Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 35 Genta Menghilang


__ADS_3

"Halo...Ton…" ucap Dio setelah teleponnya tersambung pada Anton. 


"Iya...ada apa Yo?..." tanya Anton lewat sambungan telepon. 


"Gue baru aja ketemu dengan Mirhan," ucap Dio kemudian. 


"Iya...jadi gimana kata tuh anak?..." tanya Anton penasaran. 


"Kami sudah membicarakan masalah pembayaran kita buat tampil…" jawab Dio sambil duduk bersandar di belakang mobil. 


"Berapa dia mau ngasih?..." tanya Anton terdengar sangat penasaran. 


"500 juta rupiah bro…" jawab Dio dengan bersemangat. 


"Lo seriusan!..." teriak Anton sangat keras. "Itu mah buat penampilan band yang sangat terkenal bro…" 


"Iya...gue tau...tapi dia sendiri yang pengen ngasih…" ucap Dio menanggapi keterkejutan Anton. 


"Terus untuk transportasi dan konsumsi entar gimana?..." tanya Anton bertanya mendetail. 


"Soal itu katanya dia yang atur…" jawab Dio kemudian. 


"Wah...mantap tuh…" tanggap Anton kemudian sangat antusias. 


"Katanya sih, malam ini dia dan Ryu bakalan ke cafe Harmony gitu, buat membicarakannya secara detail lagi…" ungkap Dio kemudian. 


"Oh...gitu...yaudah...kita tungguin aja…" ucap Anton menanggapi ucapan Dio. 


"Terus si Gio mau ikut tampil gak?..." tanya Dio kemudian. 


"Nah...itu masalahnya...ini anak kayaknya gak bisa ikut deh...soalnya dia ada kerjaan lain…" jawab Anton terdengar lesu. 


"Oh...gitu ya?..." keluh Dio juga agak kecewa. 


"Jadi kita tampil tanpa drummer dong?…" keluh Dio agak khawatir.


"Sepertinya sih begitu…" Anton menjawab dengan lesu juga.


"Kalau gitu...gimana gue minta Abel buat ikut?..." usul Nita kemudian. 


Dio lalu menyalakan pengeras suara pada handphonenya agar Nita bisa bicara langsung dengan Anton. "Wah...ide bagus tuh Nit…" tanggap Anton bersemangat. 


"Kalau gitu...gue chat dia dulu ya?..." Nita kemudian mengambil handphonenya yang ada di tasnya. Dia kemudian ngechat temannya yang bernama Abel.

__ADS_1


"Suruh aja dia datang malam ini...biar kita ngejam bareng di cafe Harmony…" usul Anton kemudian. 


"Iya...ini gue sedang ngechat dia…" ucap Nita yang menunggu balasan chat dari Abel. 


"Yo…" ucap Anton pada Dio. 


"Hah...ada apa?..." tanya Dio kemudian. 


"Kita perlu bawa alat musik gak?..." tanya Anton kemudian. 


"Ryu sih bilangnya di SMA mereka peralatannya lengkap, tapi kalau kita pengen bawa alat musik sendiri juga gak apa-apa…" Dio kemudian menjelaskan apa yang dijelaskan oleh Ryu. 


"Kalau gitu gue tetap bawa gitar akustik gue deh…buat jaga-jaga…" ucap Anton berpendapat. 


"Yes…" ucap Nita bersemangat. "Kata Abel dia siap buat gabung...malam ini dia bakalan datang ke cafe Harmony bareng Kelvin…" ucap Nita menjelaskan. 


"Bagus deh kalau begitu…" tanggap Anton kemudian. "Oke...kalau gitu sampai ketemu di cafe ya bro?..." 


"Iya bro…" jawab Dio sebelum menutup teleponnya. 


Baru saja Dio ingin memasukkan handphonenya ke dalam kantong celana, tiba-tiba ada telepon masuk lagi. Dia langsung mengecek siapa yang memanggilnya. Ternyata itu adalah panggilan telepon dari mbak Dara.


"Tumben bener mbak Dara menelpon gue…" ucap Dio merasa ada sesuatu yang sangat aneh. 


"Udah...angkat aja…siapa tau penting..." saran Nita pada Dio. 


"Yo...kalian sedang dimana?..." tanya mbak Dara pada Dio. 


"Kami sedang di mobil menuju pulang…" jawab Dio merasa ada yang tidak beres dari nada bicara mbak Dara. "Ada apa mbak?..." tanyanya lagi. 


"Ini...sampai sekarang si Genta belum juga pulang ke kos…" ucap mbak Dara terdengar sangat khawatir.


