Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 43 Bertemu Produser Rekaman


__ADS_3

Tiba-tiba masuklah seseorang berpakaian sangat rapi. Dia memakai setelan jas hitam dan celana kain berwarna sama dengan jasnya. Dia tersenyum ramah pada mereka yang berkumpul di asrama Flower Garden. 


"Ternyata kalian sudah berkumpul disini…" ucapnya pada mereka. 


"Perkenalkan nama beliau adalah pak Hartono Sadino…" ucap Mirhan memperkenalkan orang yang baru masuk itu. "Pak...mereka adalah The Line...anda pasti sudah mendengar lagu yang mereka ciptakan…"


Seluruh anggota The Line menyalami pak Hartono secara bergantian. Mereka sangat senang bisa berkenalan dengan beliau. Pak Hartono lalu duduk di salah satu sofa berhadapan langsung dengan Dio. 


"Saya sudah mendengar lagu yang kalian ciptakan…dan saya tertarik untuk mengontrak kalian untuk masuk dapur rekaman…" ucap pak Hartono pada mereka. 


"Lagu itu diciptakan oleh Dio pak...kami hanya pengiringnya…" ucap Anton menjelaskan.


"Oh...begitu ya?..." tanggapnya dengan serius. 


"Kami sangat senang bisa berjumpa dengan anda pak…" ucap Dio dengan sopan. 


"Lagu yang kau ciptakan itu liriknya sangat dalam…aku seperti merasakan perasaan sang penyanyi lagu itu…" ucapnya memuji Dio. "Apakah itu terinspirasi dari pengalaman pribadimu?..."


"Iya pak…" jawab Dio dengan singkat. 


Nita terkejut mendengar jawaban Dio atas pertanyaan pak Hartono. Sebelumnya dia mengetahuinya dari L yang menceritakannya padanya. Ternyata apa yang diceritakan L benar sekali. 


"Saya ingin lagu itu menjadi single kalian…" ucap pak Hartono terlihat bersemangat. "Apakah saya bisa bicara dengan manajer kalian?..." tanyanya kemudian. 


"Untuk saat ini kami masih belum memiliki manajer, tapi kami akan meminta seseorang untuk menjadi manajer kami...nanti saya akan menghubungi bapak untuk bertemu dengannya…" ungkap Dio dengan jujur. 

__ADS_1


"Oh...begitu ya?..." pak Hartono sedikit kecewa. "Apakah kalian ingin saya yang mencarikan manajer untuk kalian?..." tanyanya kemudian. 


"Tidak perlu pak…" jawab Anton dengan sopan. 


"Kalau begitu...ini kartu nama saya...kamu bisa menghubungi saya kalau sudah siap teken kontrak…" ucap pak Hartono sambil menyerahkan sebuah kartu nama pada Dio. 


"Malam ini saya ingin melihat penampilan kalian di atas panggung...itu untuk gambaran saya bagaimana membangun band kalian…" ucapnya dengan tersenyum ramah. "Jadi...tolong tunjukan penampilan terbaik kalian…" mendengar itu membuat seluruh anggota band The Line bersemangat.


Termasuk Dio yang menganggap ini adalah awal dari segalanya. Dia susah berusaha keras agar sampai di titik ini. Selama ini band mereka selalu diejek sebagai band cover lagu orang. Itu kadang membuat mereka sakit hati setiap membaca komentar. 


"Kami akan berusaha tidak pernah mengecewakan orang yang membayar kami…" jawab Dio dengan mantap. "Apalagi Mirhan sudah membayar kami dengan pembayaran tertinggi…"


Mirhan tersenyum mendengar ucapan dari Dio. Dia sendiri tidak terlalu memikirkan berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan. Yang dia pikirkan hanya bagaimana acara malam ini berjalan dengan sukses. Acara ini bagi Mirhan adalah kado terakhirnya untuk SMA yang akan dia tinggalkan. 


Mereka hampir tidak ada waktu untuk tidur hari ini. Dari tadi pak Hartono membicarakan banyak hal. Dia bercerita mengenai band-band dan penyanyi-penyanyi yang sukses dia angkat. Mereka tau nama-nama band dan penyanyi yang disebutkan oleh pak Hartono. 


