Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 15 Pelukan Hangat dari Nita


__ADS_3

Sebelumnya… 


"Nama kamu siapa?..." tanya Dio dengan ramah ke adiknya Nita. 


"Genta Aristian bang…" jawabnya dengan sopan. "Bang aku lihat lebih baik ketimbang orang yang sering nganter mbak Nita ke rumah…" ucap Genta dengan polos pada Dio. 


"Emang orang nganterin kakak kamu pulang seperti apa?..." tanya Dio sangat penasaran. 


"Dia orangnya seperti bapak-bapak, udah gitu gendut lagi…" Genta menjawab pertanyaan Dio dengan polosnya. 


Bersambung... 


Oke...ayo kita Lanjut…


Dio terkejut mendengar penjelasan Genta mengenai bapak-bapak yang menjemput Nita. Dia kembali teringat dengan gosip yang beredar di kampus, jangan-jangan cewek yang jalan sama om-om itu adalah Nita. Dia pikir dia sangat mengenal Nita di dunia ini dan di waktu ini, ternyata masih banyak yang tidak diketahuinya mengenai Nita. 


Tidak lama kemudian Nita keluar dari kamarnya memakai tanktop dan celana pendek. Dio tidak terlalu memperhatikan pakaian yang dipakai Nita. Itu cukup membuat Nita merasa kecewa dengan sikap Dio. Sebenarnya Dio sangat terpana melihat pakaian Nita saat ini, tapi berusaha sekuat tenaga untuk terlihat biasa saja melihat Nita. 


Mereka kemudian makan bersama memakan nasi dan lauk ayam goreng tepung. Memang menu mereka saat ini sangat sederhana, tapi bagi Nita dan Genta makanan ini adalah makanan terenak yang mereka makan. Dio terlihat sangat senang melihat senyuman dari Nita dan Genta saat memakannya. 


Setelah makan mereka kemudian membereskan piring dan gelas. Dio ikut ngebantuin Nita memcuci piring dan gelas. Genta sangat senang melihat kakaknya dekat dengan Dio. 


"Apa itu bang?..." tanya Genta sambil menunjuk ke arah tas gitar yang tadi digendong Dio. 


"Itu gitar listrik yang tadi kakak mainkan saat tampil…" jawab Dio sambil tersenyum. 


"Bisa kakak mainin?...aku pengen dengar…" pinta Genta pada Dio. 


Setelah itu mereka kembali duduk di ruang tamu. Dio kemudian membuka tas gitar yang dipinjamkan oleh Gio untuknya dan Nita. Dia mengambil sebuah gitar listrik berwarna biru. 

__ADS_1


Dia berusaha memainkannya tanpa mencolokkan ke listrik. Meski suaranya tidak terlalu kedengaran, dia berusaha memainkannya dengan semaksimal mungkin. 


Genta terlihat sangat senang melihat Dio bermain gitar itu di depannya. "Dulu mbak Nita senang bermain gitar di rumah, tapi karena kekurangan uang...akhirnya mbak Nita menjualnya…" ucap Dio sambil mendengarkan Dio bermain gitar. "Padahal mbak Nita juga jago bermain gitar…" jelas saja dia sangat bangga pada kakaknya. "Tali mbak Nita jelek kalau nyanyi…" ledeknya sambil nyengir ke Nita. 


"Apa lo bilang?...jelek?..." ucap Nita sambil menggelitiki adiknya. 


"Ampun mbak!...ampun!..." ucap Genta minta ampun karena tidak tahan digelitik Nita. 


Sementara Dio tersenyum melihat keakraban antara Nita dan adiknya. Dia senang melihat senyum dan tawa dari mereka berdua. Dia ingin senyuman ini bertahan untuk selamanya.


Namun semua itu seakan tiba-tiba menghilang saat handphone Nita berbunyi. Itu adalah sebuah panggilan telepon dari seseorang. Dia kemudian melihat handphonenya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya. Setelah dia tau siapa yang menghubunginya, kemudian meletakkan handphonenya begitu saja di lantai. 


"Dari siapa?..." tanya Dio dengan sangat penasaran. 


"Dari teman gue…" jawab Nita tapi dia terlihat kesal. 


"Angkat aja...kali aja penting…" ucap Dio memberi saran. 


Kemudian masuk sebuah pesan chat beberapa kali. Dengan sangat terpaksa dia membaca isinya. Dio melihat suasana hati Nita berubah dari yang tadi ceria menjadi penuh emosi. 


