Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 13 Ketenangan Dio Saat di Atas Panggung


__ADS_3

Sebelumnya:


Semuanya awalnya berjalan sesuai dengan apa yang mereka rencanakan. Dio bernyanyi dengan penuh penghayatan di atas panggung. Itu cukup membuat Kelvin terpancing memainkan bassnya lebih keren lagi. Melihat skill kelvin penonton menjadi riuh. Hingga saat di bagian reff pertama gitar Nita tiba-tiba tidak ada suaranya. Itu membuat Kelvin dan Abel jadi gugup saat bermain. Untungnya Dio berhasil menguasai keadaan, dia mulai bermain ritem untuk mengisi part Nita yang kosong. 


Dengan cepat Nita ke bagian sambungan kabel gitarnya. Ternyata kabel gitar milik Nita tidak terpasang dengan benar. Saat Nita sedang sibuk dengan gitarnya, Dio sengaja mulai mengeluarkan skill gitarnya agar penonton tidak menyadari masalah terjadi saat ini. Kelvin sadar Dio berusaha menutupi kekosongan Nita dengan bermain skill gitar yang memukau, dia juga ikut mengeluarkan skillnya bermain bass. Kemudian Abel juga ikut mengeluarkan skill drumnya yang sekeren mungkin. 


Usaha mereka tidak sia-sia, karena setelah itu Nita bisa kembali bermain. Nita lalu mulai masuk ke part yang dia tinggalkan. Penonton ternyata tidak memikirkan apa yang terjadi sebenarnya. Mereka sangat menikmati atraksi skill gitar dari Dio dan bass dari Kelvin. Sampai akhirnya lagu selesai ditutup dengan tepuk tangan yang sangat meriah dari penonton. Mereka berhasil melewati itu semua dengan lancar. 


Lanjut…


Kelvin, Abel, dan Nita sangat gugup dengan kejadian barusan. Mereka bahkan sudah berpikir akan turun dari panggung karena malu. Mereka menganggap penampilan mereka kali ini akan menjadi salah satu penampilan buruk mereka. 


Untungnya Dio bukan orang yang sekali dua kali tampil di acara seperti ini. Itu yang membuat dia dengan mudah dapat mengantisipasi keadaan yang terjadi. Semua penonton bertepuk tangan dengan penampilan Dio yang luar biasa. 


Itu cukup membuat Nita, Abel, dan Kelvin merasa takjub dengan ketenangan Dio di atas panggung. Ternyata bukan hanya teman se bandnya yang kagum pada Dio, ternyata Anton dan Gio juga menganggap Dio bukanlah anak band biasa. Anton langsung menghampiri mereka untuk mengucapkan selamat atas penampilan mereka. 


"Gila...itu tadi keren banget…" puji Gio sambil menepuk pundak Dio. 


"Bener banget...gue hampir berpikir tadi itu sudah selesai…" ucap Kelvin yang masih gemetaran. 


"Saat gitar gue udah gak ada soundnya lagi...gue udah mikir pengen turun panggung lho…" ucap Nita yang bercerita pengalamannya tadi. 


"Kami juga sempat berpikir seperti itu, tapi saat gue liat Dio mengisi part gitar Nita, gue kembali melanjutkan permainan gue…" ungkap Abel menceritakan dari sudut pandangnya. 


"Mestinya lo sudah sering tampil, makanya bisa setenang itu…" Anton mengambil kesimpulan. 

__ADS_1


Sebenarnya Dio bisa aja bilang kalau dia pernah tampil di panggung yang lebih besar dari ini, tapi dia lebih memilih jawaban lain. "Gue sering melihat moment error saat band tampil live di atas panggung…" jawab Dio sambil menyalakan rokoknya. "Gue juga nonton gimana cara personil yang lain untuk menutupinya, jadi penonton gak nyadar bahwa sebenarnya saat itu ada moment error," tambahnya menanggapi kesimpulan Anton. 


"Tapi gak mungkin kan...lo belajar dari situ aja…lo pasti pernah mengalami salah satunya," ucap Gio sambil tersenyum.


"Pernah...itu waktu gue pertama kali ngeband di SMA kelas satu," jawab Dio pada Gio, tapi itu beneran pengalaman Dio saat dia berada di universenya, bukan di universe sekarang. 


