Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 8 Diberi Makan Oleh Mbak Dara


__ADS_3

Pagi harinya Dio sudah terbangun sambil menghirup segelas kopi. Dia menyempatkan membuat kopi sesudah mandi pagi. Dia sudah terbiasa bangun pagi sejak dia tinggal di panti asuhan dulu. 


Dia melihat sebuah gitar yang tergeletak di sebelah kulkas. Dia langsung mengambil gitar itu dengan hati-hati. Gitar itu terlihat sangat berdebu, bahkan Dio sempat batuk saat dia mengambilnya. 


"Ini gitar siapa sih?...sembarangan banget naro barang…" Dio marahi pemilik gitar yang sembarangan menaruh gitar. Dia sangat yakin pemilik gitar adalah orang yang paling tidak rapi disini. 


Dia lalu mengelap gitar itu menggunakan kain yang diberi air. Dio mengelap bagian gitar dengan sangat teliti. Dia merasa kesal dengan orang sembarangan meletakan gitar ini di pojokan. 


Setelah gitar itu sudah dianggap bersih, Dio langsung mengecek senarnya satu-persatu. Ternyata senarnya pun tidak ada yang bener, terpaksa Dio menyetel ulang lagi. Cukup lama dia menyetel satu-persatu senar gitar. Kadang ada senar yang tidak pas, dia terpaksa menyetelnya lagi. 


Akhirnya semua senar benar juga, setelah dia menyetel dengan sabar. Dio lalu mulai memainkan intro dari lagu yang suka dimainkan saat bersantai. Itu adalah lagu dari Queen yang berjudul Don't Stop Me Now. 


Note :


Mohon maaf untuk lagu ini si penulis tidak bisa memunculkan liriknya, karena pasti akan terkena Copyright Lirik lagu. Jadi buat  pembaca setia mohon dimaklumi ya? Ini demi kenyamanan kita bersama teman-teman😁.


Lanjut…


Dia menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Petikan gitarnya sangat merdu sehingga setiap orang yang mendengarnya pasti akan mengaguminya. Salah satunya adalah satu-satunya cewek yang ada di kos itu. Dia adalah mbak Dara Sartika, pemilik kos ini. 


Dari tadi dia memperhatikan Dio dengan terpana. Sebelumnya dia tidak pernah melihat Dio memainkan sebuah lagu sebagus ini. Dia sengaja tidak mendekati Dio, karena takut anak itu akan berhenti memainkan gitarnya. Dia lebih suka menikmati lagu itu hingga sampai selesai. 


Tepat saat Dio menyelesaikan lagu yang dimainkan, terdengar suara tepuk tangan dari belakang Dio. "Kali ini lagu yang lo nyanyikan lebih bagus dari biasanya…" puji mbak Dara pada Dio. 


"Ah…mbak...biasa aja kali…" Dio tersenyum menanggapi pujian dari pemilik kos. "Oh ya...ini gitar siapa sih?...kotor bener deh...kayak gak pernah dibersihin…" Dio lalu menunjuk gitar yang baru saja dimainkan. 


"Tumben lo nyadar gitar lo kotor…" jawab mbak Dara sambil nyengir. 


"Seriusan!…" seru Dio kaget. 


"Kok...lo kayak kaget sih?..." tanya mbak Dara kebingungan. 

__ADS_1


"Heh...gak apa-apa kok…" jawab Dio. "Oh ya mbak…" ucapnya kemudian. 


"Kenapa Yo?..." tanya mbak Dara. 


"Ini soal uang kos gue...mbak…" jawab Dio dengan serius. "Ini kemungkinan gue baru bisa bayar nanti…" tambahnya ragu-ragu.


"Tumben bener lo ngomong kayak gitu?...biasanya lo gak ngomong sama mbak kalau lo gak bisa bayar kos…" ucap mbak Dara menyindir.


"iya…kali ini gue pengen ngatur hidup gue lebih bener lagi…" jawab Dio dengan serius. 


"Emang lo bisa bayar entar?..." tanya mbak Dara seolah kurang yakin dengan Dio. 


"Kayaknya sih bisa...soalnya gue mulai besok malam...bakalan menjadi penyanyi di cafe Harmony…" jawab Dio dengan santai. 


