Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 37 Diberi Cek Sebesar Rp 500.000.000,-


__ADS_3

Note Author : Gue Seryu Nagami sebagai Author Mengubah Takdir Kita mengucapkan…


Selamat Hari Raya Idul Fitri…


Mohon maaf lahir dan batin…


Semoga kita bisa berjumpa di bulan Ramadhan lagi di tahun akan datang…


Semoga Author cepat nikah...


Aamiin…


Inilah alasan Author gak bisa nulis cerita mengenai ranjang...


Malam harinya Dio berangkat ke cafe Harmony bersama Nita. Mereka malam ini berjanji akan bertemu Mirhan dan Ryu. Saat ini Dio hanya diam saat membonceng Nita dengan motornya. 


"Terima kasih…" ucap Nita dengan tulus. 


"Terima kasih?...buat apa?..." tanya Dio yang tetap fokus dengan motornya. 


"Karena lo sudah banyak ngebantuin gue…" jawab Nita lalu memeluk pinggang Dio. 


"Yaelah...santai aja kali…" tanggap pura-pura cuek. 


"Tapi semua yang lo lakuin buat gue belakangan ini sangat berarti buat gue...gue akhirnya bisa mulai lepas dari laki-laki tua itu, semua itu berkat lo…" ungkap Nita dengan jujur. 


"Gak usah pake drama deh…" keluh Dio kemudian. "Gue ngelakuin itu semua karena lo teman gue…"


"Jadi...lo tetap nganggap gue teman ya?..." tanya Nita terlihat kecewa. 


Dia benar-benar berharap Dio mencintainya saat ini. Namun semuanya sepertinya sia-sia karena Dio sangat dingin padanya. Dio malah melepaskan pelukan Nita pada perutnya. 


Sesaat dia bingung kenapa L bilang bahwa Dio sangat mencintainya. Sedangkan saat ini Dio hanya datar menanggapi Nita. Sementara Dio sendiri sebenarnya ingin sekali bilang sayang ke Nita, tapi peraturan yang harus dijalankannya agar Nita selamat adalah jangan berpacaran dengan Nita. 


"Gue benar-benar benci dengan peraturan ini…" gumam Dio di dalam hatinya. 


Akhirnya mereka berdua sampai juga di cafe Harmony. Disana sudah datang Abel dan Kelvin yang dipinta Nita datang. Mereka tersenyum saat melihat Dio yang datang bersama Nita. 


Dio dan Nita langsung duduk di meja dimana Abel dan Kelvin duduk. "Sorry ya kami telat?…" Dio sambil menyalami Kelvin dan Abel. 


"Santai bro...lagian kami juga baru datang…" jawab Kelvin sambil tersenyum. 


"Jadi gimana Nit?..." tanya Abel penasaran. 


"Kayaknya entar aja deh...gue jelasin ke lo…" jawab Nita lalu memanggil pelayan. "Kita tunggu Anton dulu…" tambah Nita. 

__ADS_1


Pelayan kemudian menghampiri meja mereka. Pelayan itu sebenarnya adalah teman Nita saat masih bekerja di cafe Harmony. Pelayan itu lalu menyerahkan daftar menu pada Nita dan Dio. 


"Mau pesan apa mbak dan mas?..." tanyanya dengan ramah. 


"Santai aja kali Ta...gak usah terlalu formal lah…" ucap Nita pada Lita yang adalah teman Nita saat dulu bekerja. 


"Sorry Nit...habisnya...kebiasaan sih…" jawab Lita lebih santai. 


"Gue pesen es cappucino dan stik kentang…" ucap Dio dengan singkat. 


"Gue samakan dengan Dio aja deh…" ucap Nita sambil tersenyum.


"Tunggu bentar ya Nit?..." ucap Lita sembari mencatat pesanan mereka.


"Eh...Ta...kejadian saat lampu jatuh, si bos marah-marah gak?..." tanya Nita dengan serius. 


"Bukan marah lagi...anak-anak bagian yang ngurusin panggung hampir kena pecat…" jawab Lita dengan bersemangat menceritakan.


"Ya ampun...sampai segitunya?..." tanya Nita seolah tidak percaya. 


"Makanya kemarin malam kalian diminta libur dulu...soalnya dia memperbaiki cafe ini dulu…" jawab Lita menjelaskan. 


"Pantes...sepertinya ada beberapa perubahan untuk lampu dan panggung…" ucap Dio berpendapat. 


"Lagi ngobrolin apa nih?...seru banget kedengarannya?..." tanya seseorang yang sangat dikenal mereka yaitu Anton. 


