Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 41 Lagu Tersedih yang Dinyanyikan Dio


__ADS_3

Akhirnya Mobil Alphard milik Mirhan mereka pakai juga. Yang menyetir mobil itu adalah Anton yang juga bisa menyetir mobil. Dio sangat lega karena dia tidak harus menyetir mobil. 


Di dalam mobil ada Dio, Nita, Abel, Kelvin, dan Anton yang menyetir mobil. Mereka hari berniat pergi ke asrama SMA Flower Garden dulu. "Emangnya kapan kita tampil Yo?..." tanya Adel penasaran. 


"Kata Mirhan sih besok...makanya gue minta lo pada bawa pakaian buat tampil besok…" jawab Dio sambil merokok di dalam mobil dengan kaca jendela terbuka.


"tuh anak sekaya itu ya Yo?...sampai dia bersedia membayar dengan pembayaran dimuka…" tanya Kelvin penasaran. 


"Seperti yang lo liat kemarin waktu di cafe…dia nyawer kita dengan uang yang tidak sedikit lho..." jawab Dio menjelaskan dengan santai. 


"Anak seperti itu sekolah di SMA Flower Garden?...harusnya paling gak dia sekolah di sekolah international kan?..." tanya Abel yang merasa heran. 


"Itu  karena seorang anak yang bernama Ryu...dia adalah teman baik Mirhan sejak SMP…" jawab Nita juga ikut menjelaskan. 


"Mobil ini bakalan lo balikin setelah kita tampil di SMA Yo?..." tanya Anton yang duduk di depan kemudi.


"Kita hanya dipinjamkan, bukan diberikan...jadi kita harus mengembalikannya ke Mirhan…" jawab Dio kemudian. 


Mobil mereka kembali memasuki jalan Flower Garden. Dalam itu sangat ramai sekali dilalui mobil dan motor. Itu tidak masalah karena jalan ini cukup besar dan beraspal. 


Mereka akhirnya sampai kembali di asrama Flower Garden. Kelvin dan Abel cukup terkejut melihat asrama yang memiliki gaya bangunan klasik. Di kiri dan kanan bangunan ada sebuah warung bakso dan Warnet. Mereka siang sekali datang ke asrama Flower Garden, jadi murid-murid sudah berkumpul disana. 


Mereka tidak menyangka ternyata mereka cukup terkenal di sana. Ternyata anak SMA ini juga telah mengenal mereka sebelumnya. Saat mereka datang sudah disambut dengan sangat meriah. 


Bahkan ada beberapa murid dan orang-orang sekitar asrama yang mengajak mereka berfoto. Mirhan dan Ryu berhasil membuat acara SMA biasa menjadi acara konser besar. Dio, Nita, Anton, Abel, dan Kelvin sangat senang mendapat kesempatan tampil di SMA Flower Garden.


Anak-anak OSIS SMA Flower Garden bekerja sangat keras agar Dio dan teman-temannya bisa masuk ke dalam asrama. Cukup sulit memang masuk ke asrama karena di depan rumah sudah berkumpul orang-orang ingin mengajak mereka berfoto bareng. Akhirnya mereka bisa masuk ke dalam asrama dengan mudah. 


Di dalam asrama Ryu dan Mirhan sudah menunggu mereka. "Sorry banget ya bro?...gue gak memprediksi bakalan banyak orang diluar yang nungguin lo pada…" ucap Ryu sambil menyalami mereka. 

__ADS_1


"Santai aja kali Yu…" jawab Anton sambil tersenyum. 


"Emang kita seterkenal itu ya?..." taya Nita yang masih tidak percaya. 


"Bahkan gue dan Kelvin yang baru gabung sama kalian aja...juga diajak foto bareng…" ucap Abel yang masih tidak percaya. 


Sementara disana juga ada beberapa anak OSIS yang sedang merekam. Mereka sangat senang sekali bisa mengundang The Line ke SMA mereka. Ternyata mereka juga ngefans dengan Dio dan teman-temannya.


"Silahkan kita duduk dulu…" ucap Mirhan lalu mempersilahkan mereka duduk. 


Mereka semua kemudian duduk di sebuah sofa yang sudah disediakan. Di depan mereka sudah ada beberapa makanan dan minuman. Mereka dilayani layaknya band yang sangat terkenal. Itu cukup membuat Nita, Kelvin, Abel, dan Anton menjadi kagok. Sementara Dio sangat santai, karena dia memang sudah melewati masa ini di timelinenya di masa depan. 


