Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 44 Komentar-komentar Haters


__ADS_3

Akhirnya video rekaman mereka sudah diupload di Utube. Seperti biasa mereka membagi videonya dengan beberapa video. Namun banyak sekali komentar-komentar yang terkesan menghina.


Mereka saat ini berkumpul di sebuah studio yang dibayarkan oleh Hartono untuk mereka. Itu karena Mirhan yang memintanya sendiri pada beliau. Mereka tidak menyangka mengenal Mirhan, sebagai orang yang baik pada mereka. 


Berikut beberapa komentar yang paling kasar, "Hahaha...penampilan kayak sampah…"


Dan ada yang berkomentar, "Penyanyi cover aja sok ngartis…"


Komentar seperti itu cukup membuat Nita dan Abel sakit hati. Sementara Dio, Anton, dan Kelvin santai saja. Mereka merasa komentar itu hanya bertujuan merendahkan mereka. 


"Ini hanya komentar yang bertujuan menjatuhkan kita…" ucap Anton berkomentar. 


"Tapi selama ini kita memang mendapat penghasilan dari mengcover lagu orang lain kan?..." tanya Nita yang terlihat sedih.


"Kita cover lagu hanya di Utube atau di cafe Harmony kan?..." tanya Kelvin menanggapi pertanyaan Nita. "Kalau mereka pengen menuntut masalah itu...pihak cafe Harmony sudah membayarnya kan setiap bulannya? …" 


"Mereka gak tau tentang itu…" ucap Abel yang terlihat sedih. 


"Mau kita memberitahukannya juga percuma...yang namanya haters, pembenci, dan pencela, kalau sudah membenci seseorang...mereka gak bakalan dengerin penjelasan dari orang yang mereka benci…" ucap Dio berusaha menjelaskan. "Mau benar atau salah yang kita kerjakan, pasti ada orang yang gak senang dengan kita," tambahnya lagi dengan serius. 


"Gue setuju dengan apa yang diucapkan oleh Dio…" Anton setuju dengan pendapat temannya. "Saat ini ada baiknya kita fokus ke album yang akan kita buat…" 


"Terus bagaimana dengan mbak Dara?..." tanya Kelvin berusaha mengalihkan pembicaraan. 


"Mbak Dara bilang sih bersedia, tapi dia perlu orang untuk menjaga dan membersihkan rumah kosnya…" jawab Nita menjelaskan. 


"Yaudah…kita buka lowongan aja...buat jaga kos…" usul Anton kemudian. 


"Ide bagus sih...tapi apa dia setuju dengan rencana itu?..." tanya Nita sedikit sangsi. 


"Setelah latihan nanti...kita bicarakan sama mbak Dara gimana?..." tanya Dio memberi usul. "Oh...ya...soal cek pembayaran yang diberikan Mirhan gimana?..." tanya Dio pada mereka. 


"Lha...bukannya harusnya udah lo cairkan?..." tanya Kelvin kelihatan bingung. 


"Hehehehe...belum bro…" jawab Dio sambil garuk-garuk kepala. 

__ADS_1


"Yaelah Yo…" ucap temannya berbarengan. 


"Kenapa gak lo cairin aja?..." tanya Abel sangat heran dengan Dio yang tiba-tiba bloon. 


"Gue pengen nyairin bareng lo pada...agar pembagiannya rata…" jawab Dio beralasan. 


"Pembagiannya lebih banyak lo juga gak apa-apa kali Yo…" ucap Anton menanggapi jawaban Dio. 


"Lagian yang dikontrak Mirhan pertamakan elo…" ucap Kelvin menambahkan. 


"Iya...kan kami yang ngajak lo juga…" ucap Abel sependapat dengan Kelvin. 


"Santai aja lah Yo…" ucap Nita kemudian. 


"Gue pengen ini band bertahan lama...gue gak mau bubar hanya karena duit doang…" Dio memberikan penjelasan.


"Ya udah...kalau gitu besok kita ke bank bareng-bareng…" usul Anton menengahi. 


"Oke...masalah selesai…" ucap Nita sambil tersenyum. 


"Nit…" ucap Dio memanggil Nita. 


"Ada apa Yo?..." tanya Nita sambil memegang gitar. 


"Untuk lagu yang judulnya Sepi, lo ya yang mengisi suara vokalnya?..." pinta Dio pada Nita. 


