
Sebelumnya...
Dio lalu meletakkan gitarnya di lantai balkon kos. Dia lalu berjalan ke kamarnya untuk melihat siapa yang menelponnya pagi-pagi. Sesampainya di kamarnya, dia langsung mengambil handphonenya. Disana tertulis Mirhan sedang menelponnya.
"Ngapain ini anak nelpon gue pagi-pagi?..." tanya Dio sambil mengangkat teleponnya. "Halo…"
"Halo bro...lagi apa lo?..." tanya Mirhan kemudian.
"Gue lagi santai bareng Nita di balkon…" jawab Dio sambil berjalan ke balkon kembali.
"Berarti lo liat dong?..." tanya Mirhan penuh misteri.
"Liat apaan?..." tanya Dio yang terlihat bingung.
"Ya...mobil Alphard…" jawab Mirhan dengan santai.
"Mobil Alphard?..." tanya Dio dengan terkejut.
"Iya...sudah diparkir di depan kos lo kan?..." tanya Mirhan terdengar sambil sedikit tertawa.
"Itu mobil lo yang kirim?..." tanha Dio terlihat bingung.
"Ya...iya lah…" jawab Mirhan kemudian.
"Ngapain lo kirim tuh mobil ke kos gue?..." tanya Dio terlihat sekali dia bingung.
"Itu mobil buat transportasi lo dari kos ke SMA Flower Garden…" jawab Mirhan dengan santai. "Bensinnya full kok...jadi lo gak perlu ngisi lagi…"
Oke...kita lanjut…
"Bukan itu masalahnya…" ucap Dio dengan kesal. "Tapi...ini mobil terlalu mewah bro...kalau lo pengen minjemin mobil kayak Avanza atau Ertiga gitu..."
"Waduh...sorry bro...mobil gue yang itu udah gue jual…" Mirhan menanggapi seperti merasa bersalah.
"Kalau gue ke studio maka mobil ini...bisa-bisa kami mahal bayar studionya…" Dio berusaha menjelaskan.
__ADS_1
"Yaudah...entar gue kasih tempat studio yang biasanya dipakai Ryu dan anak-anak latihan…" usul Mirhan lebih parah dari sebelumnya.
"Bukan gitu maksud gue…" Dio berusaha mencari alasan agar itu mobil dikembalikan ke Mirhan.
"Lo mau gue minta supir buat nyetirin tuh mobil?..." tanya Mirhan kemudian.
"Gak...gak perlu...gue bisa nyetir kok…" jawab Dio langsung menolak.
"Oh...bagus deh…" tanggap Mirhan dengan santai. "Itu mobil kalau lo mau bawa ke kampus silahkan aja…" tambahnya lagi. "Udah dulu ya?...gue pengen berangkat ke sekolah sekarang…" ucap Mirhan lalu menutup teleponnya.
"Aduh...dimatiin…" keluh Dio lalu mengurut kepalanya karena pusing. "Terpaksa deh...ini mobil gue bawa...soalnya kalau di kos entar di isengin orang…" ucapnya sambil melihat mobil Alphard yang terparkir di depan kos.
Wisnu tiba-tiba keluar dari kamar kosnya tanpa memakai kaos. Dia hanya memakai celana bokser yang berwarna biru. Nita terkejut melihat kemunculannya yang tiba-tiba.
"Aaaa!..." teriak Nita melihat Wisnu yang memakai celana bokser.
"Kenapa sih lo?..." tanya Wisnu dengan santai.
"Lo kalau keluar kamar, pakai dulu dong kaos lo…" ucap Nita memarahi Wisnu.
"Biasa aja kali bu…" ucap Wisnu sambil nyengir. "Ada apa sih Yo?...kayaknya lo bete bener dah…" tanyanya saat melihat wajah Dio yang pucat.
"Bosiet...mobil siapa tuh?..." tanya Wisnu yang baru sadar dengan adanya mobil yang terparkir di depan kos mereka.
"Itu mobil Mirhan...dia minjemin gue...katanya buat gue berangkat ke SMA Flower Garden...dan ke tempat latihan…" jawab Dio yang terlihat pusing.
"Ya...bagus dong...kenapa lo pusing?..." tanya Wisnu kebingungan.
"Mobil itu terlalu mewah bro…" jawab Dio menjelaskan.