"Ini...kita lagi ngomongin kejadian kemarin di cafe ini…" jawab Nita sambil tersenyum. 


"Oh…" ucap Anton sambil mengambil sebuah bangku dari meja yang lain. "Ta...gue kopi gula aren ya?..." pintanya pada Lita. 


"Oke…" jawab Lita sambil mencatat. Setelah dia mencatat pesanan Anton, kemudian dia kembali ke dapur. 


"Nah…orang yang ditunggu sudah datang…" ucap Dio sambil tersenyum. 


"Ada apa nih?..." tanya Anton terlihat bingung. 


"Disini Adel sudah datang...jadi rencananya mau gimana nih?..." tanya Nita pada Anton. 


"Yaudah...kita ngejam aja yuk?..." ajak Anton kemudian. 


"Bentar dulu deh...kayaknya pengunjung belum banyak yang datang…" jawab Dio yang masih merokok. 


"Cuman ngejam aja kok bro...gak perlu nunggu banyak pengunjung…" ucap Anton terlihat tidak sabar. 


"Lo bisa main drum untuk lagu pop gak bel?..." tanya Dio penasaran. 

__ADS_1


"Belakangan ini sih gue banyakan mainin lagu rock seperti Pas Band, Kuil, dan Muse gitu…" jawab Abel agak ragu-ragu. "Tapi boleh juga sih gue coba mainin drum mengiringi lagu pop."


"Yaudah…kita coba aja…" ucap Nita juga mulai bersemangat. 


Saat ini di atas panggung bagian persiapan panggung sedang mengecek panggung. Mereka tidak ingin kejadian kemarin saat Nita kejatuhan lampu terulang lagi. Sudah cukup merek malu diomelin manajer cafe Harmony.


"Gimana?...panggungnya sudah siap?..." tanya Anton pada crew panggung. 


"Tunggu bentar ya bro…" jawab salah satu crew. 


"Gitar lo pengen gue pasangin gak?..." tanya crew yang lain.


"Boleh…" jawab Anton sambil menyerahkan tas gitarnya pada salah satu crew. 


"Mereka bekerja lebih teliti lagi…" ucap Dio berkomentar sambil memandangi crew panggung bekerja. 


Kemudian handphone Dio berbunyi sehingga mengejutkannya. Dia kemudian mengambil handphonenya yang diletakkannya di atas meja. Itu ternyata panggilan dari orang yang sudah mereka tunggu. Disana tertulis nama Ryu Asrama Flower Garden.


"Halo…" ucap Dio setelah dia menerima panggilan. 


"Bro...gue dan Mirhan sekarang sudah di depan cafe Harmony…" ucap Ryu dengan sangat bersahabat. " Lo sudah sampai?..." tanyanya. 


"Gue udah dari tadi kali sampai…" jawab Dio dengan serius. "Yaudah...lo pada masuk aja…" sarannya kemudian pada Ryu.


"Lo di meja yang mana?..." kali ini Mirhan yang bertanya. 


"Meja dekat dengan panggung bro…" jawab Dio dengan cepat. 


"Yasudah...kami kesana…" ucap Mirhan kemudian lalu menutup teleponnya. 


"Dio!..." tiba-tiba terdengar suara orang memanggil Dio. 


Itu ternyata adalah Mirham yang berjalan bersama Ryu. Mereka memakai pakaian yang satu sama lain berbeda. Mirhan yang memakai pakaian kekinian, sedangkan Ryu memakai pakaian yang seperti preman. Mereka lalu berjalan menuju meja tempat Dio dan yang lainnya duduk. 


"Cafenya keren juga…" puji Mirhan sembari duduk di kursi yang dia ambil. 


"Jangan tiba-tiba lo pengen beli ini cafe ya Mir…" ucap Ryu memperingatkan temannya. 


"Gak semua hal yang keren, pengen gue miliki Yu…" Mirhan berusaha menyangkal. "Oh ya…sepertinya kalian sudah ngumpul…" ucap Mirhan sambil melihat Anton, Kelvin, Abel, Dio, dan Nita. 


"Jadi gimana Mir?..." tanya Dio penasaran. 


"Kayaknya gue setahin ini aja ya sama lo?…" Mirhan lalu mengeluarkan sebuah cek yang bertuliskan nominal angka. 


"Gue pikir Dio dan Nita bercanda...ternyata lo memang ingin membayar kami 500 juta rupiah…" ucap Anton tercengang…"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2