"Jadi ini adalah rencana untuk penampilan The Line besok, ini kami persiapkan dari mulai alat musik sampai pakaian kalian di atas panggung…" ungkap Ryu mengabarkan rencana apa yang mereka persiapkan.


"Kalau pakaian gue jamin...itu adalah pakaian yang terbaik dari salah satu merek pakaian terkenal...mereka bersedia memasang iklan untuk acara besok…" ungkap Mirhan dengan santai. 


"Kami bisa mencoba dulu alat musik yang kalian siapkan?..." tanya Dio yang lebih fokus kenyamanan mereka di atas panggung. 


"Tentu saja boleh...kami akan mempersiapkan tempatnya buat kakak latihan sore nanti dan besok sebelum kakak tampil…" jawab seorang murid yang diprediksi adalah ketua OSIS SMA Flower Garden. Dia terlihat sangat ramah dan sopan pada Dio. 


Kemudian turunlah seorang anak yang terlihat sangat dingin. Dia menuruni tangga asrama sambil membawa laptop. Tingginya kalau diperhitungkan setinggi dengan Rasya. Dio dan teman-temannya berpikir anak itu juga anak kelas 1 atau kelas 2 SMA. 


"Heri...bagaimana?..." tanya Mirhan saat melihat anak itu menuju mereka. 


"Semuanya sudah gue program untuk mengikuti hentakan musik yang dimainkan di atas panggung…" jawab Heri lalu duduk di samping Mirhan dan Ryu. 


Dio merasa ada sesuatu yang tidak beres pada anak bernama Heri ini. Anak ini sebenarnya anak yang ceria, tapi karena sesuatu hal yang membuatnya seperti itu. Dio tidak ingin menanyakannya sekarang, sebab akan terlihat kurang sopan untuk menanyakan sesuatu yang agak pribadi. 


"Apakah kita bisa mencobanya?..." tanya Anton pada Heri. 

__ADS_1


"Lo bisa mencobanya saat ini juga…" jawab Heri mempersilahkan. 


Dia kemudian membuka sebuah simulasi panggung 3D dari yang sudah dibuat Mirhan. Lalu memasukkan program yang sudah dia buat. Kemudian Anton mengambil Gitar dari tasnya. 


"Gimana?...sudah siap?..." tanya Anton seperti bersiap memainkan gitarnya. 


"Ya...sudah siap…" jawab Heri lalu mengklik sesuatu pada kursor mousenya. 


Dia mulai memetik senar gitarnya dengan santai. Ternyata simulasi itu merespon alunan gitar yang Anton mainkan. Itu membuat Nita, Kelvin, dan Abel yang tidak pernah melihat itu menjadi tercengang. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana kerennya penampilan mereka besok. 


"Gimana caranya lo ngelakuin ini?..." tanya Kelvin tidak bisa menutupi rasa penasarannya. 


"Gue memakai sensor yang hanya bisa mendeteksi suara alat musik…" jawab Heri sambil menunjukan sebuah alat yang dia buat sendiri. 


"Wah...keren banget…" puji Abel sambil melihat alat itu. 


"Gue boleh mencobanya?..." tanya Dio kemudian. Dia lalu meminta Anton memainkan gitar. "Mainin lagu tinggal Kenangan Ton…" ucap Dio pada Anton. 


"Oke siap…" jawab Anton sambil tersenyum. 


Anton mulai memainkan gitarnya untuk mengiringi Dio bernyanyi. Alunan gitar yang sangat indah membuat orang-orang yang ada disana tercengang. Ditambah saat Dio mulai menyanyikan setiap lirik lagu itu. Semua orang di sekitar sana terpana mendengarkan. Termasuk Heri yang duduk berhadapan dengan Dio dan Anton. 


Sesaat Dio seperti merasakan sesuatu yang sangat menyayat hati. Ini bukan perasaannya yang selama ini dia alami. Dia melihat sebuah rumah sakit yang disana tertidur seorang cewek. Disebelahnya ada Heri yang sedang menggenggam tangan cewek itu. 


Tanpa sadar Dio juga terbawa dengan suasana. Dia berhasil membuat semua cewek yang ada disana menangis. Begitu juga Mirhan dan Ryu, sebab mereka mulai meneteskan air mata. Hingga lagu itu akhirnya berhenti dinyanyikan. 


"Gue mohon lo nyanyikan lagi lagu itu…" ucap Heri yang masih berkaca-kaca."Lo nyanyiin lagu itu saat tampil di panggung besok…" pinta Heri dengan penuh harap ke The Line. 


Bersambung... 

__ADS_1


__ADS_2