Mengubah Takdir Kita

Mengubah Takdir Kita
Bab. 32 Tawaran Manggung di SMA Flower Garden


__ADS_3

Tiba-tiba dia melihat sesuatu yang akan terjadi pada Nita. Dia melihat Nita yang akan terjatuh ke lantai karena sesuatu. Itu terjadi setelah dia berjalan meninggalkan Nita. 


Benar saja setelah dia meninggalkan Nita hal itu benar-benar terjadi. Nita terpeleset karena menginjak sesuatu yang licin. Dengan sigap Dio menangkapnya agar tidak terjatuh ke lantai. Nita kembali terkejut dengan apa yang Dio lakukan.


Dio menatap Nita dengan sangat perhatian. "Lain kali kalau jalan hati-hati…" ucap Dio memarahi Nita. 


Mata mereka tidak bisa membohongi semua ini. Mereka memang saling mencintai, tapi Dio berusaha menyangkalnya. Sementara Nita sendiri juga merasakan cintanya semakin dalam pada Dio, hanya saja dia terlalu kesal dengan ucapan Dio sebelumnya.


Nita kemudian tersadar dari apa yang terjadi. Dia langsung berusaha melepaskan tangkapan Dio. "Apaan sih?...gue gak butuh bantuan lo…" ucap Nita berpura-pura kesal, padahal saat itu jantungnya berdegup dengan kencang. 


"Hedeh...saling cinta, tapi masing-masing cuek…" keluh L yang melihat mereka berdua. "Sebenarnya kalau gak karena misi kami kembali ke masa ini buat nyelamatin Nita...mungkin gue bakalan mendukung mereka jadian…" ucapnya kemudian. L lalu masuk ke dalam kamarnya untuk melakukan sesuatu. 


Pagi-pagi sekali Dicky dan Rasya datang ke kos Dio. Kebetulan hari ini Dio dan Nita masuk kuliah siang, itulah sebabnya mereka masih tidak berangkat ke kampus. Begitu juga dengan Wisnu yang masih tiduran di kamarnya. 


Seperti biasa di depan rumah kos mbak Dara dibantu oleh Genta membersihkan rumah ini. Mbak Dara senang melihat Genta yang ternyata sangat baik. Dia mau membantu mbak Dara membersihkan rumah kos ini. 


Genta sudah memutuskan akan pindah sekolah. Kemungkinan besok Dicky, Rasya, dan Nita akan mengantarkan genta ke sekolah barunya. Ini dilakukan agar laki-laki tua itu tidak menjemput Genta ke sekolah yang lama. 


"Weh...rajin bener…pagi-pagi sudah bersih-bersih rumah…" puji Rasya pada Genta. 


"Harus dong...kan supaya rumahnya bersih…" jawab Genta sambil tersenyum. 


"Dia ternyata anaknya sangat rajin membantu gue…" ucap mbak Dara sambil tersenyum memegangi sapu. 


"Eh...ada Dicky dan Rasya…" ucap Nita yang baru turun dari tangga. 


"Gimana perasaan lo pertama kali menginap di kos?..." tanya Dicky dengan tersenyum ke Nita. 


"Sangat nyaman...apalagi mbak Dara memberikan kamar yang sangat besar untuk kami berdua, ditambah lagi ada kamar mandi dan WC di dalam kamarnya…" jawab Nita sambil tersenyum pada mbak Dara. 


"Sebenarnya di kos ini hanya diizinkan untuk anak kos putra, tapi karena Dio memohon pada gue tadi malam...akhirnya gue menyerahkan satu kamar yang besar buat kalian…" ucap mbak Dara menanggapi.


"Bukannya L yang meminta izin?..." tanya Nita terlihat terkejut. 


"L memang menelpon mbak, tapi Dio yang memohon pada mbak agar lo diizinkan tinggal disini, bahkan dia mau membayarkan kamar kos lo untuk beberapa bulan kedepan…" jawab mbak Dara lalu menyapu lantai. 


"Dio memang seperti itu...dia gak pernah ingin diketahui kalau dia membantu orang lain…" jawab mbak Dara menjelaskan. 

__ADS_1


"Kalian lagi ngomongin gue ya?..." tanya Dio yang tiba-tiba muncul menuruni tangga. 


"Emang lo bisa dengar kami omongin lo?..." tanya Dicky sambil tersenyum. 


Dio sebenarnya sudah tahu mereka sedang membicarakan dirinya. Dia bisa melihat apa yang terjadi sesuatu yang akan terjadi dari jam tangannya. Itu sebabnya dia bisa mengetahui pembicaraan mereka tadi. 


