
Sebelumnya:
"Gue minumnya es cappucino sama kentang goreng," ucap Dio menyebutkan pesanannya, lalu dia mulai menunjuk Nita. "Dan buat dia es susu coklat sama kentang keju…" ucapnya memesankan menu buat Nita.
"Lo dari mana tau minuman kesukaan gue dan makanan kesukaan gue saat di cafe?..." tanya Nita kebingungan.
"Ya ampun...lo ngapain si Yo?..." maki Dio dari dalam hati. "E…gue cuman nebak aja, emang tebakan gue tepat ya?..." tanya Dio pura-pura bego.
The Line Band ternyata benar-benar tidak mendapat hasil yang memuaskan. Mereka tidak berhasil menjuarai kompetisi ini. Dio lalu menyemangati mereka semuanya karena sudah bermain dengan bagus.
Ok...ayo kita lanjutkan…
Dio pulang dari festival bersama Nita naik motornya. Sementara Abel dan Kelvin punya rencana jalan berdua. Maklum lah mereka sepertinya ingin pacaran dan tidak ingin diganggu oleh Nita dan Dio.
Di perjalanan Nita mengecek tasnya, sepertinya dia sedang menghitung sesuatu. Dio tidak terlalu memperhatikan Nita yang sibuk di belakangnya. Dia hanya fokus ke jalan yang mereka lintasi. Dia tidak ingin terjadi sesuatu di perjalanan saat membonceng Nita.
"Lo ngapain sih Nita?..." tanya Dio yang merasa tidak nyaman saat mengemudikan motor karena Nita dari tadi tidak diam.
"Ini...aduh...gue lagi nyari uang buat beliin adik-adik gue makanan…" jawab Nita yang masih sibuk. "Aduh...gue lupa…gue cuman bawa uang sedikit ke kampus..." keluhnya kemudian
"Emang lo pengen beli apaan?..." tanya Dio lalu menghentikan motornya.
"Gue janji pengen beliin adik-adik gue ayam goreng tepung…" jawab Nita dengan lesu.
"Ya udah…" ucap Dio kemudian lalu menjalankan motornya kembali.
"Maksud lo apaan?..." tanya Nita bingung.
"Mau beli ayam goreng tepung kan?..." tanya Dio sambil menjalankan motornya.
"Gak usah ah...entar gue ngerepotin lo lagi…" ucap Nita merasa tidak enak.
"Santai aja...lagian gue juga belum makan dari tadi…" jawab Dio sambil tersenyum.
"Kalau gitu...lo makan di rumah gue aja...entar gue siapin nasinya…" ucap Nita lalu memeluk perut Dio dengan mesra.
__ADS_1
"Nit...bisa gak usah meluk perut gue...please…" ucap Dio karena dia tidak ingin ada perasaan antara dia dan Nita.
"Kenapa?...lo gak suka gue peluk perut lo dari belakang?...apa lo udah punya pacar?..." tanya Nita terdengar kecewa.
"Justru karena lo lah cewek gue...makanya gue gak pengen lo peluk dari belakang, tujuan gue kembali ke waktu ini hanya buat nyelamatin lo…" ucap Dio dari dalam hatinya. "Maaf ya Nit?..."
"Ya udah deh...kalau gitu…" Nita langsung melepaskan pelukannya dari Dio.
Dia terlihat sangat kecewa dengan sikap Dio padanya. Selama ini semua cowok yang dekat dengannya pasti senang kalau diperlakukan seperti itu. Namun Dio sangat berbeda dibandingkan mereka semua.
Di perjalanan Dio melihat penjual ayam goreng tepung yang ada di samping jalan. Dio kemudian menepikan motornya menuju ke tempat penjual itu berada. Untungnya Dio tadi baru saja menerima uang dari upah memperbaiki laptop sepupunya Wisnu. Dio dan Nita langsung turun dari motornya lalu menghampiri penjual ayam goreng tepung.
"Mau beli berapa?..." tanya Dio pada Nita.
"Gue mau beli dua doang sih…" jawab Nita sambil mengikuti Dio berdiri di sebelah penjual.
"Yaudah kalau gitu…kita beli 4 aja ya?..." ucap Dio kemudian. "Bang...beli 4 ayam goreng tepungnya…" ucapnya pada penjual.
"Oke tunggu sebentar ya mas…" ucap si penjual dengan ramah.