"Hah!...seriusan!..." seru Dio sangat terkejut. 


"Ada apa sih Yo?..." tanya Nita penasaran. 


"Genta belum pulang ke kos…" jawab Dio pada Nita. 


"Hah?...jangan-jangan…" Nita terlihat mulai khawatir. Dia takut adiknya akan diculik oleh bos mafia itu. 


"Ky...kita ke SMA tempat Genta sekolah ya?..." pinta Dio kemudian. 


"Oke...siap Yo…" jawab Dicky lalu mempercepat mobilnya. 

__ADS_1


"Kenapa sih Yo?..." tanya Rasya yang duduk di sebelah Dicky di depan. 


"Genta belum pulang juga ke kos…" jawab Dio lalu memeluk Nita mencoba menenangkannya. 


"Ya ampun...lo yang tenang ya Nit?..." ucap Rasya juga ikut menenangkan Nita. 


"Gue takut...jangan-jangan laki-laki tua itu sudah menculik Genta…" ucap Nita sambil menangis. 


"Sekarang lo tenang dulu…" ucap Dio sambil memeluk Nita yang menangis di pundaknya. "Kita sekarang ke sekolah dulu...siapa tau Genta nungguin kita disana…" usulnya kemudian. 


Mobil mereka akhirnya sampai di depan sekolah tempat Genta bersekolah. Dengan sangat terburu-buru Nita kemudian keluar dari mobil Dicky. Dia langsung menghampiri pagar sekolah yang sudah terkunci. 


Di dalam area sekolah Dio melihat security yang berdiri. "Pak!...boleh nanya sebentar?..." panggil Dio kemudian. 


Pak security itu lalu berjalan dengan cepat ke arah Dio. Nita melihat itu langsung mendekat ke arah pagar. Dia lah yang pertama kali bertanya sebelum Dio mulai bertanya. 


"Pak...apa bapak melihat adik saya?..." tanya Nita dengan mata yang masih memerah karena sedang menangis. "Dia setinggi ini pak…" dia berusaha menggambarkan tinggi adiknya dengan pengukuran tangannya. "Tolong saya pak…kalau bapak melihatnya…" ucapnya lalu kemudian menangis. 


Melihat itu Rasya langsung memeluk Nita yang terlihat menangis. Dicky kemudian berdiri disamping Dio yang berdiri menghadapi security itu. Security itu sepertinya tidak mengenal Genta. 


"Kalau boleh tau namanya siapa?..." tanya security itu kemudian. 


"Namanya Genta pak…" jawab Nita yang bersandar di pelukan Rasya. 


"Genta...Genta…" dia seperti sedang mengingat sesuatu. "Apakah badannya sedikit berisi?..." tanyanya lagi. 


"Iya pak…" jawab Dio dengan cepat. "Apa bapak tau dia dimana?..." tanya Dio kemudian. 


"Tadi saya...melihatnya di depan pagar ini, seperti sedang menunggu seseorang…" jawab security itu berusaha mengingat. "Namun setelah saya bertugas menurunkan tangga...ternyata dia sudah tidak ada…" tambahnya lagi melengkapi jawabannya sebelumnya. "Saya pikir dia sudah pulang...atau dijemput keluarganya…" tambahnya menjelaskan. 


"Dia belum pulang kerumah, pak…" ucap Nita sambil menangis tersedu-sedu. "Genta...dimana kamu dek?..." tanyanya seakan adiknya itu bisa mendengar. 


"Tadi dia berdiri dimana pak?..." tanya Dio pada Security itu. 


Security itu terlihat merasa aneh karena Dio bertanya seperti itu. Dia kemudian membuka pintu pagarnya kemudian keluar. Dia berjalan sesaat lalu berhenti tepat di sebelah tembok pagar sekolah. 


"Tadi saya lihat dia disini…" jawabnya sambil memperagakan posisi Genta berdiri. 


"Boleh Saya berdiri disana?..." tanya Dio kemudian. 


"Lo mau ngapain sih Yo?..." tanya Dicky terlihat sangat bingung. 


"Udah...lo gak usah banyak tanya dulu deh…" jawab Dio sambil memencet jam tangannya. Dia kemudian berdiri di tempat Genta berdiri. 

__ADS_1


Tiba-tiba Dio langsung terkirim ke tempat dimana Genta menunggu mereka sebelum pulang. Dia melihat genta berlarian keluar pagar sekolah saat waktunya pulang. Dia melihat Genta seperti sedang menunggu seseorang. Dari tadi sejak dia di luar pagar, dia selalu melirik ke arah jalan yang arah mobil Dicky datang. 


Bersambung...


__ADS_2