"Lo serius mau menjadi pengisi acara di cafe itu?..." tanya mbak Dara meyakinkan. "pengunjung yang datang bukan orang-orang yang hanya ingin makan dan minum aja lho…"


"Iya...gue tau...tapi gue ditawarin ikut gabung…" ucap Dio menyakinkan mbak Dara. 


"Kalau begitu tunggu sebentar…" ucap mbak Dara, kemudian dia pergi ke kamar yang ada di kamar paling besar di kos itu. 


"Ini kunci motor siapa mbak?..." tanya Dio setelah menerima kunci motor dari mbak Dara. 


"Lo ngelawak ya?..." tanya mbak Dara terlihat kesal. "Ini kunci motor lo lah…" mbak Dara menjelaskan. "Kemaren lo ngasih kunci motor ini ke mbak untuk jaminan karena lo gak bisa membayar uang kos lo…" tambahnya kemudian. 


"Lha...kan gue belum bisa bayar, terus kenapa mbak kasih kunci motor ini ke gue?..." tanya Dio sambil menenteng kunci motornya.


"Terus...lo mau pergi ke cafe buat tampil naik apa?...Apalagi uang bulanan lo sekarang menipis kan?..." tanya mbak Dara seolah mengerti keadaan Dio. "Lo pake aja dulu ini motor…" ucap mbak Dara sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak deh mbak...kalau begitu…" ucap Dio terlihat sangat senang. 


"Tapi...lo jangan telat bayar kos lagi ya?..." mbak Dara memperingatkan. "Ngomong-ngomong...tumben lo bangun pagi...biasanya kan bangun kesiangan mulu…" ucap mbak Dara seakan mengejek. 

__ADS_1


"Kan udah gue jelasin...tadi…" ucap Dio kelihatan kesal. 


"Iya...iya…" tanggap mbak Dara. "Lo mau makan gak?...kebetulan mbak punya nasi sama ayam yang mbak masak tadi malam..." tanyanya kemudian pada Dio.


"Ya mau...lah...gratis ini…" jawab Dio sambil nyengir.


"Dasar ya...kamu ini…" ucap mbak Dara sambil mencubit pipi Dio. Dia menganggap semua penghuni kos seperti adiknya sendiri, makanya dia bisa sedekat itu dengan Dio. "Bentar, mbak ambilin dulu ya?...mau sayurnya gak?..." tanyanya lagi ke Dio. 


"Boleh mbak…" jawab Dio lalu meletakkan gitarnya ke samping agar tidak mengganggu saat makan. 


Mbak Dara kemudian mengambil beberapa piring untuk tempat nasi, ayam, dan sayuran. Dio menunggu dengan sabar di meja makannya. Bagi Dio yang uangnya sedang menipis, dikasih makanan gratis adalah sebuah berkah.


 Dia terlihat sibuk menyediakan makanan untuk Dio. Dia mengambil lauk dan sayuran dari lemari dan nasi di rice cooker. Setelah semuanya sial dia meletakkan semua makanan di atas meja tepat di hadapan Dio. 


"Abisin ya?..." ucap mbak Dara persis seorang kakak yang memberitahu adiknya.


"Iya...pasti lah…" jawab Dio sambil nyengir. 


Lalu berdiri menuju wastafel untuk mencuci tangan. Dio memang terbiasa sebelum makan mencuci tangannya dengan bersih. Setelah tangannya dianggap bersih, kemudian Dio kembali ke tempat duduknya yang sudah tersedia makanan yang disediakan mbak Dara. 


"Lo aneh deh Yo hari ini…" ucap mbak Dara melihat Dio yang terlihat membersihkan tangannya. 


"Emangnya kenapa mbak?..." tanya Dio.


"Kenapa lo bersihin tangan lo?..." tanya mbak Dara penasaran. 


"Ya…supaya tangan gue bersih, soalnya gak enak gue makan dengan tangan yang masih kotor…" jawab Dio lalu mulai berdoa.  Setelah berdoa dia lalu memakan makanan yang disediakan mbak Dara. 


"Apa lo bukan Dio yang mbak kenal?..." tanya mbak Dara pada Dio yang sedang makan. 


"Maaf mbak…" jawab Dio sejenak menghentikan makannya. "Gue makan dulu...soalnya gak boleh makan sambil ngomong…" ucap Dio dengan sopan. 

__ADS_1


"Oh…silahkan…" mbak Dara tidak mengajak Dio bicara lagi. 


Bersambung...


__ADS_2