Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 21 Kabur dari Bos Mafia


__ADS_3

Sebelumnya:


"Secara simpelnya informasi dari otak lo sudah terkirim ke gue...tugas gue pengen dengerin atau pengen gue hapus…" jawab L sambil menghabiskan apelnya. "Makanya gak semuanya yang sempat gue baca. "Lo ingat...hubungan lo sama Nita gak boleh sampai pacaran, kalau itu terjadi lo gak bakalan bisa nyelamatin Nita…" tambah L kemudian. 


"Lo pikir gampang nyembunyiin perasaan?...capek dan menyakitkan bro…" ungkap Dio sangat kesal. 


"Mending mana?...memiliki tapi ditinggalkan dengan tragis atau membiarkan dia menjadi kekasih orang lain?..." tanya L sambil menatap mata Dio. 


"Target gue tetap sama...gue pengen nyelamatin nyawa Nita…" jawab Dio dengan mantap. 


Oke...Langsung lanjut aja ya?... 


"Gue akan berubah menjadi orang yang paling menyebalkan…" ucap Dio dengan mantap. 


"Lo yakin mau lakuin itu?..." tanya L terlihat menyangsikan tekad Dio. "Itu bakalan bikin Nita sakit hati lho…" ucap L mengingatkan. 


"Daripada gue deket sama dia…" jawab Dio dengan mantap. 


"Yaudah...terserah lo…" ucap L lalu pergi meninggalkan Dio sendirian. 


Dio terlihat menutup matanya sesaat lalu menghembuskan nafasnya dengan kencang. Dia mengatur aliran nafasnya untuk meyakinkan dirinya bahwa ini memang yang terbaik. Kemudian setelah dia merasa sudah yakin, dia kemudian berjalan menuruni tangga. 


Dia berjalan menuju tempat dia berjanji akan melatih Nita menyanyi. Dia pergi ke tempat yang kemarin melihat Nita bermain gitar. Ternyata Nita sudah menunggunya disana sambil melihat jamnya. Sesaat Dio merasa kasihan dengan Nita yang rela menunggunya dengan sabar. 


"Akhirnya lo datang juga…" ucap Nita saat dia melihat kedatangan Dio disana. 


"Sudah lama nunggu?..." tanya Dio dengan datar. 


"Gak kok…" jawab Nita sambil tersenyum. 


"Gue pengen ngingetin lo...kalau berlatih vokal dengan gue gak mudah…" ucap Dio dengan serius.


"Siap pak…" ucap Nita sambil memperagakan sikap hormat. 


"Dan lo harus serius, jangan main-main…" Dio menanggapi bercandaan Nita dengan dingin. "Lo punya lagu yang suka lo nyanyiin?..." tanyanya kemudian. 


"Lagu dari Acha Septriasa yang berjudul Sampai Menutup Mata...tapi kayaknya suara gue jelek kalau menyanyikannya…" jawab Nita kurang yakin. 

__ADS_1


"Coba lo nyanyiin…" ucap Dio lalu duduk di depan instrumen piano yang ada disana. 


Dio mulai memainkan piano dengan kunci nada yang standar untuk lagu tersebut. Dia menunggu Nita masuk ke lagu, ternyata suara Nita terdengar tidak jelas dan beberapa note melenceng. Dio pun langsung menghentikan permainan pianonya 


"Coba lo berlatih artikulasi dulu deh…" ucap Dio dengan serius. "Seperti a...i...u…e…o…" ucapnya kemudian. 


Kemudian Dio mencontohkan dengan setiap nada naik maka nada suaranya akan naik. Dia dengan serius memperagakan ke Nita tehnik bernyanyi. Sementara Nita memperhatikan apa yang Dijelaskan Dio dengan sangat serius.


"Sekarang lo coba ulang lagi lagu tadi...kali ini kunci nadanya gue turunin satu…" ucap Dio lalu memencet tuts pianonya. 


Lagu mulai dimainkan Dio dengan pianonya sesuai dengan kunci nada yang dia beritahukan tadi. Nita mulai bernyanyi dengan serius diiringi suara piano dari Dio. Kali ini Nita cukup bagus bernyanyi dari sebelumnya. Dio masih belum merasa puas sampai lagu berakhir. 


Dia beberapa kali meminta Nita bernyanyi lagu yang sama. Nita dengan sabar mengikuti apa yang diperintahkan oleh Dio. Dia sadar Dio melatihnya sangat keras agar dia bisa bernyanyi dengan benar. 