"Oh...lo mulai sejak kelas satu SMA bermain band?..." tanya Anton bersemangat. 


"Iya, tapi caman band yang tampil untuk mengisi acara di sekitaran SMA…" jawab Dio lalu menghembuskan asap rokoknya. 


"Siapa yang ngajarin lo bermain gitar sejago itu?..." tanya Nita penasaran. 


"Kakak kelas waktu SMA untuk melatih dasar kuncinya, dan skill gitarnya...belajar dari rekaman konser band-band luar…" jawab Dio pada Hanna. 


Dia kemudian masukkan gitar yang dipinjamkan Gio ke dalam tas. Sebelumnya membersihkan gitar itu dengan teliti. Begitu juga dengan Kelvin, dia juga memasukkan bassnya ke dalam tasnya. 


"Lo pegang dulu aja...entar malam gue ambil ke kos lo, sekalian gue pengen mampir ke kos lo…" ucap Gio menolak tas gitar yang diserahkan Dio padanya. 


"Kayaknya pengumuman pemenang masih lama…" ucap Anton sambil melihat band lain yang tampil setelah The Line Band. "Mending kita nunggu ke cafe dekat sini yuk?..." ajaknya kemudian. 


"Wah...ide bagus tuh...tapi traktir ya?..." pinta Nita sambil tersenyum ke Anton. 


"Oke...semuanya gue traktir...tapi kalau band kalian juara, kalian harus bagi hasilnya sama gue ya?..." Anton menggoda mereka sambil tersenyum. 


"Hu…sama aja bohong itu mah…" ucap Abel berkomentar. 

__ADS_1


Mereka kemudian mengikuti Anton dan Gio menuju sebuah cafe yang memang berada dekat di tempat festival itu. Mereka sengaja memilih tempat duduk yang diluar cafe agar mereka bisa menyaksikan penampilan band yang lainnya. Disana terlihat penonton melompat-lompat menikmati penampilan band lainnya. 


Mereka sebenarnya tidak yakin akan menang di kompetisi ini. Mereka merasa band yang lain lebih keren penampilannya dibanding band mereka. Dio sendiri hanya santai, dia tidak terlalu memikirkan menang atau kalah. Dia merasa band ini perlu berlatih lebih banyak lagi untuk menghadapi moment error seperti tadi. 


"Kayaknya band lain lebih keren deh dibanding penampilan band kita…" ucap Abel dengan lesu. 


"Iya...gue jadi minder deh…" ucap Nita menyambung perkataan Abel. 


"Lo berdua kenapa sih?...kok malah keliatan gak yakin gitu?..." tanya Anton pada Abel dan Nita. 


"Penampilan lo pada tadi keren banget lho…" ucap Gio memberi motivasi. 


"Yang keren cuman Dio...kalau kita mah mainnya ancur banget tadi…" Kelvin menanggapi ucapan Gio dengan lesu. 


"Lo pada yakin aja…kalau kita kalah berarti harus lebih berlatih lagi…" ucap Dio berkomentar. 


Setelah itu pelayan datang menghampiri mereka sambil membawa daftar menu. Dio membaca dengan serius isi menu yang ada di sana. Dia sudah sering pergi ke Cafe bersama Nita di universenya, itu sebabnya dia hafal menu apa yang sering dipesan Nita. 


"Gue minumnya es cappucino sama kentang goreng," ucap Dio menyebutkan pesanannya,  lalu dia mulai menunjuk Nita. "Dan buat dia es susu coklat sama kentang keju…" ucapnya memesankan menu buat Nita. 


"Lo dari mana tau minuman kesukaan gue dan makanan kesukaan gue saat di cafe?..." tanya Nita kebingungan. 


"Ya ampun...lo ngapain si Yo?..." maki Dio dari dalam hati. "E…gue cuman nebak aja, emang tebakan gue tepat ya?..." tanya Dio pura-pura bego. 


The Line Band ternyata benar-benar tidak mendapat hasil yang memuaskan. Mereka tidak berhasil menjuarai kompetisi ini. Dio lalu menyemangati mereka semuanya karena sudah bermain dengan bagus. 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2