
Terlihat Gio sedang mengajak pengunjung cafe untuk ngobrol. Dia berjalan ke kiri dan ke kanan untuk melihat semua penonton yang ada disana. Dio saat itu terasa gatal juga karena ingin bernyanyi di atas panggung. Namun dia hanya bisa menunggu sampai diizinkan untuk bernyanyi disana.
"Terima kasih...buat teman-teman yang sudah datang kesini…" ucap Gio sambil tersenyum. "Disini ada yang datang bareng pacar?" tanyanya kemudian.
"Ada!..." jawab penonton riuh.
"Ada yang datang dengan istrinya?..." tanya Gio sekali lagi.
"Ada!..." jawab penonton lebih riuh.
"Ada yang datang sama istri dan pacarnya?..." tanya Gio sedikit bercanda.
"Ada!..." jawab seorang bapak di ujung.
"Ho!..." seru penonton yang lain seolah mengejek bapak itu.
"Yang penting bisa adil, iya kan pak?..." tanya Gio berusaha mencairkan suasana.
Semua penonton tertawa puas mendengar ucapan Gio termasuk Dio. Dia lalu menghisap rokoknya lalu menghembuskannya. Setelah itu Gio berbicara mengenai hal-hal yang tidak terlalu diikuti oleh Dio. Saat itu juga Nita datang membawakan pesanan yang dipesan oleh Wisnu dan Dio.
"Jadi siapa yang ikut gabung sama kita bernyanyi disini?..." tanya Gio bersemangat. Tanpa pikir panjang Dio langsung mengacungkan tangan. "Ya...mas yang mengacungkan tangan...silahkan naik…" ucap Gio menunjuk ke arah Dio.
"Lo seriusan pengen tampil?..." tanya Wisnu sambil menarik Dio.
"Emang kenapa?..." tanya Dio kemudian.
"Suara lo kan gak enak, ditambah lagi lo kan demam panggung…" jawab Wisnu mengingatkan Dio.
"Santai aja kali...lagian gue sudah sering kok tampil…" jawab Dio dengan tersenyum.
Dia lalu meninggalkan Wisnu dan Nita yang melongo mendengar jawabannya. Dia berjalan dengan mantap menuju panggung cafe. Penonton melihat Dio dengan sinis, tapi mereka juga penasaran dengan apa yang akan ditampilkan Dio.
"Hai bro…" sapa Gio sambil menyalami Dio. Dengan santai Dio menyambut salaman dari Gio. "Nama lo siapa bro?..." tanya Gio sambil memberikan mic pada Dio.
"Dio Alfino…" Semua penonton bertepuk tangan mendengar Dio mengucapkan namanya.
"Wah...kok nama lo berdua hampir sama ya?...yang satu Gio...dan yang satu lagi Dio…" tanya Anton mencoba melawak.
"Mungkin kita saudara yang tertukar kali?..." jawab Dio sambil tersenyum menyambut candaan Anton.
"Dia lebih jago dari lo bro…" ucap Anton mengejek temannya.
"Hedeh…" keluh Gio mendengar ejekan Anton. "Jadi lo mau nyanyi lagu apa bro?..." tanyanya kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Gue bawain lagu sendiri boleh?..." tanya Dio pada mereka berdua.
__ADS_1
"Waduh…" ucap Anton bingung, sebab dia tidak tau kunci apa yang bakalan dimainkan untuk mengiringi lagu milik Dio.
"Em...mending gini aja...gue minjam gitar lo boleh?..." tanya Dio kemudian.
"Tapi jangan dibawa pulang ya?..." pinta Anton sambil melepas gitar dari badannya. Kemudian Anton menyerahkan gitar itu pada Dio.
"Santai bro…" jawab Dio lalu menerima gitar yang diberikan Anton. Dia kemudian memakainya dan mengecek semua senar. Penonton bertepuk tangan saat mendengar Dio memainkan melodi. "Ini gitar berapa duit kalau dijual?..." tanya Dio sedikit bercanda.
"Sialan lo…" ucap Anton menanggapi candaan Dio.
Terlihat wajah Wisnu pucat karena takut kalau-kalau temannya ini akan membuat malu di atas panggung. Sementara Nita setelah meletakkan minuman dan makanan yang dipesan Wisnu dan Dio, langsung menonton Dio yang berdiri di atas panggung. Dia menantikan apa lagu yang akan dinyanyikan Dio.
🎸Dio kemudian mulai memetik gitar dia mengalunkan nada pembuka🎸. "🎤Sudahlah…
Jangan kau...menangis...lagi…
Menyesali...semua yang...tlah terjadi…
Sudahlah…
Aku yang akan...pergi…
Membawa...rasa sakit...hatiku…ini…
Setia...ku…
Ternyata...dibelakangku…
Kau duakan cintaku…
Apa…daya…
Mungkin aku...tak sempurna…
Untuk kau...jadikan aku…
Satu-satunya...🎤." itulah beberapa lirik lagu yang dinyanyikan oleh Dio.
