
Dio baru saja bangun dari tidurnya. Tadinya dia ingin bersantai di balkon atas untuk menikmati udara segar sambil merokok. Dia terkejut saat melihat sebuah mobil Alphard terparkir di depan kos.
"Ah...paling tetangga dari rumah kos ini yang numpang parkir…" ucap Dio berasumsi.
Kemudian dia pergi ke dapur untuk membuat kopi hitam manis. Kemudian dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun dia tidak tahu apa yang mengganjal dalam pikirannya.
Setelah membuat kopi dia lalu kembali ke balkon kos. Kemudian dia mengambil gitarnya untuk mengiringi dia yang bernyanyi. Namun perasaan ada yang tidak beres itu semakin mengganggu pikirannya.
"Apaan dah?..." keluh Dio kemudian.
"Pagi bro…" ucap L mengejutkannya.
"Hah!..." Dio dengan terkejut. Lo bisa gak usah ngagetin orang?..." tanyanya dengan kesal.
"Sorry bro…" jawab L sambil tersenyum. "Wih...mobil di depan keren juga…mobil siapa?..." pujinya dengan tersenyum.
"Paling mobil tetangga di daerah sini…" jawab Dio sambil minum kopi hitamnya.
"Gue denger lo dapat tawaran tampil di SMA Flower Garden ya?..." tanya L kemudian sambil menggigit apel.
"Lo tau dari mana?..." tanya Dio dengan lugunya.
"Gue malaikat...ya iyalah gue tau…" jawab L sambil kembali menggigit apelnya.
"Oh iya...gue lupa…" ucap Dio sambil tersenyum
"Sepertinya yang ngontrak lo adalah anak sultan…" ucap L berkomentar.
"Kata Dicky sih gitu...awalnya gue gak percaya...sampai gue liat isi cek yang dia beri buat kami kemaren...baru gue yakin ini anak memang anak sultan…" ungkap Dio menjelaskan. "Udah gitu tadi malam dia nyawer gue sampai 5 juta rupiah lagi…" tambahnya menjelaskan.
"Wah...mantap tuh bro...traktir lah…" pinta L sambil tersenyum.
"Lo nya aja ngilang-ngilang mulu...gimana gue mau traktir?..." Dio lalu minum kopi hitamnya.
"Ya...kapan kek…" jawab L kemudian. "Lagian kerjaan gue sekarang ribet...harus ngejaga dua orang yang gak pernah akur…" ucap L sedikit curhat.
"Jadi gue terus gimana?..." tanya Dio kemudian.
__ADS_1
"Selama lo tetap jaga jarak sama Nita sih...gue pikir gak bakalan jadi masalah…" jawab L dengan tersenyum.
"Susah bro...sekarang dia malah minta bareng sama gue terus kalau mau kemana-mana…" keluh Dio lalu menyalakan rokoknya.
"Gue cuman mau bilang...bakalan ada sesuatu yang baik buat lo dan Nita…" ungkap L yang tiba-tiba ada segelas kopi hitam di tangannya.
"Lo dapat tuh kopi dari mana?...perasaan lo gak bikin deh tadi…" tanya Dio kebingungan melihat segelas kopi hitam di tangan L.
"Kan…gue malaikat...gampang lah buat gue…" ucap L kembali mengulang jawabannya sebelumnya.
"Hedeh...lo jangan sering-sering ngelakuin hal aneh deh...sebab lo itu sekarang bisa dilihat orang…entar kalau lo ketahuan kayak gitu...jawaban lo gimana?..." Dio memarahi L.
"Tinggal gue bilang aja bisa sulap...simple kan?..." L menjawab sambil minum kopi. "Gue cabut dulu ya?..." dia lalu menghidangkan kopi yang ada di tangannya.
"Mau kemana lagi lo?..." tanya Dio agak kesal karena L selalu ngilang.
"Biasa...ada kerjaan lagi…" jawab L sambil tersenyum.
"Lo untuk ukuran malaikat cukup sibuk juga ya?..." Dio bertanya yang pada dasarnya adalah pujian.
"Tau nih...bos gue ngasih kerjaannya banyak banget…" jawab L kemudian. Bos dalam artian L adalah tuhan atau dewa.
"Sebelum lo ngilang...kunci dulu kamar lo dan lo bawa tuh kuncinya…" Dio kemudian mengingatkan.