"Gue dipinta L buat membujuk mbak Dara agar Nita bisa tinggal disini…" Dio menjelaskan apa yang dibicarakan mbak Dara tadi. 


"Dari mana lo tau apa yang kami ngomongin tadi?..." tanya Nita sangat kebingungan. 


"Gue denger kalian ngomong apa…" jawab Dio sambil merokok. 


"Lo membuat gue takut deh Yo…" ucap Rasya bergidik. 


"Santai aja kali Sya…" Dio berusaha menenangkan. "Jadi kenapa lo datang ke kos?...bukannya kita bisa bicara di kampus aja?..." tanyanya kemudian. 


"Gue punya kerjaan buat lo pada…" ungkap Dicky sambil tersenyum. 


"Widih...kerjaan apa nih?..." tanya Nita sangat bersemangat.


"Iya...kerjaannya apa dulu?..." tanya Dio sangat penasaran. 


"Tawaran manggung lah...masa tawaran nguli…" jawab Dicky sedikit nyengir. 


"Kali aja…" jawab Dio sambil nyengir. "Manggung dimana bro?..." tanya Dio lalu menghisap rokoknya. 


"Jadi SMA tempat kami dulu sekolah, pengen mengadakan acara pentas seni, tapi mereka minta tolong ke gue buat nyariin band atau penyanyi yang bisa tampil di acara itu…" ucap Rasya menjelaskan pada Dio. 


"Oh...gitu…" ucap Nita tersenyum. "Jadi berapa mereka bakalan membayar tarif kami tampil?..." tanyanya kemudian bersemangat. 


"Pastinya kita gak bisa minta terlalu tinggi...sebab ini cuman acara sekolah Nit…" Dio menjawab pertanyaan Nita. 


"Soal bayaran, kalian gak usah khawatir…" ucap Dicky menanggapi. "Si Anak Sultan pasti mampu membayar berapapun yang kalian minta…" tambahnya lagi. 


"Bener kata Dicky...Mirhan gak pernah memberi dibawah harga standar khusus untuk siapapun yang tampil di sana…" jawab Rasya menjelaskan. Dia sangat mengetahui kemampuan Mirhan dalam membayar orang.


"Mending lo ngomong sama Mirhannya aja deh…" usul Dicky pada Dio yang sedang berpikir. 

__ADS_1


"Yaudah...lo kasih aja nomor handphone gue ke dia…" jawab Dio kemudian sambil membuang rokoknya. 


Dicky kemudian mengambil handphonenya lalu mengirimkan nomor Dio ke Mirhan. "Sudah gue kirim…" ucap Dicky kemudian. 


"Memangnya SMA kalian dulu seperti apa sih?..." tanya Nita penasaran. 


"Sebenarnya SMA nya sama aja kayak SMA lain, tapi empat orang murid ini aja yang rada aneh…" Rasya menjawab sambil tersenyum. 


"Bentar...aneh gimana sih?..." tanya Dio penasaran. 


"Lo pasti tau entar...setelah lo ketemu sama mereka…" Dicky menjawab.


Tidak lama kemudian handphone Dio berbunyi sangat kencang. Dio mengecek siapa yang sedang menghubunginya. Namun hanya nomor telepon, tidak memiliki nama. Dia khawatir itu adalah telepon dari bos mafia yang mencari Nita. 


Hingga sampai nada dering telepon itu berhenti Dio tetap tidak berani mengangkatnya. Kemudian masuklah sebuah pesan yang dikirim oleh nomor itu. Akhirnya Dio membuka isi pesan itu yang berbunyi. 


"Ini gue...Mirhan...gue dapet nomor telepon lo dari si Dicky…" itulah isi pesan itu. 


Kemudian handphone Dio berbunyi lagi dan kali ini di nomor yang berbeda dua angka belakangnya. Kali ini Dio langsung mengangkatnya. "Halo…" ucap Dio kemudian. 


"Ini nomor Dio Alfino kan?..." tanya seseorang dari sambungan telepon. Suara itu terdengar sangat bersahabat dan ramah. 


"Iya…" jawab Dio bingung. 


"Gue Mirhan...temannya Dicky dan Rasya…" jawab suara itu.


Bersambung…


Note :


Terima kasih buat teman-teman yang membaca novel ini. Aku sangat bersyukur memiliki pembaca yang sangat baik. Tetap beri aku semangat buat lanjutin ceritanya ya?...


Oh ya… 


Aku juga ingin promosikan novel teman aku yang bisa kalian cari di noveltoon juga. Novel ini juga sangat seru lho buat dibaca. Berikut judul dan cover novelnya:


__ADS_1


__ADS_2