Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 36 Wajah di Cermin Kamar Mandi


__ADS_3

Tiba-tiba Dio langsung terkirim ke tempat dimana Genta menunggu mereka sebelum pulang. Dia melihat genta berlarian keluar pagar sekolah saat waktunya pulang. Dia melihat Genta seperti sedang menunggu seseorang. Dari tadi sejak dia di luar pagar, dia selalu melirik ke arah jalan yang arah mobil Dicky datang. 


"Genta...lo gak pulang?..." tanya seorang anak yang seumuran dengan dengan Genta. 


"Gak...gue nunggu kakak gue…" jawab Genta sambil tersenyum. 


"Yasudah...kalau begitu…kami duluan ya Ta?..." ucap teman Genta sebelum pergi meninggalkannya. 


Dio merasa kasihan dengan Genta yang terlihat mulai lesu. Kemudian dia melihat Genta akan pulang dengan berjalan kaki. Beberapa lama kemudian tiba-tiba berhenti sebuah motor di sebelah Genta. 


Genta terlihat tersenyum saat diajak bicara oleh pengendara motor itu. Sepertinya Genta sudah mengenalnya dengan baik. Sayangnya setelah itu tiba-tiba penglihatan Dio tentang kejadian disana menghilang. Dio kembali lagi setelah dipanggil oleh Dicky. 


"Yo…" Samar suara Dicky memanggil. "Yo…" masih samar. "Yo!..." kali ini lebih keras. 


"Hah!..." Dio terkejut. 


"Lo kenapa sih bro?..." tanya Dicky sambil memegang pundak Dio. 


"Sepertinya Genta dibawa orang…" ucap Dio kemudian. 


"Lo tau dari mana?..." tanya Dicky sangat penasaran. 


"Gue hanya nebak…" jawab Dio sekenanya. 


"Jangan-jangan bos mafia itu…" ucap Nita sambil menangis. 


"Sepertinya bukan mereka…" jawab Dio dengan sangat yakin, karena yang menjemputnya adalah cowok memakai motor. 


"Lo ngarang ya?..." tanya Rasya yang kesal pada Dio. 


"Gue yakin…" jawab Dio bersikeras. 


Tidak lama kemudian handphone Nita berbunyi dengan keras. Nita lalu mengambil handphonenya yang diletakkannya di dalam tasnya. Dia kemudian melihat siapa yang sedang menghubunginya. Yang menghubunginya ternyata adalah mbak Dara.


"Halo...ada apa mbak?..." tanya Nita dengan air mata yang masih menetes. Wajah Nita langsung berubah saat mendengarkan sesuatu dari mbak Dara. "Iya mbak...kami akan kesana...terima kasih..." ucap Nita sambil tersenyum. 

__ADS_1


"Ada apa Nita?..." tanya Rasya yang penasaran.


"Sekarang Genta sudah ada di kos…" ucap Nita dengan sangat gembira. 


"Seriusan?..." tanya Dicky yang juga senang. "Kalau gitu tunggu apalagi?...mending kita ke kos aja…" dia kemudian berjalan bersama Nita, Rasya, dan Dio. 


Dio kali ini duduk di depan bersama Dicky, sementara Rasya dan Nita duduk di belakang. Mobil mereka kemudian membalik arah untuk menuju ke kos. Selama diperjalanan Nita sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adiknya. 


Mereka sempat berpikir hal yang buruk terjadi pada Genta. Akhirnya mobil mereka sampai di kos milik mbak Dara. Disana sudah ada mbak Dara dan Genta yang sedang makan di meja makan. 


Selayaknya seorang kakak yang sangat mencintai adiknya. Nita berlari Memeluk Genta dengan sangat khawatir. "Lo gak apa-apa kan dek?..." tanyanya dengan penuh perhatian. 


"Iya mbak...Genta gak apa-apa kok…" jawab Genta sambil tersenyum. 


Nita langsung memeluk adiknya dengan berurai air mata. Bagi Nita hanya Genta satu-satunya keluarga yang dia miliki. Sementara untuk Kelvin dia menganggapnya hanya sekedar sepupu. 


Kakak dan adik itu kemudian duduk bersama menghadap ke meja makan. Mbak Dara hari ini memasakkan ikan patin bakar dan sayur bening. Dicky dan Rasya pun ikut makan bersama mereka karena diajak oleh mbak Dara. 


"Wah…kayaknya enak nih…" seru Wisnu yang ternyata juga masuk ke ruang makan. 


"Lo kalau mau makan...ya...makan aja Nu…" ucap Dio sambil tersenyum. 