"Lo pake aja napa sih...lagian tuh mobil kan emang dipinjemin buat lo...bukan mobil hasil mencuri apalagi menipu orang kan…" Wisnu mencoba memberikan saran buat Dio.
"Iya...tapi…" ucap Dio sudah tidak bisa beralasan lagi.
"Lagian dengan mobil itu...lo gak perlu panas-panasan lagi ke kampus…" tambah Wisnu lagi. "Tapi gue ikut nebeng ya?..." pintanya sambil nyengir pada Dio.
__ADS_1
"Jadi itu alasan lo menyarankan gue menerima mobil itu…" ucap Dio menyadari akal dari Wisnu.
"Sekali-sekali bro...lagian gue gak pernah naik Alphard…" ungkap Wisnu sambil nyengir.
"Hedeh…" keluh Dio lalu minum kopi hitamnya.
Sementata Nita sendiri tarpana melihat mobil itu. Dia tidak hentinya berdecak kagum melihat mobil itu. Dia sendiri sebenarnya sangat ingin menaiki mobil itu. Penghasilannya tampil di cafe Harmony ditambah penghasilan youtube, takan sanggup buat membeli mobil itu.
Saat Dio sedang melihat mobil itu, dia seperti teringat sesuatu. Dia teringat saat dia kecelakaan bersama Nita. Kecelakaan yang membuat nyawa Nita yang adalah pacarnya meninggal. Tanpa sadar tangannya gemetar saat teringat mengenai itu.
"Lo kenapa Yo?..." tanya Nita yang menyadari ada sesuatu yang janggal pada Dio. Namun Dio masih tidak merespon pertanyaan dari Nita. "Yo…" ucap Nita mengulangi sambil menepuk pundak Dio.
"Hah!..." Dio terkejut dengan suara keras.
"Lo kenapa sih?..." tanya Nita yang melihat tangan Dio gemetaran.
Sejak kecelakaan itu Dio menjadi trauma kalau harus membawa mobil. Dia masih terbayang detik-detik saat mereka kecelakaan. Itu adalah momen yang sangat ingin diubahnya.
"Gue gak apa-apa…" jawab Dio lalu masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar Dio merasa tubuhnya menggigil sangat parah. Tubuhnya seakan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya membayangkan saat dia menyetir mobil saja sudah begitu, apalagi saat dia benar-benar menyetir mobil. Itu sebabnya dia tidak pernah menyetir mobil lagi sejak kejadian itu.
Nita sendiri bingung dengan Dio yang terlihat sangat aneh. Dia mulai penasaran kenapa Dio sampai seperti itu. Dia ingin menyelidiki Dio dengan bertanya pada teman-temannya. Termasuk bertanya pada Wisnu yang dia anggap mengenal Dio. Bahkan dia ingin bertanya pada L yang katanya teman Dio yang paling lama mengenal Dio.
Nita sangat kasihan pada Dio, sehingga dia mencoba mengetuk kamar Dio. Namun sama sekali tidak ada jawaban dari Dio. Dia lalu mencoba menelpon, tapi tetap saja sama, tidak ada jawaban juga.
Entah ini perasaan Dio, atau dia benar-benar melihatnya. Tiba-tiba dia melihat ke arah kaca yang ada di kamarnya. Dia melihat wajah seseorang yang tersenyum padanya. Wajah itu sangat jelas dilihatnya, tidak seperti saat dia melihatnya di kamar mandi. Itu adalah wajah dari Nita, tapi dia adalah Nita kekasih dari Dio.
"Nita...sayang…" ucap Dio kemudian.
Wajah itu hanya tersenyum lalu seperti membelai rambut Dio yang terlihat dari cermin. Dio kemudian melihat kesampingnya, tapi Nita tidak ada disana. Saat dia mencoba melihatnya lagi di cermin itu, tapi Nita sudah menghilang di cermin itu.
"Itu adalah dunia cermin…" ucap L yang tiba-tiba muncul di kamar Dio.
"Apakah gue bisa kesana?..." tanya Dio penasaran.
__ADS_1
"Sayangnya tidak bisa…" jawab L dengan santai. "Dulu ada sebuah permainan yang memaksa beberapa orang bertarung di dunia cermin, untuk menjadi satu-satunya orang yang bisa dikabulkan segala permintaannya...tapi permainan itu sudah tidak dimainkan lagi...sebab pencipta permainan itu menghilang…" ungkap L bercerita.
Bersambung...