"Hedeh...gue gak mau ya?...selalu ngunciin kamar yang lo tinggalin…" Dio ngomel-ngomel ke L.
Ternyata L sudah tidak ada lagi disana saat Dio sedang bicara. Itu cukup membuat dia sangat kesal karena tidak didengarkan. Kemudian Dio melihat matahari pagi yang mulai terang.
Tanpa disadari oleh Dio ternyata Nita sudah ada disana. Dia memandang Dio dengan sangat perhatian. Nita saat ini mulai merasa perasaannya ke Dio semakin dalam. Sementara Dio sendiri hanya berpikir bagaimana caranya agar Nita menjauhinya.
"Untuk ukuran cowok lo gak malas ya bangun pagi…" puji Nita sambil tersenyum.
"Oh...lo…" tanggap Dio dengan acuh.
"Lo bisa gak sih...jangan mengacuhkan gue?..." pinta Nita lalu duduk di dekat Dio.
"Siapa yang mengacuhkan lo?...gue hanya kebetulan gak mood aja…" jawab Dio yang masih acuh.
"Kenapa lo kayak dingin gitu kalau dekat gue?..." tanya Nita lagi sambil menatap Dio.
__ADS_1
Mata mereka saling bertemu membuat keadaan ini semakin canggung. Dio seolah tidak bisa menjawab pertanyaan Nita. Saat ini di dalam hati Dio hanya bagaimana nyelamatin Nita. Dia berusaha agar Nita membencinya, tapi apa yang terjadi malah membuat Nita semakin dekat dengan Dio.
"Dingin?...dingin gimana?...perasaan gue biasa aja deh…" Dio berusaha menyangkal apa yang diucapkan Nita.
"Hem...yaudah deh...gue gak pengen berdebat dengan lo…" Nita lalu melihat ke bawah yang memperlihatkan sebuah mobil yang terparkir di depan kos. "Perasaan gue pernah liat tuh mobil deh…" ungkapnya kemudian.
"Mobil merek itu dan warna itu banyak di jalan...ya jelas lah lo pernah liat…" tanggap Dio sambil menghisap rokoknya.
"Apa iya?..." Nita mempertanyakan tanggapan Dio.
"Ya iya lah...itu Mirhan aja...juga punya tuh mobil…" jawab Dio tanpa sengaja dia memberitahukan sesuatu yang membuat Nita mengingat sesuatu.
"Oh...iya…mobil Alphard itu pernah gue liat di asrama Flower Garden…" ungkap Nita bersemangat.
"Seriusan?..." tanya Dio cukup terkejut mendengar jawaban Nita. "Apa Jangan-jangan mobil itu milik-" belum sempat dia melanjutkan omongannya, tiba-tiba handphone Dio yang diletakkannya di kamarnya berbunyi.
Dio lalu meletakkan gitarnya di lantai balkon kos. Dia lalu berjalan ke kamarnya untuk melihat siapa yang menelponnya pagi-pagi. Sesampainya di kamarnya, dia langsung mengambil handphonenya. Disana tertulis Mirhan sedang menelponnya.
"Ngapain ini anak nelpon gue pagi-pagi?..." tanya Dio sambil mengangkat teleponnya. "Halo…"
"Halo bro...lagi apa lo?..." tanya Mirhan kemudian.
"Gue lagi santai bareng Nita di balkon…" jawab Dio sambil berjalan ke balkon kembali.
"Berarti lo liat dong?..." tanya Mirhan penuh misteri.
"Liat apaan?..." tanya Dio yang terlihat bingung.
"Ya...mobil Alphard…" jawab Mirhan dengan santai.
"Mobil Alphard?..." tanya Dio dengan terkejut.
"Iya...sudah diparkir di depan kos lo kan?..." tanya Mirhan terdengar sambil sedikit tertawa.
"Itu mobil lo yang kirim?..." tanha Dio terlihat bingung.
"Ya...iya lah…" jawab Mirhan kemudian.
"Ngapain lo kirim tuh mobil ke kos gue?..." tanya Dio terlihat sekali dia bingung.
__ADS_1
"Itu mobil buat transportasi lo dari kos ke SMA Flower Garden…" jawab Mirhan dengan santai. "Bensinnya full kok...jadi lo gak perlu ngisi lagi…"
Bersambung...