Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 18 Lagu Tentang Kehilangan


__ADS_3

Sebelumnya:


Hingga akhirnya mereka turun panggung tepat jam 12 malam. Dio dan Anton terkejut melihat uang yang mereka kumpulkan malam ini. Ternyata uang dalam kotak itu sangat banyak. Terlihat uang dari mulai 10.000 rupiah sampai 100.000 rupiah. Uang itu tidak termasuk dengan uang mereka tampil di cafe Harmony malam ini. 


Pemilik cafe langsung menghampiri Dio dan Anton. Dia berterima kasih pada mereka berdua karena membuat cafe malam ini menjadi ramai. Besok malam mereka diminta kembali tampil di cafe Harmony. Dio dan Anton menerima tawaran itu dengan senang hati. 


Mereka berdua pulang setelah cafe Harmony tutup. Sebelum pulang Dio melihat Nita dijemput oleh seorang om-om. Nita terlihat sangat terpaksa masuk ke dalam mobil. Dio tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sama sekali tidak ada hubungan dengan Nita, kecuali hanya teman. 



...Anita Acesha...


Oke...mari kita Lanjutkan... 


Dio tidak menyangka pendapatan dari tampil malam ini sangat banyak. Di dalam kamar dia menghitung sekitar 1.000.000 rupiah uang yang dia dapat. Itu tidak termasuk honor atas penampilannya di cafe Harmony. Dengan ini dia bisa membayar tunggakan kost bulan ini yang harus dia bayar sekitar 250.000 rupiah. 


"Sepertinya lo sudah mulai menarik diri lo di universe ini menuju diri lo di universe lo…" ucap L yang muncul di belakang Dio. 


"Gue berusaha agar gue bisa memperbaiki kehidupan gue yang berantakan…" ucap Dio menanggapi. Lalu dia menyisihkan uang dari penghasilannya malam ini untuk membayar uang tunggakan kostnya bulan ini. 


"Sepertinya Nita mulai ingin mendekat dengan lo…" ucap L sambil memakan sebuah apel. "Ingat...kalau lo kembali berpacaran dengan Nita, maka lo akan kembali melihat Nita meninggal di hadapan lo…" ucapnya memperingatkan. 


"Iya...gue tau…" ucap Dio menanggapi. "Makanya gue gak akan berpacaran dengannya apapun yang terjadi. 


Dio kemudian melihat catatan di handphonenya. Dia kembali menyadari ada sesuatu yang berubah disana. Disana salah satu video dia dan Nita saat tampil di cafe Harmony menghilang, digantikan video dia yang tampil bersama Anton.


"Gue harap lo tetap berpegang teguh pada tujuan utama lo...yaitu menyelamatkan Nita...gue gak pengen lo gagal…" ucap L memperingatkan. 


"Iya...gue tau…" ucap Dio dengan serius. 


Dia kemudian mengambil gitarnya yang tersandar di dekat tempat tidur. Dia mulai memetik senar gitarnya dengan penuh penghayatan. Lagu yang dimainkan sangat indah meski belum sampai ke liriknya. 


"🎶Sayang…


Apa kabar kau disana?...


Saat aku mencoba…


Untuk melupakanmu…

__ADS_1


Sayang…


Jaga dirimu disana…


Saat aku tak bisa…


Menemanimu…


Kau tau kah hati ini sakit…


Saat aku mencoba menjauhi…


Dirimu…


Kau tau kah hati ini sedih…


Saat aku melihat…


Kau dengannya...🎶" Dio terdengar sangat menghayati lagu yang dia nyanyikan. 


Setiap lirik yang keluar dari mulut Dio mewakili perasaannya saat ini. Dia sangat mencintai Nita, tapi dia tidak bisa mengungkapkannya. Tanpa sadar air matanya menetes bersama lagu yang terus berjalan. Semua orang yang mendengar lagu ini dinyanyikan pasti akan menangis. 


Pintu kamar Dio memang sengaja dibuka agar asap rokoknya tidak mengepul di dalam kamar. Tiba-tiba mbak Dara berdiri terpaku melihat dan mendengarkan Dio bernyanyi. Dia seakan bisa merasakan perasaan Dio yang ditumpahkan dalam sebuah lagu. Ternyata bukan hanya mbak Dara yang melihat Dio bernyanyi, ternyata Wisnu juga mendengarkannya. 