"Kenapa gue?...kan kata lo kemarin, lo aja yang ngisi vokalnya?..." Nita berusaha menolak. 


"Kayaknya tuh lagu lebih cocok suara cewek deh…" ucap Dio berpendapat. 


"Gue setuju si dengan Dio…sebab kalau didengerin tuh lagu emang cocoknya buat cewek deh…" Anton sependapat dengan Dio. 


"Tapi gue belum pernah coba nyanyiin tuh lagu…" ucap Nita kembali berasan. 


"Yaelah...pasti kita bantu kok...lo tenang aja napa?..." ucap Kelvin menyemangati Nita. 

__ADS_1


"Bener kata Kelvin...gue yakin banget suara lo pasti lebih cocok sama tuh lagu…" Abel juga menyemangati Nita.


"Oke deh...kalau lo pada maksa…" ucap Nita dengan terpaksa. 


Dia lalu melepaskan gitar yang dia pegang, lalu memberikannya ke Dio. Sementara teman-temannya yang lain juga mulai mengambil alat musik mereka masing-masing. Abel pun juga sudah menempati posisinya di Drum. 


Dio mulai memainkan gitarnya dengan sangat merdu bersama Anton. Kemudian dilanjutkan dengan bass dan drum dari Kelvin dan Abel. Mereka mulai memainkan lagu itu dengan seirama. 


Nita sebenarnya masih belum hafal dengan lagu Sepi yang diciptakan oleh Dio. Dia tetap berusaha menyanyikannya dengan membaca catatan di handphonenya. Dia mulai mengikuti nada yang dimainkan oleh teman-teman se bandnya. 


Kadang Dio merasa nada yang Nita nyanyikan kurang sesuai, tapi dia tetap melanjutkannya, agar tidak mengganggu konsentrasi yang lain. Lagu ini benar-benar lagu baru, jadi bukan hanya Nita yang bekerja keras untuk menguasainya. Bahkan Dio, Anton, Abel, dan Kelvin pub juga berusaha keras agar mereka bisa menaklukan lagu ini. 


Setelah lagu ini berakhir mereka terlihat kurang puas. Terlihat sekali tidak seperti yang mereka harapkan. Dengan sigap Nita meminta buat memainkannya lagi, tapi dengan aransemen yang diubah. Dio dan teman-temannya mengikuti permintaan dari Nita. Mereka mengulangi lagu itu lagi, tapi tetap saja masih belum dapat feelnya. 


"Lagu ini susah banget…" ungkap Anton dengan jujur. 


"Mungkin kita terlalu rame dalam musiknya, membuat lagu ini gak dapat rasa sedihnya…* pendapat Dio dengan serius. 


"Gimana kalau lo main piano aja Yo?..." saran Nita kemudian pada Dio. 


"Piano ya?...ide bagus…" sepertinya Dio setuju dengan saran dari Nita. 


"Drum gue akan dimasukan di reff aja…" ucap Abel memberi usul. 


"Kalau begitu Vin...lo coba main bassnya lebih pelan dan ikuti nada dari piano gue…" usul Dio pada Kelvin. 


"Oke...bakalan gue coba…" ucap Kelvin menyetujui permintaan Dio. 


Dio lalu beralih ke piano yang ada disana. Dia mulai bermain intro yang sama, tapi kali ini lebih pelan dan lebih dramatis. Kemudian diiringi dengan suara bass dan gitar dari Kelvin dan Anton. Mereka membuat lagu itu lebih menyedihkan dari sebelumnya. 


Nita menunduk sejenak untuk mendapatkan feel kesedihan dari musik yang dimainkan Dio, Anton, dan Kelvin. Dia kemudian membayangkan perasaan orang yang sendirian dan merasa sepi. Dia kemudian membayangkan saat dia berjuang dengan adiknya tanpa orang tua. 


Benar saja lagu itu terlihat lebih sedih dari sebelumnya. Bukan hanya Nita yang merasakan kesedihannya, tapi juga teman-temannya. Bahkan Dio yang pada dasarnya menciptakan lagu itu, juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Nita. 


Saat lagu itu memasuki reff,  Abel pun mulai memukul drumnya untuk menambah suasana sedih. Lagu yang mereka mainkan lebih menyayat hati dari sebelumnya. Mereka sangat yakin lagu ini akan diterima dengan baik oleh pendengar mereka. 

__ADS_1


Bersambung... 


__ADS_2