"Lo nyantai aja...nanti bisa lo ganti pas lo gajian…" jawab Dio sambil tersenyum.
"Oh gitu ya?..." ucap Nita sambil tersenyum.
"Lo bisa gak ajarin gue?..." tanya Nita kemudian.
"Ajarin apa?..." tanya Dio sambil mengambil sebatang rokok dari bungkus rokoknya lalu menyalakannya dengan korek api.
"Ajarin gue menyanyi dengan benar…" jawab Nita dengan serius.
"Oh...gitu ya?...tapi kalau lo belajar sama gue harus sabar ya?...soalnya latihan nyanyi dengan gue itu berat…" ucap Dio menyanggupi permintaan Nita.
"Mas...ini pesanannya…" ucap penjual ayam goreng tepung.
"Oh...ya...berapa mas?..." tanya Dio sambil mengambil dompet dari kantong celananya.
__ADS_1
"40.000 rupiah mas…" jawab penjual itu dengan ramah.
Dio lalu mengeluarkan uang sebesar 50.000 rupiah dari dompetnya. Dia lalu memberikannya ke penjual ayam goreng tepung itu. Dio menunggu penjual ayam tepung itu mencari uang kembalian. Setelah menemukannya dia langsung memberikannya pada Dio.
Setelah itu Dio dan Nita melanjutkan perjalanan mereka menuju ke rumah Nita. Kali ini Nita tidak berusaha untuk memeluk Dio dari belakang. Dia hanya duduk kadang memegangi pundak Dio saat motor yang dia tumpangi mengerem mendadak atau melewati polisi tidur.
Akhirnya motor mereka sampai di rumah milik Nita. Rumah Nita tidak besar, rumahnya hanya cukup untuk ditinggali Nita dengan adiknya. Dio memarkirkan motornya di depan rumah Nita. Terlihat adiknya Nita sangat senang menyambut kedatangan kakaknya.
"Hore...kakak bawa ayam goreng tepung…" sambut adiknya Nita dengan gembira.
Adiknya Nita kalau diperhitungkan sekarang memasuki umur 12 tahun. Dia kemudian mengambil plastik yang berisi ayam goreng tepung yang dibelikan Dio. Dia tersenyum saat melihat kedatangan Dio.
"Dia siapa kak?..." tanya adiknya Nita.
"Dia teman kakak, namanya Dio Alfino…" jawab Nita sambil melepas sepatunya. "Silahkan masuk Yo...maaf rumah gue kecil dan agak sedikit berantakan…" ucap Nita mempersilahkan Dio masuk.
Dio terkejut saat masuk ke rumah Nita, karena didalamnya tidak banyak perabotan rumah. Di ruang tamu tidak ada kursi dan meja, hanya ada tikar yang menutupi ubin putih. Meskipun begitu disana ada televisi yang diletakan diatas meja yang cukup untuk tempat televisi. Dio duduk di atas tikar yang tidak terlalu besar.
"Yo...gue ke kamar dulu ya?...gue pengen ganti pakaian…" ucap Nita pada Dio lalu beranjak pergi ke kamarnya.
Sementara adiknya Nita menyiapkan ayam goreng tepung yang dibeli Dio ke piring. Dia seperti sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Kemudian dia sudah datang membawa ayam goreng tepung tadi ke tempat Dio duduk. Dia juga membawa tiga piring lalu mencabut rice cooker yang tercolok ke listrik. Dio tersenyum melihat adiknya Nita yang sangat pintar melayaninya.
"Bang Dio ingin minum apa?" tanya adiknya Nita dengan ramah.
"Air putih aja dek…" jawab Dil sambil tersenyum
Dia lalu ke dapur membawa gelas beserta tempat air minum. Dia kemudian duduk di sebelah Dio setelah menyiapkan semuanya. Dia tersenyum melihat Dio seakan dia senang kakaknya berteman dengan Dio.
"Nama kamu siapa?..." tanya Dio dengan ramah ke adiknya Nita.
"Genta Aristian bang…" jawabnya dengan sopan. "Bang aku lihat lebih baik ketimbang orang yang sering nganter mbak Nita ke rumah…" ucap Genta dengan polos pada Dio.
"Emang orang nganterin kakak kamu pulang seperti apa?..." tanya Dio sangat penasaran.
"Dia orangnya seperti bapak-bapak, udah gitu gendut lagi…" Genta menjawab pertanyaan Dio dengan polosnya.
__ADS_1
Bersambung...