
Akhirnya Dio sudah sampai di kos dengan dia yang membawa motor. Meski kelihatannya ada beberapa tempat yang berbeda, tapi juga ada beberapa tempat yang sama seperti sebelumnya. Dia bisa dengan mudah mengemudikan motor sampai di kos walaupun kadang dia merasa salah jalan.
"Jadi lo yakin...pengen menerima tawaran Anton?" tanya Wisnu setelah kami sampai di kos.
"Mau gimana lagi bro...gue butuh duit buat nambah bayar kos dan ditambah lagi...gue pengen ngambil semester pendek tahun ini…" jawab Dio dengan serius.
"Tapi...lo yakin bisa tetap tampil bagus kayak malam ini?" tanya Wisnu kembali tidak yakin, karena dia pikir Dio hanya kebetulan saja bisa nyanyi bagus malam ini.
"Santai bro…" jawab Dio sambil tersenyum. "Kan udah gue bilang...kalau gue udah sering tampil…" jawabnya dengan yakin.
"Tapi selama ini lo kan demam panggung, dan ditambah lagi suara lo yang fals banget…" ucap Wisnu bersikeras.
"Buktinya malam ini gue bisa bernyanyi dengan sempurna kan?..." tanya Dio dengan mantap. "Jadi lo gak usah pikirin lah…" ucapnya dengan senyum yang meyakinkan. "Besok pagi-pagi gue harus bertemu bapak pemilik kos kita deh…buat bicarain keterlambatan bayar kos gue bulan ini..." ucap Dio kemudian sambil menaiki tangga.
"Bapak kos?...lo ngelantur ya?..." tanya Wisnu terlihat bingung. "Sejak kapan mbak Dara punya suami?..." tanya Wisnu cukup terkejut. "Lo aneh banget dah…"
"Bentar...mbak Dara?..." Dio yang kali ini bingung. "Dimana beliau tinggal?..." tanya Dio kemudian.
"Dia tinggal di kos ini...di kamar yang paling gede di bawah...masa lo gak tau sih?..." kali ini Wisnu benar-benar merasa ada yang tidak beres pada temannya ini. "Lo kepentok, atau apa sih?...kok jadi kayak orang berbeda gitu…" ucap Wisnu sambil memegangi kepala temannya.
"Apaan sih Nu?..." tanya Dio menepis tangan Wisnu yang mengusap kepalanya. "Lo kayak gak normal, tau gak?..."
"Lo tuh...yang kayak gak normal...tiba-tiba pakai pakaian rapi, bicara lebih sopan, bisa nyanyi dan main gitar, terus lo lupa mengenai ibu kos kita…" ucap Wisnu karena dia seperti tidak mengenali sahabatnya itu.
"Udah...ah no...gue sekarang ngantuk, dan pengen tidur…" ucap Dio sambil membuka pintu kamarnya. "Lo juga harus tidur...besok lo pengen kerja kan?..." tanya Dio pada Wisnu, karena seingatnya dulu Wisnu bekerja di sebuah perusahaan.
"Nah...lo lupa kan kalau kita seangkatan kuliah…" ucap Wisnu seperti mengetahui sesuatu, tapi Dio malah masuk ke kamar lalu menutup pintunya.
Dio sudah benar-benar ngantuk saat ini, makanya dia mutusin buat ninggalin Wisnu. Kemudian dia baca sebuah jadwal kuliahnya besok. Dia kemudian memilih buku sesuai jadwal yang ada besok. Dia dengan teliti memilih buku satu-persatu lalu memasukkannya ke tasnya.
__ADS_1
Setelah semua benar-benar sudah beres, dia lalu ke luar kamar untuk mencuci muka dan kakinya. Itu sudah kebiasaan Dio sebelum dia tidur. Semua itu diajarkan sejak dia masih kecil di panti asuhan. Dia tidak pernah merasakan omelan ayahnya dan kasih sayang seorang ibu sejak dia lahir. Makanya dia sudah terbiasa untuk hidup mandiri, tanpa bergantung pada orang lain.
Setelah dia selesai mencuci kakinya, kemudian dia kembali ke kamarnya lagi. Dia lalu mengunci pintu kamarnya sebelum dia tidur. Saat baru menghempaskan badannya ke kasur, tiba-tiba L muncul dengan tidur di sebelahnya. Sontak saja dia terkejut melihat L yang nyengir.
"Hah!..." teriak Dio terkejut. "Lo bisa gak sih...kalau muncul gak harus ngagetin?..." Dio ngomel-ngomel pada L.