"Bentar ya Yo?...gue tinggal sebentar…" ucap Nita lalu membawa handphonenya ke kamar. 


Dia lalu menutup pintu kamarnya dengan sangat keras. Dio tidak tau pasti apa yang sedang terjadi pada Nita. Yang dia tau saat ini Nita sedang ada masalah yang sangat besar. 


"Itu pasti om yang sering jemput mbak Nita…" ucap Genta menjelaskan pada Dio. "Setiap mbak Nita pulang dengan om itu, dia pasti menangis di kamar…" 


"Lo gak nanya kenapa?..." tanya Dio pada Genta. 


"Mbak Nita selalu berpura-pura baik-baik saja kalau di hadapan Genta…" jawab Genta yang juga peduli pada kakaknya. 

__ADS_1


"Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan lo sayang?..." tanya Dio dari dalam hatinya pada Nita. 


"Bang Dio jangan pulang dulu ya?..." pinta Genta dengan penuh harap. "Genta khawatir dengan keadaan mbak saat ini…"


Dio kemudian mengusap kepala Genta sambil tersenyum. "Iya...gue akan melindungi mbak lo apapun yang terjadi…" jawab Dio dengan tersenyum berusaha menenangkan Genta. 


"Makasih banyak ya bang?..." Genta lalu memeluk Dio seperti seorang adik yang memeluk kakaknya. 


Dio berusaha sebisanya untuk menyemangati genta. "Gak apa-apa...lo harus kuat...suatu saat lo yang melindungi kakak lo…" ucap Dio sambil menyemangati Genta yang terlihat sedih. 


Diluar kamar Dio mendengar suara Nita yang sedang marah-marah. Dia tau saat ini Nita sedang beradu mulut dengan orang yang menelponnya. Cukup lama suara makian dari Nita pada orang itu. Hingga akhirnya semuanya diakhiri dengan suara tangisan dari Nita. 


Sebenarnya saat ini Dio sangat ingin memeluk Nita, tapi seakan ada sesuatu yang menahannya buat ngelakuin itu. Dia teringat dengan perjanjian antara dia dan L. Dia jangan sampai berpacaran dengan Nita, kalau itu sampai terjadi, apa yang dia lakukan saat ini akan sia-sia.


Dia mulai mencari cara agar bisa menenangkan Nita, tanpa harus berkontak langsung dengannya. Kemudian dia melirik gitar yang tadi dimainkan olehnya. Dia lalu mengambilnya dan mulai memetik senar gitarnya. 


Dia memainkan sebuah lagu yaitu Untuk Perempuan dari Sheila On 7. Dia berusaha nada gitar itu terdengar sampai ke kamar Nita. Dia menyanyikan setiap lirik dengan sangat menghayati. Dia sangat berharap pesan yang disampaikan lewat lagu yang dinyanyikannya sampai ke hati Nita. 


Genta memperhatikan Dio bernyanyi dengan serius. Dia terlihat sangat kagum dengan suara dan alunan gitar yang dimainkan oleh Dio. Hingga akhirnya Nita keluar dari kamarnya lalu menatap Dio yang sedang bernyanyi untuknya. 


Nita merasa sangat damai mendengarkan setiap nyanyian dari Dio. Dia merasakan damai saat mendengarkan seseorang yang bernyanyi untuknya. Tanpa sadar dia seperti melihat gambaran tentang kehidupan Dio bersamanya. Ini adalah ingatan Dio saat menyanyikan sebuah lagu untuk Nita. 


Mata Nita terpejam mencoba meresapi setiap lirik lagu itu. Dia mencoba menikmatinya dengan terbuka. Dia merasa sudah lama mengenal Dio di hidupnya


Hingga saat Dio menyelesaikan lagunya Nita menatap Dio sambil tersenyum. Dia benar-benar merasa kehidupannya akan menjadi lebih baik setelah ini. Dia mulai berjalan mendekat ke arah Dio. Kemudian dia berlutut di depan Dio yang sedang duduk. Saat Dio menepikan gitarnya ke samping, Nita langsung memeluk Dio dengan sangat erat. 


"Please jangan larang gue buat meluk lo…" pinta Nita dalam pelukannya pada Dio. Sementara Dio hanya terdiam menerima sebuah pelukan hangat dari Nita. 


"Nit...adik lo ngeliatin lo sekarang…" ucap Dio dalam pelukan Nita. 

__ADS_1


"Bodo amat...pokoknya gue pengen meluk lo…" ucap Nita sangat keras kepala. 


Bersambung…


__ADS_2