
Siang harinya The Line sedang berlatih di atas panggung. Mereka mulai memainkan beberapa lagu yang sering mereka mainkan di cafe Harmony. Ada juga beberapa lagu yang diciptakan oleh Dio dan Anton.
Mereka berlatih untuk mengatur blocking di panggung. Ternyata panggung yang mereka pakai untuk tampil sangat besar. Terlihat sekali Mirhan bekerja sangat keras untuk mendesain panggung ini. Setting lampu yang diprogram oleh Heri terlihat sangat indah mengiringi setiap musik yang dimainkan oleh Dio dan teman-temannya.
"Sekarang kita cek sound…" ucap Dio memberi arahan pada temannya.
"Sip…" tanggap Anton lalu memulai bermain gitar.
Mereka mengecek sound dengan cara ngejam bareng di atas panggung. Mereka bermain musik tanpa terpatok pada lagu tertentu. Pokoknya mereka bermain dengan menunjukkan skill mereka.
"Soundnya masih rendah…" ucap Anton memberi arahan pada bagian sound system.
Saat ini Anton sedang memainkan beberapa melodi dengan gitarnya. Dia lalu memberikan jempol saat dia rasa soundnya sudah pas. Dia mulai bermain ritem kembali untuk menemani anggota bandnya yang lain mengecek sound alat musik mereka.
Kali ini Kelvin yang mulai show up bermain melodi dengan bassnya. Dia memainkan beberapa teknik bermain bass. Mulai dari Slep sampai popping, itu cukup membuat semua penonton yang menyaksikan mereka berlatih bertepuk tangan. Kelvin menunjukkan jempol untuk memberi isyarat bahwa soundnya sudah sesuai.
Kali ini giliran Abel yang mulai show up di dalam latihan ini. Dia menunjukkan beberapa tekniknya bermain drum. Meskipun dia adalah seorang cewek, tapi dia terlihat sangat jago bermain drum. Dia menunjukkan skill-skill yang sering ditunjukkan saat tampil di festival band. Penonton bersorak dengan riuh melihat penampilan Abel. Bahkan banyak cowok yang berteriak meneriakan namanya.
Sekarang giliran Nita yang show up ke depan. Dia bermain dengan beberapa teknik bermain gitar dengan sangat luar biasa. Bahkan dia menambahkan beberapa efek gitarnya. Itu cukup membuat penonton bersorak menikmati permainan gitar yang ditunjukkan Nita.
Hingga saat yang sangat ditunggu-tunggu oleh Dio. Dia juga tidak mau kalah dengan teman-temannya. Dia juga ingin show up skillnya bermain gitar. Yang membuat penonton terkejut adalah dia melakukan tapping dengan gitarnya. Jarang sekali gitaris yang bermain seperti itu. Hingga ditutup dengan permainan ritem yang sangat indah.
Seluruh penonton merasa beruntung bisa melihat The Line berlatih di atas panggung pada siang ini. Mereka seperti melihat konser yang seharusnya mereka lihat nanti malam. Sampai akhirnya The Line menyelesaikan latihan mereka pada siang itu.
"Lagi!...lagi!...lagi!..." teriak penonton dengan riuh.
Sepertinya mereka masih tidak puas melihat The Line berlatih. "Terima kasih teman-teman...sudah menemani kami berlatih pada siang ini…" ucap Dio menyapa penonton. "Kami berjanji nanti malam akan memberikan penampilan yang terbaik…" ucapnya menambahkan.
"Sama-sama!…" jawab salah seorang penonton.
"Jangan lupa ya?...nanti malam menonton penampilan kami…" pinta Nita sambil tersenyum ramah.
"Iya Nita!..." jawab penonton berteriak.
__ADS_1
Kemudian mereka semua turun dari atas panggung. Setelah mereka turun langsung disambut oleh Mirhan dan Ryu. Mereka berdua tersenyum puas dengan apa yang The Line tampilkan.
"Itu tadi adalah penampilan yang sangat luar biasa…" ucap Ryu terlihat sangat bersemangat.
***
Setelah itu mereka beristirahat sebentar di asrama Flower Garden. Yang tidak ikut beristirahat hanya Dio dan Anton. Mereka masih berbicara mengenai bagaimana rencana penampilan mereka nanti malam. Ryu dan Mirhan ikut mendengarkan dengan serius. Dio ingin menunjukan yang terbaik pada malam hari ini. Semua ini dikarenakan beban yang Mirhan berikan padanya, sebab telah membayar mereka dengan bayaran yang sangat mahal.