***


Akhirnya acara konser di SMA Flower Garden dimulai juga. Penonton sudah berkumpul di depan panggung. Bukan hanya anak-anak SMA yang ada disana, tapi juga orang-orang yang sengaja ingin datang. Penonton sebenarnya sudah menunggu sejak mereka berlatih tadi siang. Dengan sabar mereka menantikan band idolanya tersebut. 


Sementara The Line saat ini sedang berkumpul di sebuah ruangan OSIS SMA Flower Garden. Mereka membicarakan mengenai hal-hal yang belum sempat mereka tambahkan untuk tampil di atas panggung. Disini mereka juga di dandani oleh Rasya untuk make up. Pakaian seperti yang dibilang Mirhan, mereka dipinjamkan pakaian dari sebuah brand yang ternama. 


Setelah mereka selesai berpakaian mereka kemudian berkumpul. Mereka membuat sebuah lingkaran di yang diikuti kru dan anak-anak OSIS. Disana juga ada Mirhan, Ryu, dan Heri yang juga bekerja keras untuk acara ini. Yang memimpin doa pada Hari ini adalah Dio. 


"Selamat malam teman-teman…" ucap Dio menunjukan jiwa leadernya. "Hari ini adalah hari untuk kita nunjukin hasil dari persiapan kita selama ini...tampilkanlah apa yang sudah kita persiapkan...dengan tulus, jujur, apa adanya, dan tanpa beban…" ucap Dio memberikan sambutan. 

__ADS_1


"Siap…" jawab anggota bandnya berbarengan. 


"Mari kita tunjukan musik dan penampilan terbaik kita, berdoa sesuai kepercayaan masing-masing…" ucap Dio memimpin Doa. 


Cukup lama mereka berdoa agar acara hari ini berjalan dengan lancar. Ini adalah pertama kalinya buat band The Line tampil secara profesional. Oleh sebab itu mereka ingin memberi kesan yang indah di penampilan pertama mereka sebagai band. 


"Aamiin…" ucap Dio kemudian menutup doa. Mereka lalu menumpuk tangan mereka untuk tos. "Demi mimpi kita!..." teriak Dio dengan keras. 


"The Line!..." teriak mereka sembari tangan dihempaskan ke bawah. 


Akhirnya mereka keluar beriringan dengan senyum yang mengembang. Mereka yakin malam ini akan menjadi malam yang tak akan mereka lupakan. Hingga mereka akhirnya satu-persatu menaiki panggung. 


Semua penonton bersorak dengan meriah melihat Dio dan yang lainnya menaiki panggung. Seperti biasanya mereka mulai ngejam santai untuk pemanasan di atas panggung. Penonton semakin bersorak melihat aksi mereka di atas panggung. 


"Selamat malam...teman-teman…" sapa Dio dengan ramah. 


"Selamat malam!..." jawab penonton dengan riuh. 


"Malam ini adalah malam yang sangat luar biasa...gue selalu bermimpi bisa tampil di hadapan penonton sebanyak ini…" ucap Dio berterus terang. 


Mirhan dan Ryu tersenyum melihat cara Dio berbicara di depan penonton. Bagi seorang penampil sangat penting untuk dekat dengan penonton. Mereka harus bisa mengambil hati penonton yang menontonnya. Itulah yang dilakukan saat ini oleh Dio. 


Hasilnya terbukti berhasil dengan baik sekali. Setelah itu penonton tambah bersemangat menikmati penampilan mereka. Bahkan tidak ada penonton yang ribut di depan panggung. Tidak ada yang berkelahi dan saling senggol. 


Akhirnya Dio kembali menyanyikam lagu yang dipinta Heri untuk dinyanyikan saat tampil l. Dengan petikan gitar dari Anton dan permainan piano dari Nita. Dio menyanyikan lagu itu dengan sangat menghayati. Semua penonton terharu melihat dan mendengarkannya. 

__ADS_1


Lampu di setting heri lebih gelap dengan cahaya putih yang hanya mengarah ke Dio. Membuat suasana menjadi lebih dapat dirasakan. Bahkan ada penonton yang meneteskan air mata. Bahkan bukan hanya lagu itu yang ditunggu-tunggu penonton. Masih banyak lagu yang lain lagi yang mereka nyanyikan. 


Brrsambung… 


__ADS_2