Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 20 Ternyata Om-om itu Adalah Bos Mafia


__ADS_3

Sebelumnya:


Dio lalu memperhatikan videonya yang sedang bernyanyi dengan serius. Disana terlihat jelas Dio yang sedang bernyanyi sambil memainkan gitar. Dia kesal mendengar dirinya di masa ini bernyanyi. 


"Ini bukannya bernyanyi...ini dia sedang kesurupan…" tanpa sadar dia menghina dirinya yang ada di video itu. Rasya, Wisnu, dan Dicky tertawa mendengar komentar Dio yang jujur menghina dirinya sendiri. 


Oke...mari kita Lanjutkan…


Saat mereka sedang asyik ngobrol, tiba-tiba Dio melihat sebuah mobil yang baru sampai di kampus. Mobil itu seperti mobil yang dilihatnya saat di cafe Harmony. Mobil itu adalah mobil bermerk Rolls Royce Phantom berwarna hitam. 



Dio melihat seorang cewek yang keluar dari mobil itu. Dia keluar diiringi seorang om-om yang berpakaian sangat mewah. Dio menebak orang itu adalah seorang CEO atau Mafia. Dia sangat mengenal siapa cewek itu, dia adalah Nita. 


Dio membalikkan pandangannya dari Nita, saat ini di hati kecilnya sangat cemburu pada Nita. Namun dia harus berusaha sebisa mungkin agar dia bersikap biasa saja. Tujuannya di dunia ini bukan untuk memiliki Nita, tapi untuk menyelamatkannya. 


"Ternyata benar kata anak-anak di kampus ini ada cewek yang menjadi simpanan om-om…" ucap Rasya dengan sinis. 


"Mending kita langsung ke kelas aja yuk?..." ajak Dio pada teman-temannya yang ada disana. 


"Lo kenapa Yo?...kayak gak suka gitu Rasya bicarain cewek itu?..." tanya Dicky yang merasa aneh dengan perubahan sikap Dio. 


Dio tidak memperdulikan pertanyaan dari Dicky. Dia terus berjalan mendahului mereka disana. Wisnu, Dicky, dan Rasya terpaksa mengikuti temannya itu. 


"Lo jangan ngomongin macam-macam mengenai Nita dihadapan Dio...sebab sepertinya mereka ada hubungan khusus…" ucap Wisnu memperingatkan Rasya dan Dicky. 


"Lo serius bro?..." tanya Dicky pada Wisnu. 


"Emang hubungan mereka sampai sejauh apa?..." tanya Rasya pada Wisnu. 


"Gue sendiri gak tau...tapi gue yakin Dio ada perasaan sama Nita…" jawab Wisnu dengan serius. 


"Jujur gue gak setuju Dio deket sama tuh cewek…" ungkap Rasya tanpa memikirkan perasaan Dio yang mendengar omongan mereka. 

__ADS_1


"Mau gimana lagi Sya?...kan yang menjalaninya kan bukan lo, tapi Dio…" Dicky seakan mengerti perasaan Dio. 


Rasya hanya cemberut karena komentarnya tidak didukung oleh Dicky dan Wisnu. Sementara Dio tetap berjalan sambil berpikir keras ke kelas. Dia berusaha sebisa mungkin untuk ngelupain apa yang dia lihat barusan. 


Selama mata kuliah berlangsung Dio fokus mempelajari materi yang diberikan dosennya. Dia tidak banyak bicara seperti mahasiswa yang lainnya. Sementara Rasya merasa tidak enak karena dia membuat Dio marah tadi pagi. 


Dio sendiri tidak terlalu memikirkan omongan miring Rasya mengenai Nita. Dia beranggapan memang benar apa yang dibicarakan Rasya. Dia sama sekali tidak punya hak untuk melarang Rasya bicara seperti itu. 


Setelah mata kuliah berakhir Dio lalu membereskan bukunya yang terletak di meja. Dia lalu memasukkan buku itu ke tasnya, kemudian dia mengambil sebuah buku milik Rasya yang dia pinjam. Dia kemudian berjalan menghampiri Rasya lalu menyerahkan buku itu. 


"Makasih ya Sya…" ucap Dio sambil tersenyum pada Rasya. 


"Sama-sama…" jawab Rasya kebingungan dengan sikap Dio padanya. Dia pikir Dio dari tadi marah karena dia ngomongin Nita di hadapan Dio. "Lo gak marah sama gue?..." tanya Rasya pada Dio. 