"Alah...lo Nu...gak usah pura-pura deh…kayak biasanya gak mbak ajak makan aja…" ledek mbak Dara sambil tersenyum. 


"Yaudah...kalau mbak memaksa…" ucap Wisnu sambil duduk menghadap meja makan. 


Mbak Dara sangat senang kalau ada yang memakan hasil masakannya. Dia memiliki hobi memasak sebenarnya. Itulah sebabnya dia paling senang memasakan anak-anak kosnya sebuah makanan. 


***


Setelah makan mereka kemudian bersantai di lantai atas tepatnya di balkon. Dio, Nita, Rasya, Dicky, dan Wisnu sedang duduk sambil bernyanyi. Untuk yang bermain gitar mengiringi mereka bernyanyi adalah Dio dan Nita. Mereka terlihat sangat senang menghibur diri, karena kejadian tadi cukup membuat mereka pusing.


Dio dan Nita memainkan lagu-lagu yang cukup terkenal. Suara Nita terdengar makin bagus, meski kadang masih ada terdengar suara fals. Dio selalu memberitahu Nita untuk memperbaikinya. 


Genta sebelumnya tidak cerita siapa yang menjemputnya ke sekolah. Dia beralasan pulang sendiri jalan kaki. Dia beralasan kurang hafal jalan pulang ke kos, makanya dia bisa nyasar dan lama sampai ke kos. 

__ADS_1


Dio sendiri melihat seseorang menjemput Genta ke sekolah saat dia melihat masa lalu. Saat ini dia tidak ingin bercerita mengenai itu pada Nita. Dia tidak ingin siapapun tau bahwa dia bisa melihat masa lalu dan masa depan. 


"Yo...hei...Dio!..." seseorang membuyarkan lamunannya.


"Hah!..." tanggap Dio terkejut. 


"Lo ngelamun ya?..." tanya Wisnu kemudian. 


"Sorry bro...gue pengen cuci muka dulu…" ucap Dio tanpa menjawab pertanyaan Wisnu. Dia lali meletakkan gitarnya ke samping. 


"Lo kenapa sih Yo?..." tanya Dicky khawatir pada temannya. 


"Gue cuman lagi pusing aja…" jawab Dio lalu berjalan ke dalam rumah di lantai atas. 


Dio kemudian meninggalkan teman-temannya di lantai atas. Dia kemudian melewati Kamar milik L yang terlihat terbuka dan kuncinya masih menggantung. "Ternyata seorang malaikat pun bisa juga ceroboh…" ucapnya sembari mengunci kamar itu dan menyimpan kuncinya ke kantong celananya. 


Dia kemudian melanjutkan berjalan ke kamar mandi. Dia menuruni tangga dulu lalu ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi dia sempat melihat sebuah kaca yang terletak di wastafel. Dia lalu mencuci wajahnya dengan air dan sabun. 



Cermin kamar mandi


Saat dia sedang asik mencuci wajah, tiba-tiba dia melihat pantulan wajah seseorang dari dalam cermin. Dia sempat terkejut melihatnya lalu reflek melirik ke belakangnya. Dia sangat yakin wajah itu berada tepat di belakangnya. 


"Apaan tadi?..." tanyanya karena terkejut. 


Kemudian dia terdiam sesaat dan berpikir positif bahwa yang dilihatnya hanya halusinasi aja. Kemudian mengambil handuk yang biasa dipakai untuk mengelap wajah. Kemudian dia keluar dari kamar mandi lalu pergi ke kamarnya. 


Dia lalu mengambil handphonenya untuk menelpon L. Cukup lama dia menunggu handphonenya terhubung dengan L. "Iya...ada apa?..." tanya L terdengar tidak senang ditelepon Dio. 


"Lo jadi orang ceroboh bener dah...masa iya kamar lo ditinggalin gak dikunci...udah gitu kuncinya masih tergantung di gagang pintu lagi…" omel Dio pada L. 


"Yaelah...tinggal lo kunci terus kuncinya lo simpen...apa susahnya sih?..." jawab L dengan santainya. "Udah dulu ya?...gue sedang ada urusan nih…" ucap L lalu menutup teleponnya. 


"Tapi gue belum...ah...sial…" ucap Dio dengan kesal. 

__ADS_1


Dia ingin menanyakan seseorang yang menjemput Genta. Akhirnya dia langsung berpakaian untuk berangkat ke kampus. Dia berangkat bareng Nita ke kampus, sementara Dicky dan Rasya naik mobil. Wisnu tidak ikut ke kampus karena hari ini dia libur.


Bersambung...


__ADS_2