadi menghindar lalu membalas memukul. Dia terlihat sangat mudah menghadapi setiap musuh yang akan memukulnya dengan berbagai serangan.
Ternyata Gio, Wisnu, dan Anton juga jago berkelahi. Itu terbukti dari mereka yang berapa kali menghindar dari segala macam pukulan dari musuh mereka. Para anak buah bos mafia satu-persatu terhempas keluar rumah Nita, sehingga tidak ada lagi yang tersisa di rumah itu.
Dio masih bisa melihat ekspresi laki-laki tua itu. Bos mafia itu terlihat sangat marah melihat anak buahnya habis dibabat Dio dan yang lain. Mobil bos mafia itu lalu meninggalkan rumah Nita. Begitu pula mobil anak buahnya yang tadi terkapar disana.
Melihat kejadian itu membuat mereka agak lega. Sementara Nita masih shock dengan apa yang terjadi. Nita kemudian menangis dengan keras sekali. Genta yang tadinya hanya bisa mengintip dari balik kamar, tiba-tiba keluar memeluk Nita.
"Mbak...Genta takut…" ucap Genta sambil menangis.
"Tenang dek...ada mbak…" Nita berusaha menenangkan, namun dia sendiri juga menangis.
Dia sadar bahwa ini belum sepenuhnya berakhir. Mereka pasti akan datang lagi ke rumah ini. L kemudian berbisik pada Dio yang kasihan melihat keadaan Nita.
"Mereka gak bisa terus tinggal disini...mereka pasti akan ditemui lagi oleh bos mafia itu," ucap L menjelaskan apa yang dia pikirkan pada Dio.
"Terus mereka harus tinggal dimana?..." tanya Dio kebingungan.
"Mau gak mau...mereka harus tinggal di kos kita…" jawab L kemudian.
Dia kemudian mengambil handphonenya yang tadi dia pakai buat merekam laki-laki tua itu. Dia kemudian seperti menelpon seseorang dengan serius. Dia menjelaskan apa yang sedang terjadi secara lengkap. Kemudian dia tersenyum karena mendapat jawaban seperti yang dia inginkan.
Bersambung...
__ADS_1