Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 34 Rapat dengan Mirhan dan Ryu


__ADS_3

"Tunggu sebentar ya?...aku bikinin kopi atau minuman dulu…sekalian aku panggilin Mirhan dan Ryu..." ucap ibu manda setelah tamu-tamunya duduk. 


Ibu manda lalu pergi ke lantai atas untuk memanggilkan muridnya dengan menaiki tangga. Cukup lama dia berada di lantai atas untuk memanggil kedua muridnya itu. Rasya dan Dicky sangat tau siapa yang susah dibangunkan.


Kemudian mereka yang dibawah terkejut mendengar suara yang sangat keras, termasuk Dio dan Nita."Woy!...Jin Botol!...bangun!..." suara itu lebih keras dibanding suara speaker untuk konser.


"Yaelah!...gak bisa apa gue tidur dengan nyenyak!..." teriak seseorang dari lantai atas. 


"Gue diminta ibu Manda bangunin lo…" jawab seseorang yang terdengar sangat ketus. "Lagian lo kalau ada urusan hari ini...malamnya jangan begadang dong…"


"Yaelah...ada apa sih mba?..." tanya orang itu dengan kesal. 


"Hari ini kita ada janji ketemu sama seseorang…" jawab seseorang yang sangat dihafal suaranya oleh Dio. 


Dia adalah Mirhan yang kemarin teleponan dengan Dio. Sementara yang berteriak pertama tadi pasti dia adalah Ryu yang dibicarakan Rasya dan Dicky sewaktu di mobil. Kemudian seorang cowok turun dari tangga. Dia terlihat sangat ramah pada Dicky dan Rasya. Anak itu terlihat sangat modis dengan pakaian anak muda di tahun itu. 


"Rasya, Dicky, lo pada datang kesini juga?..." sapa cowok itu dengan ramah. 


"Lo gak pernah berubah ya Mir?..." ucap Dicky sembari menyalami Mirhan. 


"Weh...pakaian lo tambah keren aja…" puji Rasya pada Mirhan. 


"Ah...biasa aja…" jawab Mirhan sambil tersenyum. "Oh ya...kalian pasti Dio dan Nita…" ucapnya kemudian saat melihat Dio dan Nita. 


"Oh...iya...salam kenal…" ucap Dio sambil menyalami Mirhan. 


"Kaku banget lo...santai aja lah…" goda Mirhan sambil menepuk pundak Dio agar lebih santai. Kemudian dia menyalami Nita sambil tersenyum. "Dia cewek lo Yo?..." tanya Mirhan seolah sudah akrab dengan Dio.


"Maunya sih gitu...Mir…" Dicky menjawab pertanyaan Mirhan sambil tersenyum. 


"Apaan sih Ky?..." Nita menanggapinya dengan malu. 


"Oh ya, Mir...si Jin Botol mana?..." tanya Rasya pada Mirhan kemudian. 


"Cie...sepertinya ada yang kangen nih…" ledek Mirhan menanggapi pertanyaan Rasya. 


"Gue cuma pengen liat muka tuh anak aja...setelah putus sama gue…" ucap Rasya dengan wajah memerah karena malu diledekin Mirhan. 


"Ngaku aja Sya...lo masih punya perasaan kan sama Ryu?..." tanya Dicky sambil tertawa. 


"Gak lucu, tau gak?..." Rasya terlihat kesal diledek Dicky. 

__ADS_1


"Tunggu aja bentar lagi...mungkin dia sedang memakai pakaian…" jawab Mirhan sambil sedikit tertawa. "Soalnya dia yang punya ide membuat acara ini…" tambah Mirhan menjelaskan.


Dio kemudian mengambil sebungkus rokok dan korek api dari kantong celananya. Dia kemudian mengambil sebatang rokok dari bungkus rokok. Kemudian dia menyalakan rokok itu menggunakan korek api. Mirhan tersenyum memperhatikan Dio merokok. 


"Lo juga suka merokok?..." tanya Mirhan pada Dio. 


"Kadang-kadang aja...kalau gue santai atau lagi nyiptain lagu…" jawab Dio sambil menghisap rokoknya. 


"Sepertinya lo bakalan dekat dengan si Jin Botol…" ucap Mirhan sambil tersenyum. 


"Bener juga…" seru Dicky kemudian. "Dia adalah orang yang gak pernah jauh dari rokok…" tambahnya kemudian. 


"Emang tuh anak masih merokok di kamar terus?..." tanya Rasya kemudian. "Berarti kamarnya berantakan terus dong?..." tambahnya bertanya. 


"Gak buruk amat sih…" jawab Mirhan sambil nyengir. "Cuman kalau lo masuk ke kamarnya, siapin masker aja…" dia kemudian menambahkan jawabannya. 