"Lumayan kalau untuk bernyanyi di tongkrongan…" ucapan Dio memang dia sengajakan menyakiti hati Nita. 


"Jadi masih jelek ya?..." tanya Nita karena merasa kecewa. 


"Makanya lo setiap hari melatih vokal lo…"  ucap Dio memberikan saran. 


"Gila ini cewek…udah gue berikan ucapan yang menghina, masih aja pengen berlatih sama gue…" ucap Dio dari dalam hatinya. "Oke...tapi lo siapin mental ya?..." 


"Iya...gue udah sering dibentak kok…" jawab Nita sambil membereskan peralatan di tempat mereka berlatih. 


"Sebenarnya gue gak punya hak buat ngasih saran sih...tapi kalau lo anggap itu akan membuat lo sakit...lebih baik lo tinggalin…" Saran Dio lalu berjalan keluar dari ruangan itu. 


"Yo…" ucap Nita memanggil Dio.


"Iya...apaan?..." tanya Dio lalu berbalik ke arah Nita. 


Nita dengan cepat memeluk Dio dengan sangat erat. Dia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Dio. Disini Dio sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa kecuali balas memeluk Nita. 


Dia seperti tidak bisa melihat orang yang sebenar di dunianya menjadi pacarnya sedih. "Tumpahin aja kesedihan lo…" ucap Dio dengan lembut. 


"Entah mengapa setiap gue berada di dekat lo...gue merasa lebih nyaman aja…" ungkap Nita yang masih memeluk Dio. "Seakan lo adalah orang yang diciptakan tuhan buat ngelindungin gue…" 


"Gue kembali ke dunia ini memang buat nyelamatin dan ngelindungin kamu sayang…" ucap Dio dari dalam hatinya seakan dia menanggapi ucapan Nita.

__ADS_1


Kemudian Dio melepaskan pelukan Nita darinya. Dia dengan lembut menghapus air mata yang ada di pipi Nita. Dia melakukan itu sambil tersenyum pada Nita. Dia berharap Nita bisa kembali semangat lagi. 


"Ayo kita pulang…" ucap Dio dengan lembut. Sementara Nita hanya mengangguk pada Dio. 


Mereka menuruni tangga bersama-sama menuju tempat parkiran kampus. Ternyata disana sudah menunggu Bos Mafia yang mengantarkan Nita ke kampus. Nita langsung menarik lengan Dio untuk mengikutinya. 


Dia terlihat sangat gugup melihat Bos Mafia itu. "Lo kenapa?..." tanya Dio sangat merasa khawatir pada Nita. 


"Please Yo…lo harus jauhin gue dari orang itu…" ucap Nita memohon pada Dio. 


"Iya...tapi motor gue di parkiran…" ucap Dik juga kebingungan. 


Kemudian dia berpikir sejenak untuk mencari cara agar bisa pergi bersama Nita. Tidak lama kemudian Dicky muncul di sana bersama Rasya. Mereka lalu menghampiri Dio dan Nita yang berdiri di sudut kampus.


"Lo belum balik Yo?..." tanya Dicky menyapa Dio. 


"Ah…kebetulan ada lo…" ucap Dio setelah melihat kemunculan Dicky. 


"Iya…kenapa emangnya?..." tanya Dicky seolah tidak mengerti maksud Dio. 


"Lo bisa bantuin gue gak?..." tanya Dio dengan penuh harap pada Dicky. 


"Iya...minta bantuin apa?..." tanya Dicky sepertinya sangat bingung. 


"Lo bisa bawa motor gue ke belakang kampus gak?..." tanya Dio dengan serius pada Dicky. Dicky terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab. "Please banget bro…" ucap Dio lagi dengan berharap. 


"Oke…gue bantuin lo...tapi lo harus cerita apa yang terjadi…" pinta Dicky pada Dio. 


"Entar gue ceritain di kos gue…" ucap Dio pada Dicky. 


"Lo janji ya?..." Dicky memperingati Dio. "Sini kunci motor lo…" ucap Dicky kemudian. 


Dio lalu menyerahkan kunci motornya pada Dicky. Kemudian Dia lalu keluar kampus menuju parkiran motor Dio. Sesaat Dio terkejut saat melihat Dicky dihampiri anak buah dari Bos Mafia itu. 


"Ya ampun…" keluh Dio sangat khawatir.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2