"Bagaimana lo bisa menciptakan lagu yang liriknya sangat dalam seperti itu?..." tanya mbak Dara kemudian. Dio terkejut mendengar suara mbak Dara yang bertanya padanya. 


"Itu lagu yang sangat menyentuh bro…" puji Wisnu pada Dio. 


"Mungkin karena gue merasakan rasa sakit itu…" jawab Dio lalu menghapus air matanya. 


"Tapi itu lagu yang menceritakan tentang kehilangan…" ucap Wisnu berpendapat. 


"Lo sekarang sedang kehilangan seorang yang lo sayang?..." tanya mbak Dara dengan serius. 


Dio sadar dia harus mencari alasan agar dia tidak terlanjur bercerita mengenai hubungannya dengan Nita. "Gue hanya berusaha meresapi bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang gue sayang…" jawab Dio beralasan. 


"Itu dalam banget bro…" ucap Wisnu, kemudian dia mengambil handphonenya. "Lo harus menyanyikannya lagi bro…" pinta Wisnu pada Dio. 


"Apaan sih bro?..." tanya Dio yang merasa aneh. "Oh ya…" Dio baru teringat sesuatu. "Mbak…ini uang kost gue buat bulan ini…" ucap Dio sambil menyerahkan uang yang disimpannya untuk bayar kost. 

__ADS_1


"Cie…yang baru dapat rezeki nomplok…" ledek Wisnu nyengir. 


"Apaan?...lo mau gue traktir?..." tanya Dio sambil tersenyum. 


"Wah…lo beneran sudah punya penghasilan sendiri?..." tanya mbak Dara sambil menerima uang dari Dio. 


"Yah…gitu lah mbak…" jawab Dio sambil tersenyum. 


"Tapi uangnya jangan lupa ditabung lho ya?..." pesan mbak Dara pada Dio. 


"Sudah Dio gue sisihkan kok…" jawab Dio lalu menaruh gitarnya ke tempat semula. Tidak lama kemudian perut Dio berbunyi sangat kencang. Dia baru sadar bahwa perutnya belum diisi sejak dari tadi. 


"Lo lapar bro?..." tanya Wisnu tersenyum menggoda temannya. 


"Wah...maaf ya Yo?...mbak udah gak ada makanan lagi…" ucap mbak Dara terlihat menyesal. 


"Yasudah...kalau begitu...gue pesan ojol aja…" ucap Dio lalu mengambil handphonenya.


"Mending pake handphone gue aja bro...kebetulan gue punya voucher diskon…" usul Wisnu lalu membuka aplikasi dari handphonenya. 


"Boleh tuh…" Dio menerima usul Wisnu. "Mbak...lo mau juga gak?..." tanya Dio menawarkan. 


"Gimana ya?..." mbak Dara terlihat berpikir kemudian. 


"Udah mbak...itung-itung mencicipi uang honor Dio hasil manggung…" jawab Dio sambil tersenyum. 


"Yes...masih ada warung yang buka...tapi nasi goreng doang...mau gak?..." tanya Wisnu pada mereka. 


"Yaudah...hajar aja…" jawab Dio bersemangat. 


"Kalau mbak terserah aja...dibayarin ini…" jawab Mbak Dara lalu masuk ke kamar Dio. "Kamar lo udah gak berantakan lagi ya?..." pujinya saat melihat kamar Dio yang sudah rapi. 


"Masa iya mbak...gue tidur dengan kamar yang berantakan…" jawab Dio kemudian. 


"Rice cooker lo masih dihuni cicak bro?..." tanya Wisnu sambil menunjuk rice cooker yang tidak terpasang listrik di kamar Dio. 


"Emang bener?..." tanya Dio tidak percaya. Dia lalu mengecek sendiri apa yang ada di rice cookernya. Saat dia membukanya keluarlah aroma yang tidak enak dicium. "Anjir...bau banget…" serunya sambil mengangkat tempat nasi yang sudah membusuk disana. 


"Ih...jorok...cepat cuci…" perintah mbak Dara sambil menutup hidungnya. 

__ADS_1


Dio lalu berlari ke dapur untuk mencucinya. Dia mengangkat tempat nasi itu sambil berlari kecil. Wisnu dan mbak Dara tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Dio. Mereka sangat yakin Dio tidak pernah memakai rice cooker itu selama beberapa bulan. 


Bersambung ya bro?…author ngantuk parah nih…


__ADS_2