"Hahaha...masih gak berubah ternyata…" Rasya kemudian tertawa menertawakan mantan pacarnya. 


Kemudian turunlah seorang cowok dari lantai atas. Penampilannya jauh berbeda dibanding penampilan Mirhan. Cowok itu memakai kaos berwarna biru dengan celana jeans yang sobek di lututnya. Sementara rambutnya seperti tidak disisir. Dia berjalan sambil ngerokok lalu tersenyum pada mereka. 


"Hai bro…" sapanya pada mereka yang duduk. 


"Baru bangun sayang?...eh...maksud gue Yu…" Rasya terlihat salting melihat Ryu.


"Cie...masih manggil sayang…" ejek Mirhan sambil nyengir. 


"Apaan sih lo pada?..." tanggap Ryu terlihat sangat kesal. 


"Oh ya Yu...kenalin mereka Dio dan Nita…" ucap Mirhan pada Ryu. 


Ryu lalu menyalami Dio dan Nita sambil tersenyum ramah. Dia kemudian duduk di sebelah Mirhan yang menghadapi Dio dan Nita. Dio dan Nita terlihat memandangi Ryu dengan sangat aneh. Jelas saja karena penampilan Ryu sangat selengean. 


"Jadi gimana?..." tanya Ryu kemudian. 


"Itu yang pengen gue omongin sama lo…" jawab Mirhan lalu dia mengambil laptop dari tasnya. "Jadi berapa biasanya pembayaran kalian setiap manggung?..."


"kalau kami biasanya manggung di cafe Harmony, mendapat penghasilan dari saweran dari penonton dan pemberian manajer cafe…" jawab Dio dengan serius. 


"Soalnya kami band cafe aja…" Nita juga ikut menjawab. 


"Bukannya kalian memiliki channel Utube yang sudah besar?...pendapatan kalian dari sana sudah pasti besar dong?..." tanya Ryu sambil mematikan rokoknya ke sebuah asbak rokok yang ada di meja. 

__ADS_1


Kemudian ibu Manda datang membawakan minuman dan cemilan. Dia terlihat tersenyum melihat mereka sedang berdiskusi. Dia menaruh satu-persatu gelas di meja. Gelas itu berisi kopi susu dan cemilannya berupa kue yang dibikin sendiri oleh ibu Manda. 


"Kalian sedang rapat untuk acara di SMA ya?..." tanyanya setelah menaruh minuman dan cemilan. 


"Iya mbak…" jawab Ryu kemudian. "Oh...ya mbak...biasanya untuk pembayaran per penampilan berapa sih?..." tanyanya kemudian. 


"Tergantung sih Yu...biasanya sih diatas 10 juta per penampilan untuk band yang indie…" jawab ibu Manda yang punya teman di event organizer.


"Yaudah...gimana kalau gue bayar kalian segini?…" ucap Mirhan sembari menunjukkan nominal angka yang cukup membuat Dio dan Nita terkejut. 


"500 juta rupiah?..." tanya Nita tertegun. 


"Ini gak terlalu berlebihan bro?..." tanya Dio juga tertegun. 


"Eh...Mir...lo gimana sih?...itu gede banget bro…" ucap Ryu memarahi Mirhan. 


"Tadinya gue pengen ngasih satu miliar rupiah…" tanggap Mirhan dengan santai. 


Bukan hanya Dio dan Nita yang tercengang, bahkan si Dicky dan Rasya juga tercengang. Mereka sudah sering melihat Mirhan menghamburkan uang. Namun kali ini lebih parah dari biasanya mereka liat. Bahkan Dicky pun geleng kepala dibuatnya.


"ini anak ternyata gak berubah…" ucap Dicky yang juga menepuk jidatnya. 


"Ini sudah termasuk dengan konsumsi dan transportasi?..." tanya Dio yang sudah bisa menguasai keadaan. 


"Belum…" jawab Mirhan lalu minum kopi susu miliknya. "Nanti soal konsumsi dan transportasi biar gue yang ngatur…" tambahnya. "Kebetulan anak buah bokap gue yang ngurusin itu…" kemudian dia melengkapi penjelasannya. 


"Terus untuk panggung dan peralatan pendukung gimana?..." tanya Dio dengan sangat detail. 


"Di sekolah sudah ada alat band yang lumayan lengkap…" Ryu menjawab pertanyaan Dio. 


"Dan untuk panggung kurang lebih desainnya seperti ini…" tambah Mirhan sambil memperlihatkan desain 3D yang ada di laptopnya. 



Panggung yang didesain Mirhan.


"Keren banget…" puji Nita setelah melihat Desain Mirhan. "Ini siapa yang mendesain?..." tanyanya kemudian. 


"Itu desain buatan gue dengan usul dari Ryu…" jawab Mirhan sambil tersenyum bangga. 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2