Semua orang merasa terbawa dengan lagu itu. Mereka seakan merasakan perasan Dio yang menyanyikannya. Bahkan bukan hanya penonton yang merasakannya, tapi Wisnu dan Nita juga merasakan.
Nita bahkan kembali merasa Dejavu saat Dio menyanyikan lagu itu. Dia seakan melihat waktu Dio menyanyikan lagu itu pertama kali padanya. Dia seperti merasakan senangnya perasaan Nita pacarnya Dio.
Begitupun Dio juga merasa Dejavu saat menyanyikan lagu itu. Entah kenapa penghayatannya di lagu ini lebih dalam dari sebelumnya. Itu membuat seluruh penonton juga ikut menangis. Anton dan Gio terdiam melihat Dio menyanyikan lagu itu.
Penonton serentak bertepuk tangan saat Dio menyelesaikan lagunya. Begitu juga Anton dan Gio juga ikut bertepuk tangan. Sementara Nita terdiam tidak bisa bergerak sama sekali. Wisnu takjub parah mendengar dan melihat penampilan Dio yang bisa dibilang sempurna.
__ADS_1
"Gila!...itu keren banget bro…" puji Gio pada Dio.
"Dan permainan gitar lo itu, termasuk yang paling susah, bahkan gue sendiri gak bisa mainnya…" Anton juga ikut memuji Dio.
"Biasa aja bro…" jawab Dio sambil tersenyum.
"Entar setelah ini, lo jangan balik dulu ya?..." ucap Anton sambil berbisik pada Dio.
"Emangnya kenapa bro?..." tanya Dio kebingungan sambil berbisik.
"Entar gue ceritain sama lo…" jawab Gio sambil menepuk pundak Dio.
"Oke…gue tungguin…" ucap Dio sambil melepaskan gitar yang dia pakai lalu mengembalikannya pada Anton.
"Tepuk tangan yang meriah pada teman kita...Dio Alfino…" seru Gio pada penonton.
Sementara Dio menunduk untuk menghormat pada penonton. Dia tersenyum puas atas penampilannya. Dia langsung berjalan menuruni panggung. Semua penonton bertepuk tangan atas penampilan Dio barusan. Dia kemudian duduk dibangkunya yang sudah ada makanan dan minuman yang dia pesan dengan Wisnu.
"Suara lo bagus banget…" puji Nita sambil tersenyum. "Dan lagu yang lo nyanyiin itu beneran lagu yang lo buat?" tanya Nita lagi.
"Iya...memangnya kenapa?..." tanya Dio sambil meminum cola yang dibawakan Nita.
"Gak...kok lo kayak pernah dengar…" ungkap Nita seperti sedang berpikir. "Gue kayak pernah dengar...tapi dimana ya?" tanyanya kemudian. "Tapi sudahlah...mungkin perasaan gue aja kali…" ucap Nita lalu pergi meninggalkan mereka.
"Lo sejak kapan bisa bernyanyi sebagus itu?" tanya Wisnu terlihat penasaran.
"Sejak gue SMA…" jawab Dio dengan jujur.
"Terus suara fals lo yang kemaren itu apa?..." tanya Wisnu sedikit kesal. "Lo cuman pura-pura...atau gimana?..." dia bertanya lagi.
"Fals yang mana sih?..." tanya Dio terlihat tidak mengerti.
"Selama ini suara lo fals bangey nyet…" ucap Wisnu menceritakan. "Sebenarnya lo beneran Dio yang gue kenal gak sih?..."
"Menurut lo gue Dio yang lo kenal gak?..." tanya Dio sambil menatap Wisnu sambil tersenyum.
"Kalau gue liat...masih Dio yang sama sih…" jawab Wisnu agak ragu.
Kemudian Gio dan Anton turun dari atas panggung cafe. Dia langsung saja berjalan menghampiri meja Dio dan Wisnu. "Yo…" sapa Gio pada Dio. "Kami boleh gabung gak?..." tanyanya lagi.
"Silahkan…" ucap Wisnu mempersilahkan.
Gio dan Anton mengambil bangku dari meja lain mendempetkan ke meja Wisnu dan Dio. Kemudian mereka duduk di bangku yang mereka ambil. Gio mulai menyalakan sebatang rokok.
"Oh ya…Gio, Anton...kenalin temen gue Wisnu…" ucap Dio memperkenalkan Wisnu pada Gio dan Anton. Mereka berdua saling bersalaman sambil memperkenalkan nama.
__ADS_1
"Jadi gini Yo...lo kalau gue ajakin tampil bareng gue di cafe Harmony, bisa gak?" tanya Anton pada Dio dengan serius.
Bersambung...