"Apakah kalian sudah memiliki manajer?..." tanya Mirhan kemudian sambil minum cola.
"Gak...kami gak punya manajer…" jawab Anton dengan jujur.
"Sebenarnya gue pengen menggaet seseorang menjadi manajer kami…" ungkap Dio kemudian sudah tahu siapa yang pantas untuk manajer mereka.
"Siapa?..." tanya Mirhan penasaran.
"Tapi belum gue tanyain sama orangnya dan lagi...gue belum ngebicarain ini sama anak-anak…" jawab Dio semakin membuat Mirhan dan Anton penasaran.
"Kalau bisa secepatnya lo omongin…" saran Mirhan sambil tersenyum.
"Gue pengen ngenalin kalian pada seseorang produser…" jawab Mirhan sambil tersenyum.
"Produser!..." tanya Dio dan Anton beriringan karena terkejut.
"Gue mengenalnya saat gue ngebantu desain panggung untuk konser salah satu band dari produser ini…" jawab Mirhan dengan santai.
Nita, Abel, dan Kelvin yang tadinya istirahat, menjadi terbangun gara-gara suara dari Dio dan Anton. "Ada apa sih?..." tanya Nita yang sambil mengucek matanya.
"Iya nih...berisik amar dah…" ucap Kelvin sambil menguap.
"Please deh...gue pengen istirahat…" ucap Abel yang sudah mulai sayu.
"Gue ingin memperkenalkan kalian pada produser rekaman…" jawab Mirhan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Seriusan Mir?..." tanya Kelvin yang matanya langsung seger mendengar jawaban Mirhan.
"Lo...lo gak bercanda kan Mir?..." tanya Nita seolah tidak percaya.
"Lo mau ngerjain gue kami ya?..." tanya Abel penuh curiga.
"Gue serius...sebentar lagi beliau mungkin akan datang…" jawab Mirhan pada mereka.
Mirhan terlihat sangat serius dengan semua yang dia ucapkan. Itu cukup membuat mereka percaya pada Mirhan. Terlihat wajah kebahagiaan dari seluruh anggota band. Dio sebenarnya juga senang mendengar berita dari Mirhan, tapi dia masih memikirkan mafia yang sedang mengejar Nita.
Inilah yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Anton, Nita, Kelvin, dan Abel. Mereka bermimpi menjadi band yang memiliki album sendiri. mereka tidak perlu minder lagi disindir sebagai band yang terkenal hanya karena mengcover lagu orang lain.
“Tapi kita perlu manajer untuk band kita…" ucap Dio kemudian menjelaskan. "Lo pada punya saran?..." tanyanya kemudian.
"Jadi itu masalahnya?..." tanya Nita yang sekarang terdiam.
Dia berpikir siapakah yang layak menjadi manajer mereka. Begitu juga Abel dan Kelvin juga memikirkan orang yang dia kenal. Anton sendiri juga tidak memiliki orang yang layak menjadi manajer mereka.
"Gue gak punya orang yang layak menjadi manajer kita…" jawab Kelvin terlihat lesu.
"Gue juga gak punya…" jawab Abel yang terlihat pasrah.
"Kalau gue sih punya kandidat yang cocok, tapi gue belum nanya langsung ke dia…" ungkap Dio kemudian. "Gue perlu persetujuan dari lo pada dulu…" tambahnya kemudian.
"Siapa Yo?..." tanya Nita sangat penasaran.
"Mbak Dara…" jawab Dio singkat.
"Mbak Dara?..." tanya Nita terkejut.
Dia tidak menyangka Dio akan menyarankan mbak Dara menjadi manajer mereka. Mbak Dara yang dia tau hanya seorang penjaga kos mereka. Nita sedikit menyangsikan usul dari Dio, tapi Dio terlihat sangat yakin sekali.
"Gue tau lo ragu dengan ide gue...tapi menurut gue...orang yang layak menjadi manajer harus orang yang bisa dipercaya dan mampu dalam bidang itu…" ucap Dio berpendapat. "Dan perlu lo pada ketahui...mbak Dara pernah bekerja sebagai tim kreatif dari sebuah televisi ternama...gue yakin dia pasti mampu menerima pekerjaan ini…"
__ADS_1
Bersambung...