"Ngapain gue marah sama lo?..." tanya Dio kemudian dengan datar. 


"Gue pikir lo marah...makanya selama matakuliah tadi lo diemin gue…" jawab Rasya yang mulai bisa tersenyum.


"Oh...itu...gue lagi fokus…" ungkap Dio. "Sorry ya…" ucapnya lagi lalu tersenyum. 


"Aduh...kayaknya gue ada kerjaan deh bro setelah ini…" jawab Dio dengan sangat halus menolak tawaran Dicky. 


"Kerjaan apa?..." tanya Wisnu bingung. 


"Gue janji sama orang buat ngajarin dia nyanyi…" jawab Dio lalu tersenyum. "Sorry ya?..." Dio lalu meninggalkan mereka keluar kelas lebih dulu.


Setelah itu dia memasang headsetnya lalu pura-pura memencet telepon. Dia berakting seolah-olah menelpon seseorang. Saat itu juga L muncul di hadapannya sambil tersenyum. 


"Ternyata lo udah ngerti gimana caranya agar lo gak disangka orang gila…" ucap lalu memakan apel kesukaannya.


"Lo kemana aja sih?...kok lama banget gak muncul-muncul?..." tanya Dio memarahi L. 


"Sorry bro...gue ada tugas lain…" jawab L dengan santai. "Emang ada apa?...tumben lo nyariin gue…" tanya L kemudian. 

__ADS_1


"Bentar gue ke atas dulu…" jawab Dio sambil lebih dulu berjalan ke atap kampus. 


"Oke...oke…" ucap L lalu mengikuti Dio. 


Dio setelah itu hanya diam tidak berbicara apa-apa. Dia sengaja tidak mengajak L berbicara dulu karena ini ada hubungannya dengan Nita. Dia tidak ingin ada orang yang mendengarkan pembicaraan dia dengan L. Hingga sampailah mereka berdua di atap kampus. 


"Jadi apa yang ingin lo tanyain?..." tanya L setelah mereka sampai di atap kampus. 


"Gue bisa minta tolong sesuatu?..." tanya Dio dengan serius. 


"Wah...gimana ya?..." L sambil tersenyum menggoda Dio.


"Yaudah...kalau lo gak bisa bantu…" ucap Dio berniat turun lagi meninggalkan L. 


"Hedeh...lo itu gak bisa diajak bercanda ya?..." keluh L pada Dio sambil menggigit apel. "Om-om itu adalah bos mafia…" ucapnya kemudian seakan dia tahu apa yang ingin Ditanyakan oleh Dio. 


"Dari mana lo tau gue pengen nanyain itu?..." tanya Dio kebingungan. 


"Kan gue malaikat...gue bisa tau lah isi kepala lo…" jawab L dengan santainya. "Lo masih kepikiran mengenai Nita dan tuh om-om?..." tanya L sambil menatap Dio. "Atau lo cemburu liat Nita sama tuh om-om?..." pertanyaan kedua ini membuat Dio kembali terkejut. "Gue malaikat...jadi gue tau apa yang lo pikirin…" L menjawab dengan cepat apa yang terbesit di kepala Dio.


"Sial...sepertinya gue gak bisa bohong di hadapan lo…" keluh Dio sangat khawatir.


"Ngapain lo bohong sama malaikat pendamping lo?..." tanya L dengan santai. 


"Jadi gue gak bisa nutupin apapun dari lo?..." tanya Dio pada L. 


"Secara simpelnya informasi dari otak lo sudah terkirim ke gue...tugas gue pengen dengerin atau pengen gue hapus…" jawab L sambil menghabiskan apelnya. "Makanya gak semuanya yang sempat gue baca. "Lo ingat...hubungan lo sama Nita gak boleh sampai pacaran, kalau itu terjadi lo gak bakalan bisa nyelamatin Nita…" tambah L kemudian. 


"Lo pikir gampang nyembunyiin perasaan?...cape dan menyakitkan bro…" ungkap Dio sangat kesal. 


"Mending mana?...memiliki tapi ditinggalkan dengan tragis atau membiarkan dia menjadi kekasih orang lain?..." tanya L sambil menatap mata Dio. 


"Target gue tetap sama...gue pengen nyelamatin nyawa Nita…" jawab Dio dengan mantap. 

__ADS_1


Bersambung... 


__ADS_2