"Sorry bro...soalnya ada hal penting yang harus gue jelasin sama lo…" ucap L lalu duduk di sebelah Dio.
"Emang lo gak bisa jelasinnya besok aja?..." tanya Dio sambil menguap.
"Nggak bisa...soalnya ini berhubungan dengan keberadaan lo di masa ini dan universe ini," ucap L berusaha meyakinkan Dio.
"Oke...oke...gue dengerin," ucap Dio, tapi matanya terlihat sudah mengantuk.
"Lo dengerin gue dengan serius dulu…" ucap L sambil berusaha menyadarkan Dio yang sudah mulai mengantuk.
"Iya...iya...gue denger kok…" ucap Dio yang kembali bisa sadar.
Suasana saat ini seakan berhenti tiba-tiba. Yang bisa bergerak hanya Dio dan L saja di sini. Entah kenapa Dio sudah tidak merasakan mengantuk lagi.
"Ini apaan sih?..." tanya Dio kebingungan.
"Ini adalah cara agar lo bisa fokus dengerin gue ngomong dan tidak merasa ngantuk dulu…" ucap L dengan tersenyum.
"Jadi apa yang pengen lo omongin dengan gue?..." tanya Dio mulai tidak sabar.
"Lo sudah menggeser realita di universe ini…dan waktu ini…" ucap L menjelaskan.
"Maksud lo bagaimana?...gue gak ngerti…" tanya Dio kemudian.
__ADS_1
"Ini seperti lo main sebuah game yang memiliki multi ending atau lebih sering disebut butterfly effect…" ucap L sambil menunjukkan ilustrasi di depan mata Dio.
"Maksud lo seperti gue bermain game Robot yang Ingin Seperti Manusia?..." tanya Dio mencoba memahami.
"Bisa dibilang seperti itu," jawab L. "Jadi lo masuk ke dunia realita di masa sekarang dengan universe yang berbeda…barusan lo sudah membuat pergeseran alur realita berbeda dari universe diri lo di masa ini...itu dimulai dari lo berkenalan dengan Nita, lo pasti merasakan ada gambaran lo di masa lalu waktu lo bersama Nita, terus lo bernyanyi di atas panggung di cafe tadi, kemudian lo diajak tampil setiap malam, itu bisa membuat percabangan baru, tapi masalahnya gak ada yang tau ending hidup lo bakalan seperti apa, termasuk gue saat ini," L menjelaskan semuanya dengan lengkap.
"Apakah ending yang gue buat ini menuju good ending, normal ending, atau bad ending?..." tanya Dio penasaran.
"Nggak ada yang tau ini bakalan menjadi good ending, normal ending, atau bad ending, ini tergantung dari lo yang menjalani cerita lo sendiri…" jawab L dengan serius.
"Kalau good ending bagaimana?" tanya Dio sangat penasaran.
"Kalau good ending, artinya lo berhasil menyelamatkan Nita di dunia ini, tapi kalau lo mendapat bad ending, lo gak ada kesempatan buat nyelamatin Nita," jawab L lalu tiba-tiba apel muncul di tangannya.
"Bagaimana dengan normal ending?" tanya Dio kemudian, berharap ending ini berakhir bahagia.
"Kalau untuk normal ending, maka lo juga akan berhasil menyelamatkan Nita, tapi kemungkinan nyawa lo gak bakalan selamat di dunia ini…" jawab L kemudian.
"Apakah gue bakalan mati?..." tanya Dio agak ketakutan.
"Kemungkinan itu bisa saja terjadi, atau bisa jadi tidak terjadi, dan bisa juga lo akan mengalami kecelakaan yang membuat lo lumpuh atau sebagainya…" L menjawab pertanyaan Dio.
"Jadi gue hanya harus mendapat good ending atau normal ending…" ucap Dio berpendapat.
"Nah...di sini lo harus hati-hati…" L mencoba mengingatkan.
Kemudian Dio membuka catatan dari handphonenya, ternyata ada catatan yang berubah. Disana tertulis Dio berkenalan dengan Nita di cafe Harmony, padahal yang seharusnya di studio band. Kemudian foto Dio dan Nita harus ada saat mereka baru kenal, tapi malah menjadi hilang di handphone Dio.
"Kenapa bisa begini?..." tanya Dio kebingungungan.
__ADS_1
"Itu karena lo telah merubah kejadian pada tanggal itu…" jawab L dengan serius.
Bersambung dulu ya?…soalnya kebetulan yang nulis sedang mengantuk...